Saturday, October 03, 2009
PARADOKS BENCANA
Jerit histeris dan kepanikan kembali mewarnai anak manusia di bumi Minangkabau khususnya Padang dan Paris (Pariaman Sekitarnya). Gelombang getar berkekuatan 7,6 SR penghujung September 2009 membungkam semarak pesta dan melahirkan isak tangis.
Hotel ambruk, perkantoran bertekuk, toko-toko sujud, rumah-rumah berserakan dan jiwa melayang dan jasad bertindihan. Dada penuh sesak, bibir tak juga mampu berucap. Airmata satu-satunya alur mencurahkan kepedihan dan kesesakan.
Media bergema meneriakkan gempa dan bencana ke seantero nusantara bahkan ke seluruh belahan dunia. Dalam sekejab, semua mata memandang sambil mengalirkan air. Kantong dibuka menadahkan belas kasihan. Dompet dibuka memberikan sumbangan tanda empati. Pasukan digiring menyisihkan puing-puing. Relawan berbondong-bondong mengulurkan tangan. Amerika, Jepang, Eropa berdatangan, semua mendemonstarikan kemanusiaan.
Sekali lagi, muncul pertanyaan : Apakah kedamaian tidak bisa melahirkan kasih sayang? Mengapa ketika ada bencana dan tangisan baru muncul kata kemanusiaan? Mengapa dikala semua memiliki kesempatan yang sama untuk bereksistensi sebagai manusia justeru kasih kemanusiaan dikubur dalam-dalam? Apakah hanya ketika bencana terjadi maka penonjolan suku, ras, agama, antar kelompok, negara berhasil dipadamkan?
Tapi tunggu dulu, jangan terlanjur tersanjung. Lihat kerumunan orang di Bandara Soekarno Hatta. Mereka berjuang untuk mendapatkan sehelai kertas tanda terbang. Kalau banyaknya kerumunan tidak menjadi keheranan karena itu biasa apalagi belum sebulan berlalu lebaran. Tapi perjuangan mereka lebih dikonsentrasikan untuk mencukupi anggaran pengadaan tiket. Bayangkan, kalau untuk lebaran yang setiap tahun dilakukan harga tiket paling mahal dua kali harga normal. Kalau normal tiket ke Bandara Minangkabau memerlukan dua ikat uang duaribuan. Dalam keadaan lebaran harga tiket menjadi empat ikat. Namun, ampun TUHAN, baru kali ini kejadian, harga tiket memerlukan 20 ikat.
Lebih tidak masuk akal lagi, sampai di Padang, diperlukan sepuluh ribu untuk membeli satu liter bensin. Itupun belum tentu dapat jatah.
Pertanyaan lagi...Apakah betul ada pemimpin di masa kini? Apakah pemimpin sudah diganti dengan penguasa saja?
Apakah diperlukan bencana lagi untuk memakmurkan negeri ini melalui peningkatan PDB lewat harga-harga yang naik seperti badai?
Ampun TUHAN jangan tambahkan kejahatan ini di atas timbunan jasad dan puing-puing yang berserakan.
Monday, September 07, 2009
KEJUJURAN
Namun pembuktian diri dengan cara alibi belum cukup. Kuantifikasi proses pembuktian tersebut relatif menyesatkan karena seolah-olah hidup manusia ditentukan oleh angka-angka. Paradok dari kegiatan pembuktian adalah mudahnya mengatur angka-angka sesuai pesanan.
Pembuktian tersebut hanya bisa dilakukan untuk membuktikan kejujuran seseorang kepada orang lain.
Oleh karena itu, ada dua lagi cara untuk mengukur kejujuran seseorang yakni persidangan kepada Tuhan dan evaluasi kepada diri sendiri.
Proses kedua dan ketiga hampir sama, yaitu seseorang mau mengakui dirinya di hadapan Tuhannya dan dihadapan dirinya sendiri. Pengakuan ini dapat dilakukan bersamaan kepada Tuhan dan diri sendiri, atau dapat juga dipisahkan.
