DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Saturday, October 03, 2009

PARADOKS BENCANA

Gempa...gempaa..gempaaa...
Jerit histeris dan kepanikan kembali mewarnai anak manusia di bumi Minangkabau khususnya Padang dan Paris (Pariaman Sekitarnya). Gelombang getar berkekuatan 7,6 SR penghujung September 2009 membungkam semarak pesta dan melahirkan isak tangis.
Hotel ambruk, perkantoran bertekuk, toko-toko sujud, rumah-rumah berserakan dan jiwa melayang dan jasad bertindihan. Dada penuh sesak, bibir tak juga mampu berucap. Airmata satu-satunya alur mencurahkan kepedihan dan kesesakan.
Media bergema meneriakkan gempa dan bencana ke seantero nusantara bahkan ke seluruh belahan dunia. Dalam sekejab, semua mata memandang sambil mengalirkan air. Kantong dibuka menadahkan belas kasihan. Dompet dibuka memberikan sumbangan tanda empati. Pasukan digiring menyisihkan puing-puing. Relawan berbondong-bondong mengulurkan tangan. Amerika, Jepang, Eropa berdatangan, semua mendemonstarikan kemanusiaan.
Sekali lagi, muncul pertanyaan : Apakah kedamaian tidak bisa melahirkan kasih sayang? Mengapa ketika ada bencana dan tangisan baru muncul kata kemanusiaan? Mengapa dikala semua memiliki kesempatan yang sama untuk bereksistensi sebagai manusia justeru kasih kemanusiaan dikubur dalam-dalam? Apakah hanya ketika bencana terjadi maka penonjolan suku, ras, agama, antar kelompok, negara berhasil dipadamkan?

Tapi tunggu dulu, jangan terlanjur tersanjung. Lihat kerumunan orang di Bandara Soekarno Hatta. Mereka berjuang untuk mendapatkan sehelai kertas tanda terbang. Kalau banyaknya kerumunan tidak menjadi keheranan karena itu biasa apalagi belum sebulan berlalu lebaran. Tapi perjuangan mereka lebih dikonsentrasikan untuk mencukupi anggaran pengadaan tiket. Bayangkan, kalau untuk lebaran yang setiap tahun dilakukan harga tiket paling mahal dua kali harga normal. Kalau normal tiket ke Bandara Minangkabau memerlukan dua ikat uang duaribuan. Dalam keadaan lebaran harga tiket menjadi empat ikat. Namun, ampun TUHAN, baru kali ini kejadian, harga tiket memerlukan 20 ikat.
Lebih tidak masuk akal lagi, sampai di Padang, diperlukan sepuluh ribu untuk membeli satu liter bensin. Itupun belum tentu dapat jatah.
Pertanyaan lagi...Apakah betul ada pemimpin di masa kini? Apakah pemimpin sudah diganti dengan penguasa saja?
Apakah diperlukan bencana lagi untuk memakmurkan negeri ini melalui peningkatan PDB lewat harga-harga yang naik seperti badai?
Ampun TUHAN jangan tambahkan kejahatan ini di atas timbunan jasad dan puing-puing yang berserakan.

Monday, September 07, 2009

KEJUJURAN

Manusia berusaha untuk memperkenalkan dirinya sebagai orang jujur. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan membeberkan fakta dan data. Diharapkan timbul opini yang positif dari masyarakat setelah membaca fakta dan data tersebut.
Namun pembuktian diri dengan cara alibi belum cukup. Kuantifikasi proses pembuktian tersebut relatif menyesatkan karena seolah-olah hidup manusia ditentukan oleh angka-angka. Paradok dari kegiatan pembuktian adalah mudahnya mengatur angka-angka sesuai pesanan.
Pembuktian tersebut hanya bisa dilakukan untuk membuktikan kejujuran seseorang kepada orang lain.

