Wednesday, March 31, 2010
Kisah Kreasi : MENGANGKAT BATA
Walaupun akoe mengalami likuiditas yang ketat, aku tetap menikmati hari-hari dengan bermain dan membantu orang tua. Bahkan akoe sendiri memiliki celengan yang dibuat dari kaleng susu yang dipaku di dinding. Isi celengan tidak bisa dibilang banyak karena sumbernya tidak jelas. Sumber celenganku terutama pemberian Amang jika beliau menerima upah bulanan. Setiap menerima gaji bulanan, Amang selalu memberi akoe dan saudara-saudaraku seratus rupiah. Selain itu, sekali-kali akoe dapat uang dari paman yang berkunjung. Pernah juga akoe dapat uang dari seorang guru SMP yang mendapat pertolongan dari keluarga kami.
Tabunganku relatif lebih banyak dibandingkan dengan kakakku perempuan. Saudara-saudaraku menjuluki akoe si pelit, karena nyaris tidak pernah membelanjakan uang bulanan dan uang pemberian keluarga seperti mereka.
Suatu hari, akoe mendapat uang sebesar dua puluh lima rupiah alias setali. Melihat akoe memiliki uang yang relatif banyak, Emak menginterogasi akoe. Emak kuatir kalau akoe melakukan tindak pidana sewaktu pulang sekolah. Untuk menghapus kekuatiran Emak, akoe menceritakan asal uang itu.
Minggu itu kelas 5 dan 3 mendapat giliran masuk siang. Giliran masuk siang ini harus dilakukan karena ruang kelas sekolah kami hanya 3 kelas. Kelas 6 diprioritaskan untuk masuk pagi karena memiliki tantangan yang lebih berat. Kelas 1 dan 2 masuk pagi masing-masing setengah hari. Jadi kelas 3 sampai kelas 5 yang bergantian gilirann setiap seminggu sekali.
Kami sudah memasuki pelajaran kedua atau sekitar pukul 14.00, tiba-tiba hari gelap dan mendung diikuti angin kencang. Waktu itu memang sedang puncak musim hujan. Bagi sekolah kami angin kencang merupakan ancaman karena tiang utama sekolah kami sudah lama retak. Sekolah kami merupakan bangunan tua dengan konstruksi kayu. Sebagian ruangan kami sudah beratap langit. Setiap hujan, kami terganggu belajar karena menghindari air. Lantainya pun banyak yang sudah tidak mengandung semen.
Memperhatikan kondisi sekolah kami, Kepala sekolah telah memberikan arahan, agar setiap kelas yang masuk siang memperhatikan ancaman angin.
Guru kami sekali-kali menatap ke arah tiang utama sembari menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia. Kelihatan bahwa konsentrasi guru terbagi dan kamipun setali tiga uang. Tiba-tiba guru kelas kami mohon waktu dan pergi ke arah kelas tiga. Sebentar kemudian, guru kami datang dan memberikan pengumuman bahwa kelas kami selesai dan semua murid agar pulang. Guru kuatir dengan situasi angin yang semakin kencang.
Meskipun guru belum selesai berbicara, sontak kami berteriak horeee kita pulang. Kami berhamburan keluar dan pulang.
Hujan rintik-rintik tidak menghalangi akoe dan Hendra, Joni dan Biner untuk pulang. Hendra adalah sobat kentalku. Joni adikku dan Binner teman sekelas Joni. Kami tinggal di area yang sama. Kami berjalan sambil memeluk tas untuk menghindari air. Walau hujan tidak lebat namun baju kami basah. Kami tetap berjalan pulang dengan senang sambil menendang air.
Dalam perjalanan itu, kami melihat sebuah truk berhenti di jalan. Kami mengamat amati truk itu. Truk itu jarang kami lihat. Akoe menduga truk itu bukan milik perkebunan dimana orang tua kami bekerja. Setelah mengamati bagian depan, kami coba naik untuk melihat isi truk itu. Truk itu berisi bata. Sementara kami sedang menaiki truk itu, tiba-tiba seorang keluar dari sebuah rumah dan menghampiri kami. Hari masih diliputi hujan rintik.