Pengukuran dengan pengakuan diri yang juga sering disebut dengan refleksi diri dianggap lebih valid dari cara pertama.
Untuk mengukur kejujuran seseorang harus meliputi 3 indikator utama yaitu jujur kepada Tuhaan, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain.
Proses yang dilakukan sangat menentukan hasil atau kesimpulan dari tingkat kejujuran seseorang.
Apakah Anda sudah jujur total?
Monday, August 31, 2009
Sebutan Gubernur Bank Sentral
Apabila dilihat sepintas, sebutan tersebut biasa alias ttidak ada masalah. Namun, perlu dikaji lagi.
Sejatinya pimpinan bank indonesia adalah dewan gubernur. Jadi dewan gubernur seharusnya kumpulan dari beberapa gubernur sebagai anggota. Faktanya anggota dewan disebut deputy., kalau mempertahankan istilah deputi tentu mereka harus dipimpin ketua.
Solusi masalah ada pada sebutan gubernur yang tidak mencantumkan kata ketua. Seandainya disebut Ketua Gubernur akan leih menggambarkan fungsi dan kewenangannya. Keputusan gubernur tidak bisa lebih kuat karena keputusan tertinggi ada pada Peraturan Dewan Gubernur sebagai hasil dari Rapat Dewan Gubernur bukan Rapat Deputi Gubernur.
Monday, July 20, 2009
LISTRIK DAN VISI KABUPATEN ROKAN HULU
Pertengahan Juli 2009, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau. Keinginan untuk berkunjung sudah lama terpendam bahkan sudah hampir 10 tahun. Hambatan utama selama ini adalah transportasi. Prasarana jalan darat yang tersedia relatif buruk. Waktu tempuh yang dibutuhkan tidak kurang dari enam jam. Bayangkan untuk kalau di Jawa, waktu tempuh selama itu sudah menghubungkan ujung Barat sampai ujung Timur. Ironis memang.
Perjalanan ke Pasir kali ini saya tempuh karena sarana jalan darat sudah diperbaiki. Hal itu bukan hanya promosi, tapi fakta yang patut diacungkan jempol. Perbaikan jalan tersebut memotong waktu tempuh menjadi empat jam bahkan kalau agak ngebut waktu tempuh bisa kurang dari empat jam. Katanya, perbaikan jalan merupakan konsekuensi dari pemekaran daerah yang menjadi Rokan Hulu sebagai Kabupaten dengan pusat pemerintah di Pasir Pangaraian.
Informasi mengenai Kabupaten baru ini relatif terbatas. Sebelum berangkat ke Rohul sebutan yang lebih populer, saya mencari informasi tentang Rohul melalui dunia maya. Tak disangka, informasi Rohul sangat terbatas, yang mengundang tanda tanya.
Pada suatu pagi, aku menikmati sarapan pagi di warung yang menyediakan lontong dan pecal serta nasi goreng. Semula niat untuk memesan lontong. Namun, "ete" yang melayani menginformasikan bahwa hari tertentu lontong tidak tersedia. Pagi ini hanya ada nasi goreng. Tanpa pikir dua kali aku memesan nasi goreng.
Menunggu datangnya pesanan, saya melihat informasi di warung itu. Aku tertarik mengamati sebuah tanggalan yang mencerminkan informasi Rohul. Dari halaman kalender itu, saya mengetahui bahwa Rohul memiliki visi dan misi antara lain Menjadi Kabupaten Teladan 2018. Aku kaget karena tidak percaya. Keheranan saya spontan muncul karena kata teladan dan 2018. Sekarang 2009 kurang setengah tahun. Berarti sisa waktu tersedia untuk mencapai visi dan misi itu tinggal kurang dari sembilan tahun. Apakah sasaran itu tidak kelewat percaya diri atau sekedar jualan politik saja?
Menjadi teladan bukan berarti harus memiliki waktu berpuluh-puluh tahun. Namun menjadi Kabupaten teladan juga tidak bisa menuangkan rencana dalam kertas dan jadilah sesuai dengan perkataan (power of speech). Mari kita lihat masalah yang membentang.