Oleh karena itu, ada dua lagi cara untuk mengukur kejujuran seseorang yakni persidangan kepada Tuhan dan evaluasi kepada diri sendiri.
Proses kedua dan ketiga hampir sama, yaitu seseorang mau mengakui dirinya di hadapan Tuhannya dan dihadapan dirinya sendiri. Pengakuan ini dapat dilakukan bersamaan kepada Tuhan dan diri sendiri, atau dapat juga dipisahkan.
Pengukuran dengan pengakuan diri yang juga sering disebut dengan refleksi diri dianggap lebih valid dari cara pertama.
Untuk mengukur kejujuran seseorang harus meliputi 3 indikator utama yaitu jujur kepada Tuhaan, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain.
Proses yang dilakukan sangat menentukan hasil atau kesimpulan dari tingkat kejujuran seseorang.
Apakah Anda sudah jujur total?

Monday, August 31, 2009

Sebutan Gubernur Bank Sentral

Gubernur dalam ranah perbankan merupakan pimpinan bank sentral. Gubernur Bank Indonesia dipegang satu orang. Gubernur sebagai ketua Dewan Gubernur. Dewan Gubernur adalah kumpulan anggota dewan gubernur. sebutan untuk anggota dewan disebut deputy gubernur.
Apabila dilihat sepintas, sebutan tersebut biasa alias ttidak ada masalah. Namun, perlu dikaji lagi.
Sejatinya pimpinan bank indonesia adalah dewan gubernur. Jadi dewan gubernur seharusnya kumpulan dari beberapa gubernur sebagai anggota. Faktanya anggota dewan disebut deputy., kalau mempertahankan istilah deputi tentu mereka harus dipimpin ketua.
Solusi masalah ada pada sebutan gubernur yang tidak mencantumkan kata ketua. Seandainya disebut Ketua Gubernur akan leih menggambarkan fungsi dan kewenangannya. Keputusan gubernur tidak bisa lebih kuat karena keputusan tertinggi ada pada Peraturan Dewan Gubernur sebagai hasil dari Rapat Dewan Gubernur bukan Rapat Deputi Gubernur.

Monday, July 20, 2009

LISTRIK DAN VISI KABUPATEN ROKAN HULU

Pertengahan Juli 2009, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau. Keinginan untuk berkunjung sudah lama terpendam bahkan sudah hampir 10 tahun. Hambatan utama  selama ini adalah  transportasi. Prasarana  jalan darat  yang tersedia  relatif  buruk. Waktu tempuh yang dibutuhkan tidak kurang dari  enam jam. Bayangkan untuk kalau di Jawa, waktu tempuh selama itu sudah  menghubungkan  ujung Barat sampai ujung Timur. Ironis memang.

Perjalanan ke Pasir  kali ini saya tempuh karena  sarana jalan darat  sudah  diperbaiki. Hal itu bukan hanya promosi, tapi fakta yang patut diacungkan jempol. Perbaikan jalan tersebut  memotong waktu tempuh menjadi empat jam bahkan kalau agak ngebut  waktu tempuh bisa kurang dari empat jam. Katanya, perbaikan jalan merupakan konsekuensi dari pemekaran daerah yang menjadi Rokan Hulu sebagai Kabupaten dengan pusat pemerintah di Pasir Pangaraian.

Informasi mengenai  Kabupaten baru ini relatif terbatas. Sebelum berangkat ke Rohul sebutan yang lebih populer, saya mencari informasi tentang Rohul  melalui dunia maya. Tak disangka, informasi  Rohul  sangat  terbatas, yang mengundang tanda tanya.

Pada suatu  pagi, aku menikmati  sarapan pagi di warung  yang menyediakan lontong dan pecal serta nasi goreng. Semula niat untuk memesan lontong. Namun, "ete" yang melayani menginformasikan bahwa hari tertentu lontong tidak tersedia. Pagi ini hanya ada nasi goreng. Tanpa pikir dua kali aku memesan nasi goreng.