Tanpa basa basi, pria itu menawarkan kepada kami untuk menurunkan bata-bata itu dari truk. Dia akan memberikan uang bongkar demikian dia menyebut istilahnya. Sejenak kami berunding dan setuju menerima tawaran pria itu. Tanpa pikir panjang kami mulai membongkar bata itu.
Berselang satu jam lebih, bata itu telah pindah dari truk. Wah, hebat kalian puji si pria. Bata-batanya nyaris tidak pecah dan patah. Ini upah kalian sambil melemparkan uang logam lima puluhan dan dua puluh limaan. Kami menghitung jumlahnya seratus lima puluh rupiah. Kami senang dengan uang itu. Lalu kami berunding. Hendra mengusulkan untuk dibelanjakan di warung mie so di sebelah jalan. Akoe mengusulkan dibagi saja tidak usah dijajankan. Setelah berunding sesaat, kami sepakati bahwa seratus rupiah dibagi rata sedangkan lima puluh rupiah digunakan membeli mie so. Usul itu akoe terima karena tidak bisa dipungkiri disebabkan hujan dan kerja berata akoe sendiri sudah lapar.
Joni juga menceritakan enaknya mie so yang kami nikmati. Emak menggeleng-gelengkan kepala setelah kami bercerita. Emak bilang, mengapa kalian mau diberi upah sedikit? Akoe sendiri tidak tahu apakah upah kami sedikit atau banyak. Satu hal yang kami nikmati dalam membongkar bata itu adalah bermain. Kami berempat sedang bermain dalam membongkar bata itu. Kami tidak merasakan tekanan beban. Apalagi karena kami pulang lebih awal dari sekolah.
Emak kemudian bertanya, mau diapakan uang itu? Spontan akoe dan Joni menjawab “celeng”. Uang tabunganku pun bertambah dari hasil membongkar bata.
Jakarta 30 Maret 2010,
Salam perjuangan dan persaudaraan buat alumni SD No. 2 Dolok Sinumbah
Tuesday, March 30, 2010
AKU MINTA ANDA MEMATUHI, TAPI AKU SENDIRI TIDAK TAHU APA YANG HARUS ANDA PATUHI
Akoe mendengar bahwa valuta asing di jalan Kwitang cukup bagus. Akoe mencari kesempatan untuk kesana tapi tampaknya tidak punya peluang. Kemudian, dari kenalan baru aku mendapat informasi bahwa layanan penukaran uang di bank juga bagus.
Pada suatu kesempatan, akoe pergi ke salah satu bank yang dekat dengan kantor. Kali ini niat semula hanya untuk melakukan pengecekan terhadap transaksi rekeningku di bank itu. Akoe melakukan pengecekan ini hampir setiap tiga bulan, untuk mengetahui darimana uang masuk dan ke mana uang keluar rekening. Akoe bersyukur karena tidak ada transaksi yang gelap seperti yang pernah marak di media massa. Sembari melakukan pengecekan transaksi, akoe bertanya kepada customer service yang sangat ramah dan manis, apakah bank ini memiliki layanan penukaran uang. Si Manis tersebut menginformasikan bahwa mereka memiliki jasa itu dan menurutnya nilai valuta menarik. Dia menawarkan bantuannya, tapi akoe menolak.