Suatu pagi, saya diberitahu teman bahwa dia telah mendapat sebuah bangunan untuk dijadikan tempat usaha. Hal yang paling sulit didapat untuk usaha itu adalah listrik. Di Pasir, dia menuturkan, sangat lazim orang menjadikan meteran listrik sebagai agunan. Nilainya cukup lumayan, puluhan juta rupiah. Saya semula kurang percaya, tapi dengan fakta dan bukti yang dipaparkan saya percaya sambil heran. Seumur hidup, saya baru pertama kali mendengar fasilitas umum sebagai jaminan. Apakah ini yang disebut lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya?
Selama saya berkeliling di daerah Rohul, memang mata memandang setiap usaha apakah toko kebutuhan rumah tangga atau rumah makan, selalu memiliki generator sendiri. Ini mengindikasikan bahwa cerita teman saya itu benar adanya. Listrik tidak mudah diperoleh di Rohul. Anehnya, penerangan jalan umum relatif bagus.
Keanehan lain adalah belum tersedianya prasarana air minum. Hal ini menyebabkan setiap rumah dan atau toko, selalu memiliki sumur sendiri. Sudahlah pasti, bahwa kelancaran sumur tergantung pada listrik. Oleh karena listrik terbatas,maka bak-bak mandi diisi dengan tenaga alami alias ditimba.
Listrik dan air, merupakan benda keramat dalam memajukan kehidupan. Pada masa modern ini, tidak ada satu kelompok masyarakat di belahan bumi manapun yang dapat mencapai kemajuan yang pesat tanpa dukungan lisrik dan air. Tanpa listrik mustahil bagi para pelajar meraih prestasi yang baik. Bagaimana tidak, belajar di kelas memerlukan listrik. Apalagi untuk mendukung pelaksanaan praktikum. Demikian juga halnya di rumah, anak-anak memerlukan waktu belajar untuk mendalami materi pelajarannya. Kalau listrik tidak tersedia, mustahil bagi para anak didik bisa belajar di rumah pada malam hari.
Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, dipastikan bahwa prestasi pelajar dari Rokan akan menurun bahkan jauh ketinggalan dari dunia luar. Hidup tanpa listrik ibarat hidup dalam sebuah isolasi peradaban. Dampak signifikan kelangkaan listrik juga berimbas pada sektor ekonomi, politik, keamanan dan kebudayaan. Jadi tanpa listrik mustahil daerah bisa mewujudkan visi dan misi.
Barangkali visi dan misi yang harus diutamakan adalah menjadikan Rohul sebagai Kabupaten yang hemat energi tapi bukan tanpa energi. Pemda Rohul menyediakan listrik dan air yang memadai untuk mengembangkan usaha dan masyarakat dengan pegawasan agar penggunaan sesuai peruntukan. Selain itu, visi dan misi yang perlu dikembangkan adalah menjadi kota hijau alias green city.
Sebagai daerah yang baru, menjadi green area, relatif lebih mudah. Konsep tata kota tidak meniru kota lain yang selalu dipenuhi gedung bertingkat dan mall. Hendaknya pembangunan kota tidak disamakan dengan membangun mall atau gedung tinggi. Meskipun mewujudkan sebuah green area, namun kembali kepada kebutuhan mendasar listrik dan air harus didahulukan. Dalam membangun green city sekalipun, listrik dan air menjadi kebutuhan utama.
Jadi apapun visi dan misi yang akan dicapai, penuhi dulu saranan vital seperti listrik, air dan jalan.
Tuesday, June 30, 2009
PENJAJAHAN DALAM BUNGKUS GLOBALISASI
Masih mengekor pada situs tersebut di atas, globalisasi belum memiliki arti definisi yang mapan.
Istilah globalisasi semakin tersiar mengikuti peristiwa kegagalan ekonomi Amerika Serikat. Tersiar luas karena sudah disebut globalisasi. Jadi tidak perlu didefinisikan lagi batasan wilayah siarannya. Global berarti seluruh wilayah globe (baca: dunia). Istilah global awalnya diperkenalkan sebagai hal-hal yang positif terutama menyangkut perkembangan teknologi. Belakangan hal ini tidak dapat dibatasi karena istilah global dikawinkan pula pada hal-hal yang negatif seperti krisis global.
