Thursday, February 04, 2010
MORNING FELLOWSHIP WITH MY SONs W1 FEB 10
2 Feb - " I KNOW THERE ARE MANY PROBLEMS, MANY DANGERS, MANY ENEMIES IN THIS LIFE BUT I STILL OBEYED AND BELIEVED IN JESUS MY LORD"
3 Feb - " I AM WEAK, BUT MY LORD POWERFUL; I BELIEVED MY WEAKNESS WILL BE FULFILL WITH THE GREATEST POWER OF JESUS
4 Feb - "I will go on to VISION AND REVELATION of my LORD"
MORNING FELLOWSHIP WITH MY SONs JAN 10
27 Jan - "OH LORD PROTECTED US OF FALSE AND DECEITFUL WORKMAN"
28 Jan - "WE LOWEST OUR LIFE IN JESUS CHRIST, WE BECOME WISE WE BOAST OUR LIFE, WE BECOME FOOL"
29 Jan - Inspirasi pagi : BIJAKSANA- sabar jika diperhamba; sabar jika dihina; sabar jika dikuasai; sabar jika direndahkan ; sabar jika ditampar.
30 Jan - Inspirasi pagi: Kita selalu kagum pada mahakarya seseorang, tapi ironisnya kita tidak selalu bersedia belajar dari sang maestro.
31 Jan - Inspirasi Malam : "SIKSAAN YANG PALING MENGERIKAN ADALAH MEMILIKI KEINGINAN YANG BESAR TETAPI TIDAK MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK MEMENUHINYA"
sumber 2 Corinth 11
Monday, December 28, 2009
Busway dan Umpatan
Harapan saya terkabul adanya. Saya masuk halte pertanian dan membeli tiket. Selang beberapa menit saya sudah berada dalam busway meluncur ke arah dukuh atas. Posisi di dalam busway berdiri tapi tidak penuh sesak seperti sebelumnya kalau sekali kali saya memilih transportasi ini. Jalur busway lumayan lancar sehingg waktu tempuh relatif singkat. Hemat saya kelancaran ini karena motor sebagai komplemen pengguna transjakarta relatif berkuang.
Tiba di halte Bank Indonesia, aku turun dan menyusuri tangga untuk keluar dari wilayah busway.
Pada waktu berada di jembatan penyebarangan, saya kaget melihar dan mendengar seorang ibu yang sedang mengumpat orang yang lewat.
sayup terdengar," ya allah, orang kantor pelit amat, tidak memberi amal".
saya tidak berkomentar kepada keluhan ibu itu. Namun sambil melangkah, pikiranku reflek memberi reaksi.
Apakah orang kantor memang pelit? Apakah ibu itu harus mengumpat, sementara dia memposisikan diri untuk dikasihani?
apakah belas kasihan yang kadang-kadang diterjemahkan sebagai amal adalah perbuatan yang memberi selembar ribuan kepada mereka yang ada di jalanan?
Siapa yang memutuskan mereka untuk berkeliaran di jalanan? Siapa yang memilih posisi mereka di atas jembatan dan bukan di atas lahan?
Apakah memang mereka juga sudah terjebak dengan instant mindset, dimana seseorang memberikan mereka sekeping logam limaratus selisih tiket busway merupakah bentuk amal?
Saturday, October 03, 2009
PARADOKS BENCANA
Jerit histeris dan kepanikan kembali mewarnai anak manusia di bumi Minangkabau khususnya Padang dan Paris (Pariaman Sekitarnya). Gelombang getar berkekuatan 7,6 SR penghujung September 2009 membungkam semarak pesta dan melahirkan isak tangis.
Hotel ambruk, perkantoran bertekuk, toko-toko sujud, rumah-rumah berserakan dan jiwa melayang dan jasad bertindihan. Dada penuh sesak, bibir tak juga mampu berucap. Airmata satu-satunya alur mencurahkan kepedihan dan kesesakan.
Media bergema meneriakkan gempa dan bencana ke seantero nusantara bahkan ke seluruh belahan dunia. Dalam sekejab, semua mata memandang sambil mengalirkan air. Kantong dibuka menadahkan belas kasihan. Dompet dibuka memberikan sumbangan tanda empati. Pasukan digiring menyisihkan puing-puing. Relawan berbondong-bondong mengulurkan tangan. Amerika, Jepang, Eropa berdatangan, semua mendemonstarikan kemanusiaan.
Sekali lagi, muncul pertanyaan : Apakah kedamaian tidak bisa melahirkan kasih sayang? Mengapa ketika ada bencana dan tangisan baru muncul kata kemanusiaan? Mengapa dikala semua memiliki kesempatan yang sama untuk bereksistensi sebagai manusia justeru kasih kemanusiaan dikubur dalam-dalam? Apakah hanya ketika bencana terjadi maka penonjolan suku, ras, agama, antar kelompok, negara berhasil dipadamkan?