Akoe sendiri pergi ke layanan penukaran valuta itu. Di sana akoe antri karena sudah ada dua nasabah yang sedang dilayani. Satu orang berpenampilan pesiar, akoe menduga dari negaranya Zidane. Satu lagi dari kota keturunan Tionghoa. Akoe tertarik memperhatikan si pesiar karena setelah dia menerima rupiah dari kasir, dia menghitung ulang uang tersebut. Hasilnya, dia mengajukan keberatan karena menurut hasil hitungannya uangnya kurang. Keberatan si pesiar diakui oleh kasir. Kemudian sipesiar menghitung ulang. Kali ini dia menghitung resi perkalian. Lagi-lagi dia keberatan karena menurutnya uangnya kurang. Si kasir menghitung lagi dan benar si pesiar dibayar kurang sebesar duapuluh ribu. Sambil menunggu pembayaran, si pesiar menunjukkan gerakan yang tidak jelas maksudnya, tapi salah satu gerakannya adalah menirukan tanggannya seolah pistol dan meletakkannya di dahi. Menurut saya, dia marah atas keteledoran kasir tersebut.
Giliran si orang kota, relatif lancar karena transaksinya bersifat pemindah bukuan. Aku bertanya, mengapa ada pemindah bukuan padahal jelas di situ bahwa layanan itu bukan bank melainkan Penukaran Uang.
Setelah keduanya selesai, kini gilirankoe. Akoe mengutarakan niatku untuk menukar uang asing. Mereka memiliki valuta singapura dan menginformasikan kurs jualnya. Kami setuju.
Sebelum transaksi, saya mengisi formulir layaknya bank dan menandatangani. Bagiku hal ini tidak masalah karena merupakan bukti transaksi. Namun selain itu akoe diminta menanda tangani surat pernyataan. Nah disinilah keanehan terjadi.
Ketika surat pernyataan disampaikan, saya bertanya, ibu di dalam surat ini menjelaskan bahwa saya sudah memahami ketentuan yang dibuat oleh bank sentral tahun 2002. Bolehkah saya tahu tentang apa ketentuan dimaksud? Atau apakah saya boleh membaca ketentuan itu sebelum menandatangani formulir ini?
Kasir tersebut menjawab bahwa dia sendiri tidak tahu ketentuan itu. Mereka juga tidak memiliki ketentuan itu sehingga tidak mungkin menginformasikan kepada nasabah.
Lalu kembali saya konfirmasi, bagaimana saya diminta untuk mengetahui ketentuan ini sementara saya belum membaca? Apakah hal seperti ini yang terjadi dengan kasus Antaboga?
Kami hanya melaksanakan aturan dari perusahaan, jawab si kasir.
Akoe akhirnya menandatangani surat pernyataan itu dengan niat akan membacanya nanti di kantor.
Nah, akoe mencoba mengingat ketentuan yang disebutkan sambil mencari di internet. Ada ketentuan yang terkait dengan valuta asing yang terbit tahun 2002, tapi akoe lagi-lagi heran karena sudah ada ketentuan yang menggantinya.
Mengapa hal demikian bisa terjadi?
Wednesday, March 24, 2010
Kisah Kreasi : TUTUP BOTOL




Tutup botol ialah benda kecil yang sering menjadi sampah. Minuman botol seperti teh, bir tidak asing dengan tutup botol. Entah berapa banyak tutup botol yang berserakan setiap hari.
Bayangkan saja, di desa saya yang tidak memiliki kehidupan malam, juga relatif mudah mencari tutup botol. Apalagi botol kecap.
Aku teringat masa sekolah SMP. Sekolah saya menetapkan bahwa setiap siswa harus memiliki peralatan gambar seperti cat air, kuas dan tempat air. Apabila siswa tidak memiliki salah satu dari peralatan tersebut, tidak disertakan ujian kenaikan kelas.
Peraturan ini dikeluarkan menjelang ujian akhir semester yang notabene ujian yang menentukan kenaikan kelas. Karena relatif baru, saya dan teman sekelas nyaris tidak memperhatikan aturan tersebut. Saya sendiri sedang berjuang untuk bisa naik kelas 3.
Ujian menggambar dijadwal pada akhir pekan.