Setelah mengamati dan merenungkan proses penggelindingan globe dalam istilah yang dipakai dalam semua aspek, muncul kecurigaan terhadap globalisasi ini. Bayangkan globe menggelinding tanpa batasan ruang dan waktu. Hal itu mengisyaratkan globe bebas bergerak ke mana saja dan kapan saja. Kalau globe membawa kabar baik bagi pewaris bumi globalisasi menjadi harapan besar. Namun faktanya, globalisasi juga mengelindingkan ancaman dalam bentuk kerugian dan atau kemerosotan bumi. Pokoknya seram.
Globalisasi menjadi menarik karena dari asalnya, globalisasi hampir tidak pernah bergulir dari negara yang miskin atau sedang berkembang ke negara kaya atau raksasa. Kecenderungannya adalah dari yang besar kepada yang kecil. Analoginya adalah ibarat bola salju yang dibentuk dari atas puncak, menggelinding ke bawah dan semakin rendah wilayah yang akan dituju, maka makin deraslah arus bola ke wilayah itu. Kecepatan bola akan menghasilkan energi gerak yang mampu menghacurkan benda di wilayah yang lebih rendah. Yang lebih tragis lagi, globalisasi ke bawah tidak bisa dibendung sedangkan aliran bola ke atas tidak dimungkinkan.
Jika globalisasi membawa kabar baik, maka dampaknya ke negara bawah tidak terlalu signifikan. Namun jika globalisasi berisi hal-hal yang buruk, dampak buruknya akan berakselerasi bahkan berkembang biak ke negara bawah.
Dari sisi konten, globalisasi tidak pernah mengandung hal-hal yang natural. Kecendrungan isinya pada kemajuan teknologi.
Negara-negara besar melakukan banyak hal seiring dengan kemajuan teknologi. Selain untuk dinikmati sendiri, dampak dari kemajuan teknologi dan kebutuhan berinovasi berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan untuk itu. Apabila biaya hanya ditanggung negara tersebut, maka dapat dipastikan bahwa ke depan beban negara tersebut akan meningkat dan semakin lama semakin besar sesuai dengan kemajuan teknologi. Hal itu akan terjadi karena sumber daya dan ruang yang dimiliki negara itu akan semakin kecil diperhadapkan terhadap semua kemajuan yang dialami.
Untuk menghindari beban berat di masa yang akan datang, maka negara-negara besar merencanakan pembagian biaya kepada negara-negara lain terutama negara yang memiliki sumber daya dan ruang. Tentu saja, sasaran pengalihan biaya itu adalah negara miskin dan berkembang yang belum mengeksploitasi sumber daya dan ruang. Pengalihan biaya itu sering muncul dalam bentuk kerjasama antar negara yang berbendara investasi.
Merenungkan proses globalisasi tersebut, kita dibawa pada suasana sejarah abad 18.
Kebanyakan negara-negara di Eropa melakukan pencarian terhadap tanah baru demi meluaskan areal pertanian dan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat di negaranya. Proses pencarian daerah baru disebut kolonisasi yang dalam pelajaran kewarganegaraan menjadi penjajahan.
Apabila diperbandingkan motif dari pencarian tanah dan pengalihan biaya, maka tidak jauh beda bahwa globalisasi adalah penjajahan.
Penjajahan terhadap sumberdaya di negara miskin dan sedang berkembang untuk diekploitasi dan dibawa ke negara besar asal. Selanjutnya nilai tambah dari proses globalisai itu hanya akan memberikan tambahan energi untuk melakukan globalisasi yang lebih besar.
Adakaha negara bawah yang mampu bertahan? Seperti gelinding bola salju, mungkin tidak ada yang dapat menahan secara permanen gelinding globalisasi. Namund tidak menutup kemungkinan melakukan penahanan dalam jangka waktu yang lebih lama sampai energi dorongan globalisasi mereda bahkan sirna.