Menunggu datangnya pesanan, saya melihat informasi  di warung itu. Aku tertarik mengamati  sebuah tanggalan yang mencerminkan informasi Rohul. Dari halaman kalender itu, saya mengetahui bahwa Rohul memiliki visi dan misi antara lain Menjadi Kabupaten Teladan 2018. Aku kaget  karena tidak percaya. Keheranan saya spontan muncul  karena  kata teladan dan 2018. Sekarang 2009 kurang setengah tahun. Berarti  sisa waktu tersedia untuk mencapai visi dan misi itu tinggal kurang dari sembilan tahun. Apakah  sasaran itu tidak kelewat percaya diri  atau  sekedar  jualan politik saja?

Menjadi teladan bukan berarti  harus memiliki waktu  berpuluh-puluh tahun. Namun menjadi Kabupaten teladan juga tidak bisa  menuangkan  rencana dalam kertas  dan jadilah sesuai dengan perkataan (power of speech). Mari kita lihat masalah yang membentang.

Suatu pagi, saya diberitahu teman bahwa  dia  telah mendapat  sebuah  bangunan untuk dijadikan tempat usaha. Hal yang paling sulit didapat untuk  usaha itu adalah  listrik. Di Pasir, dia menuturkan, sangat lazim orang  menjadikan  meteran listrik   sebagai agunan. Nilainya cukup  lumayan, puluhan juta rupiah. Saya semula kurang percaya, tapi dengan fakta dan bukti yang dipaparkan saya  percaya  sambil heran. Seumur hidup, saya baru pertama kali mendengar  fasilitas umum sebagai jaminan. Apakah ini yang disebut  lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya?

Selama saya berkeliling di daerah Rohul, memang  mata memandang setiap  usaha  apakah toko  kebutuhan rumah tangga atau  rumah makan, selalu memiliki  generator sendiri. Ini mengindikasikan  bahwa cerita teman saya itu benar adanya. Listrik tidak mudah  diperoleh di Rohul.  Anehnya, penerangan jalan umum  relatif  bagus.

Keanehan lain adalah  belum tersedianya  prasarana  air minum. Hal ini menyebabkan setiap  rumah dan atau toko, selalu memiliki  sumur sendiri. Sudahlah pasti, bahwa  kelancaran sumur tergantung pada listrik. Oleh karena listrik terbatas,maka bak-bak  mandi diisi dengan tenaga alami alias ditimba.

Listrik dan air, merupakan  benda keramat  dalam memajukan  kehidupan. Pada masa modern ini, tidak ada satu kelompok masyarakat di belahan bumi manapun yang dapat mencapai kemajuan yang pesat tanpa dukungan lisrik dan air. Tanpa listrik  mustahil bagi para pelajar  meraih  prestasi yang baik. Bagaimana tidak, belajar di kelas memerlukan listrik. Apalagi untuk mendukung  pelaksanaan praktikum. Demikian juga halnya  di rumah, anak-anak memerlukan waktu belajar untuk mendalami  materi pelajarannya. Kalau listrik tidak tersedia, mustahil bagi  para anak didik  bisa  belajar di rumah  pada malam hari.

Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, dipastikan bahwa  prestasi  pelajar dari Rokan akan menurun bahkan jauh ketinggalan  dari dunia luar. Hidup tanpa listrik  ibarat  hidup dalam sebuah isolasi peradaban. Dampak signifikan kelangkaan listrik  juga   berimbas pada  sektor ekonomi, politik, keamanan dan kebudayaan. Jadi  tanpa listrik  mustahil  daerah  bisa mewujudkan visi dan misi.

Barangkali  visi dan misi yang  harus diutamakan adalah  menjadikan Rohul sebagai  Kabupaten yang  hemat energi tapi bukan tanpa energi. Pemda Rohul menyediakan listrik dan air yang memadai untuk mengembangkan usaha dan masyarakat  dengan pegawasan  agar  penggunaan sesuai peruntukan. Selain itu, visi dan misi yang perlu dikembangkan adalah menjadi  kota hijau alias  green city.