Saya sendiri sudah lama tidak memiliki peralatan menggambar. Tapi saya tidak terlalu kuatir dengan aturan tersebut karena saya berencana meminjam peralatan kakak kelas seperti semester sebelumnya. Ide itu terbersit sebelum jadwal ujian diterbitkan. Kakak kelas menginformasikan bahwa tidak perlu takut dengan aturan itu, karena itu sifatnya himbauan. Agak lega juga hati kalau betul itu sekedar himbauan. Saya pun lebih fokus mempersiapkan materi ujian pelajaran lainnya.
Pada saat jadwal ujian diterbitkan, jadwal ujian menggambar masih seperti semester sebelumnya di akhir pekan, namun bedanya semester ini kelas 1 sampai kelas 3 ujian menggambar jatuh pada waktu dan hari yang sama.
Aku mulai gelisah karena rencana untuk meminjam peralatan menggambar mustahil dilaksanakan. Untuk membeli peralatan itu juga mustahil karena aku tidak memiliki uang sepeserpun. Meminta kepada orang tua bukan belum waktunya karena upah sebagai karyawan perkebunan kurang dari cukup untuk kebutuhan pokok kami 7 bersaudara. Belum lagi jarak dari desa ke kota kecamatan yang relatif jauh, memerlukan waktu 3jam naik kereta angin.
Mengingat pelajaran matematika muncul di depan, aku lebih prioritaskan untuk belajar matematika dari pada memikirkan peralatan menggambar. Aku takut nilai matematikaku kali ini ketinggalan jauh dari Thomas dan Titis yang merupakan jawara selama ini.
Dua hari menjelang ujian menggambar, aku mulai terpengaruh dengan belum adanya peralatan menggambar. Untungnya, mata pelajaran dua hari terakhir tidak sulit bagiku sehingga kekuatiranku tidak mengganggu untuk bertahan pada nilai di atas delapan.
Ketika istirahat, saya bergabung dengan kelompok kakak kelas yang sedang bersenda gurau mengenai soal-soal ujian yang sudah dihadapi. Diantara mereka ada Bona, Tonnis, Jonggur, Christoni. Dari teman kelas dua ada Johnson, Evraim, Horas.
Dalam obrolan itu, dibahas juga aturan peralatan menggambar. Dalam kelompok itu, hanya saya yang belum punya peralatan gambar. Bona mengusulkan agar aku meminjam kepada "Ratna". Dia tahu bahwa Ratna baru beli peralatan gambar yang baru, sedangkan yang lama masih cukup untuk dipakai.
Ketika akan pulang, aku menunggu kelas Ratna adik kelas saya. Sembari berjalan pulang, aku mengutarakan niatku meminjam peralatan gambarnya. Ratna setuju, dan aku ikut ke rumahnya untuk mengambil peralatan tersebut. Aku cukup gembira karena tidak lagi memikirkan peralatan menggambar.
Ratna memberikan satu kuas dan satu kotak cat air. Lalu aku bertanya, tempat airnya mana? Ratna memberitahu bahwa tempat air yang lama tetap dipakai karena dia hanya memiliki satu.
Sambil pulang aku kembali berfikir, bagaimana memenuhi syarat untuk bisa ikut ujian menggambar besok.
Di tengah perjalanan, kakiku tidak sengaja bersentuhan dengan kaleng yang terpelanting ke depanku. Selangkah aku tidak menggubris benda itu. Seketika aku melihat, aku memungut dan mengamati. Jantungku berdetak lebih keras manakala imajinasiku berbicara lembut, benda ini yang menjadi penolong. Refleks juga otakku mengingat bahwa di belakang rumahku ada banyak benda sejenis yang merupakan mainan adikku Eva. Tutup botol.
Sambil menggenggam tutup botol aku mempercepat langkahku ke rumah.
Setiba di rumah, aku menuju belakang dan melihat kantong kresek berisi puluhan tutup botol masih diam di tempat. Aku meraba-raba sambil menerawang, apa yang aku lakukan dengan tutup botol ini.
Di sebelah kantong itu ada selembar triplek ukuran kertas. Naluriku menggerakkan tangan untuk menyentuk triplek. Intuisi berbicara triplek juga menjadi penolong.