Tapi tunggu dulu, jangan terlanjur tersanjung. Lihat kerumunan orang di Bandara Soekarno Hatta. Mereka berjuang untuk mendapatkan sehelai kertas tanda terbang. Kalau banyaknya kerumunan tidak menjadi keheranan karena itu biasa apalagi belum sebulan berlalu lebaran. Tapi perjuangan mereka lebih dikonsentrasikan untuk mencukupi anggaran pengadaan tiket. Bayangkan, kalau untuk lebaran yang setiap tahun dilakukan harga tiket paling mahal dua kali harga normal. Kalau normal tiket ke Bandara Minangkabau memerlukan dua ikat uang duaribuan. Dalam keadaan lebaran harga tiket menjadi empat ikat. Namun, ampun TUHAN, baru kali ini kejadian, harga tiket memerlukan 20 ikat.
Lebih tidak masuk akal lagi, sampai di Padang, diperlukan sepuluh ribu untuk membeli satu liter bensin. Itupun belum tentu dapat jatah.
Pertanyaan lagi...Apakah betul ada pemimpin di masa kini? Apakah pemimpin sudah diganti dengan penguasa saja?
Apakah diperlukan bencana lagi untuk memakmurkan negeri ini melalui peningkatan PDB lewat harga-harga yang naik seperti badai?
Ampun TUHAN jangan tambahkan kejahatan ini di atas timbunan jasad dan puing-puing yang berserakan.
Monday, September 07, 2009
KEJUJURAN
Namun pembuktian diri dengan cara alibi belum cukup. Kuantifikasi proses pembuktian tersebut relatif menyesatkan karena seolah-olah hidup manusia ditentukan oleh angka-angka. Paradok dari kegiatan pembuktian adalah mudahnya mengatur angka-angka sesuai pesanan.
Pembuktian tersebut hanya bisa dilakukan untuk membuktikan kejujuran seseorang kepada orang lain.
Oleh karena itu, ada dua lagi cara untuk mengukur kejujuran seseorang yakni persidangan kepada Tuhan dan evaluasi kepada diri sendiri.
Proses kedua dan ketiga hampir sama, yaitu seseorang mau mengakui dirinya di hadapan Tuhannya dan dihadapan dirinya sendiri. Pengakuan ini dapat dilakukan bersamaan kepada Tuhan dan diri sendiri, atau dapat juga dipisahkan.
Pengukuran dengan pengakuan diri yang juga sering disebut dengan refleksi diri dianggap lebih valid dari cara pertama.
Untuk mengukur kejujuran seseorang harus meliputi 3 indikator utama yaitu jujur kepada Tuhaan, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain.
Proses yang dilakukan sangat menentukan hasil atau kesimpulan dari tingkat kejujuran seseorang.
Apakah Anda sudah jujur total?
Monday, August 31, 2009
Sebutan Gubernur Bank Sentral
Apabila dilihat sepintas, sebutan tersebut biasa alias ttidak ada masalah. Namun, perlu dikaji lagi.
Sejatinya pimpinan bank indonesia adalah dewan gubernur. Jadi dewan gubernur seharusnya kumpulan dari beberapa gubernur sebagai anggota. Faktanya anggota dewan disebut deputy., kalau mempertahankan istilah deputi tentu mereka harus dipimpin ketua.
Solusi masalah ada pada sebutan gubernur yang tidak mencantumkan kata ketua. Seandainya disebut Ketua Gubernur akan leih menggambarkan fungsi dan kewenangannya. Keputusan gubernur tidak bisa lebih kuat karena keputusan tertinggi ada pada Peraturan Dewan Gubernur sebagai hasil dari Rapat Dewan Gubernur bukan Rapat Deputi Gubernur.
Monday, July 20, 2009
LISTRIK DAN VISI KABUPATEN ROKAN HULU
Pertengahan Juli 2009, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau. Keinginan untuk berkunjung sudah lama terpendam bahkan sudah hampir 10 tahun. Hambatan utama selama ini adalah transportasi. Prasarana jalan darat yang tersedia relatif buruk. Waktu tempuh yang dibutuhkan tidak kurang dari enam jam. Bayangkan untuk kalau di Jawa, waktu tempuh selama itu sudah menghubungkan ujung Barat sampai ujung Timur. Ironis memang.
Perjalanan ke Pasir kali ini saya tempuh karena sarana jalan darat sudah diperbaiki. Hal itu bukan hanya promosi, tapi fakta yang patut diacungkan jempol. Perbaikan jalan tersebut memotong waktu tempuh menjadi empat jam bahkan kalau agak ngebut waktu tempuh bisa kurang dari empat jam. Katanya, perbaikan jalan merupakan konsekuensi dari pemekaran daerah yang menjadi Rokan Hulu sebagai Kabupaten dengan pusat pemerintah di Pasir Pangaraian.
Informasi mengenai Kabupaten baru ini relatif terbatas. Sebelum berangkat ke Rohul sebutan yang lebih populer, saya mencari informasi tentang Rohul melalui dunia maya. Tak disangka, informasi Rohul sangat terbatas, yang mengundang tanda tanya.