Dalam strategi permainan khususnya permainan perang seperti pertandingan bola, strategi bertahan adalah sikap bunuh diri. Satu-satunya strategi yang lebih bertahan adalah menyerang. Mungkinkan negara bawah menyerang negara atas? Secara terminologi sangat dimungkinkan dengan cara memunculkan istilah reglobalisasi. Hal yang perlu dilakukan adalah mendemonstrasikan hal-hal yang bersifat natural yang menjadi kekayaan negara bawah kepada globalisasi negara besar. Naturalisai ini akan menggulung energi global karena kekuatan naturalisasi lebih besar.
Pengalaman Mahatma Gandhi menjadi contoh yang nyata.
Oleh karena itu, globalisasi harus diperangi dengan kearifan lokal yang dimiliki setiap negara.
Thursday, June 25, 2009
JARGON CALON PRESIDEN
Semua calon mau mengambil simpati dan empati dari rakyat. Harapannya rakyat mau memilih sang calon menjadi bosnya lima tahun ke depan. Aneh juga, rakyat yang selama ini selalu di bawah, seolah-olah menjadi majikan dari calon majikan. Proses majikanisasi ini berulang ulang setiap pemilihan presiden di mana pun.
Sayangnya secara jujur, dalam transaksi pihak calon dan rakyat untuk mendapatkan posisi majikan ini, sudah dapat ditebak pihak rakyat sangat lemah.
Rakyat memberikan seluruh kepercayaannya yang bahkan sama dengan kepercayaan kepada Tuhannya kepada calon. Penyerahan total. Tetapi marikita lihat, apakah yang diberikan calon? Hanya jargon titik.
Oleh karena itu, setelah calon dipilih menjadi majikan, maka jargon tinggal kenangan, kehidupan rakyat berlanjut dan berlalu menunggu datangya lima tahun lagi untuk menerima jargon baru.
Dari tiga calon presiden 2009, ada 2 jargon yang sering muncul walaupun tidak menggunakan kata rakyat. Mungkin takut kualat atau terjerat janji.
Ada jargon "lanjutkan". Sementara ada lagi "lebih cepat lebih baik".
Entah disengaja atau tidak, jargon tersebut menjadi pertentangan yang menarik dalam kelakar masyarakat.
Seorang teman roker alias langganan kereta mengajak supaya mendukung program lanjutkan. Tapi dikomentari oleh roker lain, apakah masih bisa dilanjutkan kalau tidak cepat dan lebih baik? Komentar tersebut menjadi menarik karena dua teman saling mempertahankan dan mengajukan jargon yang dipegang.
Padahal kalau berbalik ke fakta sejarah, hampir mustahil ada untungnya atau manfaatnya memperjuangkan jargon dan pencetus jargon. Semua berlalu seiring lewatnya sang waktu.
Aku sendiri merenungkan komentar teman-teman tersebut dalam perjalanan di kereta. Apa sebetulnya yang dapat dipegang dari jargon itu? Kalau mau hitungan kasar, lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya bagi rakyat. Mengapat tidak? Yang pasti jargo lebih sebagai ajang adu mulut bahkan adu otot, dibandingkan memberi kekuatan fisik dan rohani kepada rakyat. Belum lagi niat dari jargon bukan untuk dijadikan pegangan bagi pemilik maupun penerima sekaligus pemegang jargon itu.
Lalu untuk apa memori rakyat direcoki jargon itu? Apakah perlu dilanjutkan jargon itu meskipun lebih cepat dan lebih baik? Apakah calon tanpa jargon lebih berguna?
Saturday, June 13, 2009
MENCAPAI KARIR MENATAP RESIKO
Sebagai profesional, seseorang dituntut menyelesaikan tugas yang diemban. Tugas lebih sering datang dari atasan atau dari instansi majikan. Sebagai bawahan atau mitra kerja, melaksanakan tugas yang diminta tidak sulit. Permasalahan utama adalah apakah kita mau melakukan perintah yang diminta atasan atau siapapun dengan mengorbankan pilihan-pilihan yang selama ini kita bangun (baca : karir)?.