Aku membawa benda-benda itu ke dapur, lalu aku merenung.
Aha, aku dapat ide lagi. Aku ambil gergaji besi dan penggaris serta pensil.
Aku mengukur lebar triplek dan mencoba beberapa tutup limun di atas triplek. Aku mendapat pola menyusun tutup limun melingkar seperti tempat air menggambar. Tapi di tengah lingkaran itu, perlu ada bejana yang lebih besar dari tutup limun sebagai tempat air pembersih kuas.
Di rak piring aku melihat ada mangkuk kecil dari aluminium. Aku minta izin kepada ibu untuk menggunakannya tanpa penjelasan tujuannya.
Aku kembali kepada benda-benda kreasi, dan menempatkan mangkuk di tengah lingkaran tutup limun. Nah, sudah jadi.
Aku mencari sisa lem kayu Ayah. Aku panasi dan aku meneteskan lem secukupnya pada bagian belakang masing-masing wadah. Hup, aku merekatkan tutup limun dan mangkuk pada triplek. Setelah kuamati, aku memotong tepi triplek menjadi bentuk segi enam.
aku puas dan bangga atas hasil kreasiku. Besok aku bisa ikut ujian.
Keesokan hari, aku membawa peralatan menggambar dalam kantong kresek. Aku sedikit malu dengan peralatanku. Selain barang pinjaman, terutama karena ada "benda aneh"
Sebelum masuk ruang ujian, guru pengawas meminta kami baru dan menyiapkan peralatan masing-masing untuk di periksa. Satu persatu kami diperiksa. Aku memiliki barisan terakhir karena malu.
Pada saat giliranku, guru bertanya, Bert, mana alat menggambarmu? Dengan sedikit ragu aku menunjukkan cat air, kuas pinjaman dan tempat air kreasi.
Sang guru kaget sambil melancarkan pujian, oh bagus juga tempat airmu ya. Idemu cukup cemerlang.
Aku masuk dan tidak sungkan lagi mengangkat tempat air menggambar. Untung ada tutup botol.
Jakarta, 24 Maret 2010
Untuk rekans alumni SMP Yaputra Dolok Sinumbah
Thursday, March 11, 2010
TATA IBADAH NATAL 2009
TATA IBADAH NATAL
IKATAN PEGAWAI BANK INDONESIA DAN PERKUMPULAN
PENSIUNAN BANK INDONESIA
Sabtu, 19 Desember 2009
I PERSIAPAN
Pujian (Instrumentalia)
Saat Teduh : – Agustina Marbun Tambunan)
“ Mula Pertama”
II AJAKAN BERIBADAH:
Jemaat Menyanyikan (Jemaat Berdiri)
Hai Berhimpun dan Bersuka RiaTurutlah Semua Ke BetlehemMarilah Pandang Tuhan Bala Sorga Reff :
Sembah dan Puji DiaSembah dan Puji DiaSembah dan Puji Di-aYang Ra–ja Perjanjian Allah Sudah DisampaikanKasihnya Nyata Di DuniaNyanyi Bersorak dan Bersuka Ria
III VOTUM, SALAM dan DOA (oleh Pdt. Elly Soeparno)
Pendeta: Ibadah dan Perayaan Natal ini didasarkan dalam nama ALLAH BAPA,
ALLAH ANAK yaitu YESUS KRISTUS dan ALLAH ROH KUDUS
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus
Menyertai kamu
Jemaat : Amin
Pendeta: Marilah kita berdoa.
PADUAN SUARA – PIKBI ”God and God Alone”
IV Narasi Natal
Liturgos
Pria:
Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Liturgios
Wanita
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Liturgos
Pria
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Liturgios
Wanita
Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
Liturgos
Pria/Wanita
TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
Jemaat Menyanyikan “Hai Dunia Gembiralah” (Jemaat Berdiri)
Hai dunia, gembiralah. Dan sambut Rajamu,
Di hatimu terimalah!