Pada suatu pagi, aku menikmati sarapan pagi di warung yang menyediakan lontong dan pecal serta nasi goreng. Semula niat untuk memesan lontong. Namun, "ete" yang melayani menginformasikan bahwa hari tertentu lontong tidak tersedia. Pagi ini hanya ada nasi goreng. Tanpa pikir dua kali aku memesan nasi goreng.
Menunggu datangnya pesanan, saya melihat informasi di warung itu. Aku tertarik mengamati sebuah tanggalan yang mencerminkan informasi Rohul. Dari halaman kalender itu, saya mengetahui bahwa Rohul memiliki visi dan misi antara lain Menjadi Kabupaten Teladan 2018. Aku kaget karena tidak percaya. Keheranan saya spontan muncul karena kata teladan dan 2018. Sekarang 2009 kurang setengah tahun. Berarti sisa waktu tersedia untuk mencapai visi dan misi itu tinggal kurang dari sembilan tahun. Apakah sasaran itu tidak kelewat percaya diri atau sekedar jualan politik saja?
Menjadi teladan bukan berarti harus memiliki waktu berpuluh-puluh tahun. Namun menjadi Kabupaten teladan juga tidak bisa menuangkan rencana dalam kertas dan jadilah sesuai dengan perkataan (power of speech). Mari kita lihat masalah yang membentang.
Suatu pagi, saya diberitahu teman bahwa dia telah mendapat sebuah bangunan untuk dijadikan tempat usaha. Hal yang paling sulit didapat untuk usaha itu adalah listrik. Di Pasir, dia menuturkan, sangat lazim orang menjadikan meteran listrik sebagai agunan. Nilainya cukup lumayan, puluhan juta rupiah. Saya semula kurang percaya, tapi dengan fakta dan bukti yang dipaparkan saya percaya sambil heran. Seumur hidup, saya baru pertama kali mendengar fasilitas umum sebagai jaminan. Apakah ini yang disebut lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya?
Selama saya berkeliling di daerah Rohul, memang mata memandang setiap usaha apakah toko kebutuhan rumah tangga atau rumah makan, selalu memiliki generator sendiri. Ini mengindikasikan bahwa cerita teman saya itu benar adanya. Listrik tidak mudah diperoleh di Rohul. Anehnya, penerangan jalan umum relatif bagus.
Keanehan lain adalah belum tersedianya prasarana air minum. Hal ini menyebabkan setiap rumah dan atau toko, selalu memiliki sumur sendiri. Sudahlah pasti, bahwa kelancaran sumur tergantung pada listrik. Oleh karena listrik terbatas,maka bak-bak mandi diisi dengan tenaga alami alias ditimba.
Listrik dan air, merupakan benda keramat dalam memajukan kehidupan. Pada masa modern ini, tidak ada satu kelompok masyarakat di belahan bumi manapun yang dapat mencapai kemajuan yang pesat tanpa dukungan lisrik dan air. Tanpa listrik mustahil bagi para pelajar meraih prestasi yang baik. Bagaimana tidak, belajar di kelas memerlukan listrik. Apalagi untuk mendukung pelaksanaan praktikum. Demikian juga halnya di rumah, anak-anak memerlukan waktu belajar untuk mendalami materi pelajarannya. Kalau listrik tidak tersedia, mustahil bagi para anak didik bisa belajar di rumah pada malam hari.
Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, dipastikan bahwa prestasi pelajar dari Rokan akan menurun bahkan jauh ketinggalan dari dunia luar. Hidup tanpa listrik ibarat hidup dalam sebuah isolasi peradaban. Dampak signifikan kelangkaan listrik juga berimbas pada sektor ekonomi, politik, keamanan dan kebudayaan. Jadi tanpa listrik mustahil daerah bisa mewujudkan visi dan misi.
Barangkali visi dan misi yang harus diutamakan adalah menjadikan Rohul sebagai Kabupaten yang hemat energi tapi bukan tanpa energi. Pemda Rohul menyediakan listrik dan air yang memadai untuk mengembangkan usaha dan masyarakat dengan pegawasan agar penggunaan sesuai peruntukan. Selain itu, visi dan misi yang perlu dikembangkan adalah menjadi kota hijau alias green city.
Sebagai daerah yang baru, menjadi green area, relatif lebih mudah. Konsep tata kota tidak meniru kota lain yang selalu dipenuhi gedung bertingkat dan mall. Hendaknya pembangunan kota tidak disamakan dengan membangun mall atau gedung tinggi. Meskipun mewujudkan sebuah green area, namun kembali kepada kebutuhan mendasar listrik dan air harus didahulukan. Dalam membangun green city sekalipun, listrik dan air menjadi kebutuhan utama.
Jadi apapun visi dan misi yang akan dicapai, penuhi dulu saranan vital seperti listrik, air dan jalan.