Seorang manajer level menengah misalnya, pastilah sudah menghitung hari dan beban yang akan dijalani untuk mencapai tangga karir yang lebih baik, puncak manajer. Tentu saja untuk mencapai cita-cita tersebut, sang manajer tidak cukup dengan belajar dan bekerja keras. Persoalan utamanya adalah apakah dia akan tergelincir pada saat meniti jalan yang ada di depan? Masalah ini juga dihadapi seorang perwira menengah yang bercita-cita untuk menjadi Panglima. Secara potensi baik manajer maupun perwira memiliki modal yang lebih dari cukup untuk sampai ke puncak karir mereka. Tapi faktanya, banyak yang tidak sampai bahkan melorot ke bawah jabatan semula. Apa penyebabnya?
Dalam dunia karir, seseorang yang ambisi untuk mencapai puncak tentu saja sudah mengedepankan faktor-faktor yang menunjang keberhasilan. Baik manajer maupun perwira faktor yang paling utama adalah atasan mereka. Di belahan dunia manapun dan di sektor apapun, atasan merupakan kunci keberhasilan bawahan. Barangkali semua mengamini kata bijak lama "Jangan melupakan mentormu". Setiap manajer akan berusaha jatuh bangun untuk mewujudkan keinginan atasan. Sang perwira juga akan memasang badan demi memenangkan hati komandan.
Keinginan atasan manajer sering disebut perintah. Untuk memastikan mitra kerja maupun bawahan, manajer tidak jarang mencatut bahwa proyek ini merupakan perintah bos. Bagi perwira juga akan melakukan jurus yang sama, ini perintah komandan. Meskipun menggunakan perintah sebagai kata kunci, namun penerapan dan implikasinya bisa berbeda bagi si manajer dan perwira. Untuk membedakan maksud perintah, selanjutnya perintah dipakai untuk dunia manajer, sedangkan order dipakai untuk dunia perwira.
Apabila manajer menerima perintah, manajer harus mencari rujukan dan rekomendasi untuk meyakinkan bawahannya bahwa mereka sedang berjalan pada arah yang benar. Bahkan manajer merasa perlu untuk mengulang-ulang bahwa perintah tersebut merupakan instruksi dari atasan mereka. Dalam menjalankan perintah itupun, sang manajer harus menguasai teknik berkomunikasi, negosiasi untuk menghadapi komentar bahkan kritik bawahannya. Sementara, seorang perwira yang menerima order dari atasan, cukup sekali mengatakan bahwa ini order komandan. Anak buah perwira tentu serempak menjawab siap laksanakan.
Hasilnya, pekerjaan manajer dapat dicapai dengan negosiasi, perdebatan sedangkan perwira menyelesaikannya tanpa hal-hal yang kontraproduktif dari bawahan. Dari indikator tersebut, hampir dipastikan bahwa perwira akan lebih baik menyelesaikan order karena lebih cepat. Jika demikian adanya, mengapa manajer tidak mengadopsi gaya order perwira untuk menyelesaikan perintah tersebut? Selain lebih cepat, tentu akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan.
Hal tersebut sangat tergantung pada implikasi. Seorang manajer berusaha untuk meyakinkan bawahan dan mitra kerja dengan alasan bahwa selain membagikan tanggungjawab, dia juga sedang membagikan resiko yang dimiliki tugas tersebut. Sedangkan perwira tidak perlu "berbusa-busa" untuk berbagi resiko karena dalam dunia perwira tanpa ada tugas pun mereka sudah menanggung resiko. Hal lain, resiko selalu berada pada pemberi perintah - sang komandan. Meskipun dalam faktanya sang komanda ada yang menghianati dirinya sendiri dengan membantah bahwa dia pernah mengeluarkan sebuah order.