Bersama bersyukur, bersama bersyukur,
Bersama-sama bersyukur!
Dialah Raja semesta. Benar dan mulia,
Masyurkanlah, hai dunia,
Besar anug’rahNya, besar anug’rahNya,
Besar, besar anug’rahNya
(Jemaat duduk kembali)
PADUAN SUARA – IPEBI ”Come to the Bethlehem and See”
V. PENYALAAN LILIN (Diiringi musik)
Penyalaan Lilin Oleh :
1. Pendeta : Pdt. Elly Soeparno
2. Pastor : Pastur Paulinus Simbolon
3. Ketua Bidang kerohanian Kristen IPEBI : Ibu Rosalia Suci
4. Mewakili PPBI : Bpk Adrianus Mooy
5. Ketua Panitia Natal IPEBI 2009 : Bpk. Iskandar Simorangkir
Menyanyikan ”Malam Kudus” (Jemaat berdiri)
PS IPEBI
Silent night, holy night. All is calm, all is brightRound you virgin mother and child. Holy Infant so tender and mildSleep in heavenly peace. Sleep in heavenly peace
PS + Jemaat
Rob Saranden, rob Kanggunes Maki syo kakares
Ro padwar ya serf au manseren
Yabe nadi be au manseren
Yaban Kasumas, Yaban Kasumasa
Jemaat
Malam kudus, sunyi senyap. Kurnia dan berkat
Tercermin bagi kami terus. Di wajah-Mu, ya Anak kudus,
Cinta kasih kekal, cinta kasih kekal.
(Jemaat duduk kembali)
VI. PELAYANAN FIRMAN TUHAN (oleh Pastur Paulinus Simbolon) (Jemaat duduk)
Persiapan Hati (Solo: “ Lords Prayer“ Agustina Marbun - Tambunan)
Doa
Pembacaan Alkitab
K h o t b a h
PADUAN SUARA ST PETER : “O Holy Night”
VII. PERSEMBAHAN SYUKUR
Bawalah persembahanmu nanti, ke altar yang suciSemoga Allah Bapa berkenan, mengambil tanda cintamuBawalah hati indah berseri, ke altar yang suciSemoga Allah Bapa berkenan, mengambil bunga hatimu
Lenyaplah kesan hampa gulana, semarak kini medan berbaktiBerhiaskan niat warna-warni, Bagaikan kembang mekar berseri
Bawalah senandung pasrah diri, ke altar yang suciSemoga Allah Bapa berkenan, mengambil bakti dirimu
VIII. DOA PERSEMBAHAN/SYAFAAT/BERKAT (oleh Pdt. Elly Soeparno) (Jemaat berdiri)
Doa Persembahan, Doa Syafaat
Berkat
Pendeta
Pulanglah dengan Damai Sejahtera, dan terimalah berkat dari Tuhan:
Allah sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil Saudara dalam Kristus
kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan
mengokohkan Saudara sekalian. Dialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya.
Jemaat : Amin.
Perayaan
1. Pujian Solo oleh Sari Simorangkir
2. Pujian PS IPEBI ("Season of the Heart", DAMAI SEJAHTERA )
3. Sambutan Ketua Panitia Natal BI, Bpk.Iskandar Simorangkir
4. Sambutan Ketua Umum IPEBI Bp. Dian Ediana Rae
5. Pujian PS PIKBI
"Celebrate the Gift"
6. Sambutan Ketua PPBI
7. Penyerahan Bingkisan kepada Panti Asuhan + Multimedia Sosial
8. Sambutan Pjs Gubernur Bank Indonesia
9. Pujian PS St Peter
POKOK DOA UNTUK BANGSA INDONESIA
2. PRESIDEN SBY DAN WAPRES BOEDIONO, SELAKU PIMPINAN NASIONAL UNTUK MEMBAWA BANGSA INI BERPADANAN DENGAN RENCANA TUHAN YESUS.
3. PERSOALAN YANG ADA TIDAK MENIMBULKAN AKSI-AKSI YANG KONTRAPRODUKTIF TERHADAP PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
4. KOORDINASI DAN KERJASAMA YANG EFEKTIF DAN EFISIAN DIANTARA LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA
5. KEAMANAN BANGSA DAN NEGARA DILINDUNGI TUHAN DARI KELOMPOK TERORIS
6. KERJASAMA BILATERAL DAN MULTILATERAL DENGAN BANGSA-BANGSA AGAR SEMAKIN HARMONIS DAN BERDAMPAK PADA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
7. ANCAMAN NARKOBA TERHADAP GENERASI MUDA
8. PEMBAKARAN GEREJA DAN RUMAH IBADAH YANG SEMAKIN MARAK AGAR TUHAN CAMPUR TANGAN MELALUI PIMPINAN NEGARA
9. SEMUA UNSUR MASYARAKAT MENINGKATKAN SIKAP HIDUP SALING MENGHARGAI DI TENGAH PERBEDAAN BAIK SUKU, AGAMA DAN RAS.
10. PARA MAHASISWA DIKUDUSKAN DAN DIBERIKAN HIKMAT. MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENJADI PEMIMPIN BANGSA PADA MASA DEPAN. MAHASISWA BELAJAR UNTUK TUNDUK PADA OTORITAS TUHAN, OTORITAS KONSTITUSI, OTORITAS RAKYAT DAN TIDAK MENONJOLKAN EMOSI DAN SIKAP ANARKIS.
11. PEMUDA-PEMUDI GEREJA BERPACU UNTUK MEREBUT KEPEMIMPINAN DALAM ELEMEN BANGSA DENGAN TELADAN TUHAN YESUS.
12. PEMBERANTASAN KORUPSI AGAR LEBIH KONKRIT DAN MENYENTUH PADA TATARAN MENDASAR SEPERTIH HAL-HAL KECIL ; GRATIFIKASI DIMULAI DI TINGKAT SEKOLAH-SEKOLAH; RT-RW; KELURAHAN; POLISI;
POKOK DOA PPBI
1. DALAM MASA PARIPURNA TETAP DIPELIHARA TUHAN
2. KESEHATAN DIANUGERAHKAN TUHAN
3. PPBI YANG KRISTIANI SEMAKIN MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN
4. MENDUKUNG PELAYANAN BAIK DI GEREJA MAUPUN PERSEKUTUAN
5. MENJADI TELADAN DAN BERKAT BAGI ANAK DAN CUCU
POKOK DOA UNTUK BANK INDONESIA
1. BANK INDONESIA MELAKUKAN TUGAS POKOK SESUAI UNDANG-UNDANG
2. PEMILIHAN GUBERNUR BANK INDONESIA
3. PEMILIHAN DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA
4. PERSOALAN BANK CENTURY DAN PERSOALAN PEMILIHAN DEPUTI GUBERNUR MASA LALU YANG SEMAKIN MEMPERBURUK CITRA BANK INDONESIA
5. RENCANA PEMBENTUKAN OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DIMANA TUGAS PENGAWASAN BANK YANG SELAMA INI MENJADI WEWENANG BI AKAN DIALIHKAN KE OJK TERSEBUT.
6. DAMPAK PEMBENTUKAN OJK TERHADAP STATUS PEGAWAI SAAT INI
7. PEGAWAI KRISTIANI BI AGAR DIPAKAI TUHAN MENJAWAB PERSOALAN DAN TANTANGAN YANG SEDANG MENERPA BI
8. TUHAN MEMBERIKAN KESEMPATAN KEPADA PEGAWAI KRISTIANI ATAU DARI LUAR BI YANG KRISTEN MENJADI GUBERNUR ATAU DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA.
9. KEBERADAAN BI SEMAKIN DINIKMATI DAN MENJADI BERKAT BAGI SELURUH LAPISAN MASYARAKAT