Bagi manajer akan melakukan perintah yang diberikan padanya dalam bentuk tertulis. Sehingga begitu perintah itu diberikan maka atasan secara faktuil sudah menyatakan bahwa resiko berada pada atasan sepanjang perintah dilakukan tidak menyimpang. Namun bagi perwira, order tidak lazim dituangkan dalam tulisan karena kebiasaan di lapangan dimana tidak memungkinkan mengeluarkan order dengan tulisan sedangkan resiko yang dihadapi sudah di depan hidung. Sebagaimana dikemukakan seorang "para komando" bagi seorang perwira hanya ada 2 (dua) sikap menerima order; pertama, siap laksanakan, atau kedua mundur dari jabatan.
Dari uraian tersebut di atas, seolah-olah perwira akan diuntungkan dalam proses pelaksanaan, sedangkan sang manajer akan lebih aman dari sisi implikasi atau resiko yang dihadapi.
Apabila terjadi dampak dari order yang tidak sejalan dengan kepentingan publik maka perwira akan menghadapi sendiri resiko karena tidak bisa menunjukkan bahwa dia mendapat order dari komandan. Order dalam dunia perwira sudah identik dengan fatwa atau bahkan sabda. Artinya, seorang prajurit tidak mungkin melakukan tindakan (operasi) tanpa order dari atasannya. Anehnya, dalam persidangan sebuah kasus, seorang prajurit sering dituduh melakukan tindakan (operasi) sendiri dan harus bertanggungjawab sendiri.
Berbeda halnya dengan manajer yang menghadapi tuduhan dalam persidangan. Apabila manajer mampu menunjukkan bahwa ada perintah dari atasan dan manajer dan mitra kerjanya tidak menyimpang dari perintah itu maka dia tidak bisa dituduh bertanggungjawab sendiri.
Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa persidangan manajer lebih banyak terjadi disebabkan karena dia menjalankan tugas dan tidak bisa membuktikan bahwa atasan memberikan perintah. Dengan kata lain, manajer akan berhadapan dengan persidangan jika dia mengadopsi gaya order perwira. Mengapa bisa terjadi? Faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mencapai puncak adalah akselerasi atau kecepatan perjalanan karir. Untuk lebih cepat mencapai puncak, manajer terlena dengan kecepatan yang dikendalikannya tanpa sadar bahwa dia masih memiliki atasan. Artinya secepat apapun dia mengemudikan karirnya mash ada atasan yang menentukan arah perjalanan. Tantangan terberat manajer adalah menuruti atasan tapi tidak menyimpang dari arah (visi). Jika diperhadapkan pada dua pilihan, atasan atau arah maka seorang manajer harus memikirkan resiko yang akan dihadapi. Kalau memilih atasan, jalan menuju puncak lebih cepat, tapi resikonya tidak lama bertahan di tahta. Sedangkan kalau memilih arah, maka tahta mungkin tidak tercapai tapi reputasi yang selama ini dibangun masih bisa dipertahankan bahkan menjadi modal untuk perjalan selanjutnya. Bagi manajer yang sudah hampir mencapai puncak, menghitung resiko tersebut sudah lazim dibuat, bahkan hitungan itulah yang menyelamatkan dan menghantar dia sampai ke ambang puncak. Tapi di ujung perjalanan sering kali tidak introspeksi karena tidak selamanya formula yang dilakukan selama ini manjur untuk segala jaman. Waktu yang sudah cukup lama bersama dengan atasan dan realitas di belakang selalu menjadi rekomendasi manajer untuk maju sekaligus juga tergelincir. Sulit sekali membedakan pilihan yang benar antara atasan atau arah.
Tips
Sebelum terlanjur bergantung pada faktor luar saja, manajer atau perwira harus memiliki hati nurani yang murni. Memiliki tidak cukup. Perlu melatih dan mengasah dengan mendengarnya. Persidangan yang sesungguhnya terjadi setiap saat ketika manajer atau perwira mendengar nuraninya. Kemurnian hati nurani akan menentukan ketajaman nurani itu sendiri. Memurnikan hati nurani adalah perjalan panjang sejak lahir. Hati nurani yang murni hanya muncul dari sebuah pengudusan dari duniawi (dosa). Dosa hanya dapat disucikan dengan darah Anak Domba Allah. Masalah yang tidak pernah disadari adalah manajer dan perwira tidak percaya pada Anak Domba pemberi Jalan Lurus.