Sebagai  daerah yang baru, menjadi  green area, relatif lebih mudah.  Konsep tata kota tidak meniru  kota lain yang selalu dipenuhi  gedung bertingkat dan mall. Hendaknya  pembangunan kota tidak disamakan dengan membangun  mall atau  gedung tinggi.  Meskipun  mewujudkan  sebuah green area, namun kembali kepada kebutuhan mendasar  listrik dan air  harus didahulukan. Dalam membangun green city sekalipun, listrik dan air menjadi kebutuhan utama.

Jadi apapun visi dan misi yang akan dicapai, penuhi dulu saranan vital seperti  listrik, air dan jalan.

 

Tuesday, June 30, 2009

PENJAJAHAN DALAM BUNGKUS GLOBALISASI

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi)
Masih mengekor pada situs tersebut di atas, globalisasi belum memiliki arti definisi yang mapan.
Istilah globalisasi semakin tersiar mengikuti peristiwa kegagalan ekonomi Amerika Serikat. Tersiar luas karena sudah disebut globalisasi. Jadi tidak perlu didefinisikan lagi batasan wilayah siarannya. Global berarti seluruh wilayah globe (baca: dunia). Istilah global awalnya diperkenalkan sebagai hal-hal yang positif terutama menyangkut perkembangan teknologi. Belakangan hal ini tidak dapat dibatasi karena istilah global dikawinkan pula pada hal-hal yang negatif seperti krisis global.
Setelah mengamati dan merenungkan proses penggelindingan globe dalam istilah yang dipakai dalam semua aspek, muncul kecurigaan terhadap globalisasi ini. Bayangkan globe menggelinding tanpa batasan ruang dan waktu. Hal itu mengisyaratkan globe bebas bergerak ke mana saja dan kapan saja. Kalau globe membawa kabar baik bagi pewaris bumi globalisasi menjadi harapan besar. Namun faktanya, globalisasi juga mengelindingkan ancaman dalam bentuk kerugian dan atau kemerosotan bumi. Pokoknya seram.
Globalisasi menjadi menarik karena dari asalnya, globalisasi hampir tidak pernah bergulir dari negara yang miskin atau sedang berkembang ke negara kaya atau raksasa. Kecenderungannya adalah dari yang besar kepada yang kecil. Analoginya adalah ibarat bola salju yang dibentuk dari atas puncak, menggelinding ke bawah dan semakin rendah wilayah yang akan dituju, maka makin deraslah arus bola ke wilayah itu. Kecepatan bola akan menghasilkan energi gerak yang mampu menghacurkan benda di wilayah yang lebih rendah. Yang lebih tragis lagi, globalisasi ke bawah tidak bisa dibendung sedangkan aliran bola ke atas tidak dimungkinkan.
Jika globalisasi membawa kabar baik, maka dampaknya ke negara bawah tidak terlalu signifikan. Namun jika globalisasi berisi hal-hal yang buruk, dampak buruknya akan berakselerasi bahkan berkembang biak ke negara bawah.
Dari sisi konten, globalisasi tidak pernah mengandung hal-hal yang natural. Kecendrungan isinya pada kemajuan teknologi.
Negara-negara besar melakukan banyak hal seiring dengan kemajuan teknologi. Selain untuk dinikmati sendiri, dampak dari kemajuan teknologi dan kebutuhan berinovasi berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan untuk itu. Apabila biaya hanya ditanggung negara tersebut, maka dapat dipastikan bahwa ke depan beban negara tersebut akan meningkat dan semakin lama semakin besar sesuai dengan kemajuan teknologi. Hal itu akan terjadi karena sumber daya dan ruang yang dimiliki negara itu akan semakin kecil diperhadapkan terhadap semua kemajuan yang dialami.
Untuk menghindari beban berat di masa yang akan datang, maka negara-negara besar merencanakan pembagian biaya kepada negara-negara lain terutama negara yang memiliki sumber daya dan ruang. Tentu saja, sasaran pengalihan biaya itu adalah negara miskin dan berkembang yang belum mengeksploitasi sumber daya dan ruang. Pengalihan biaya itu sering muncul dalam bentuk kerjasama antar negara yang berbendara investasi.
Merenungkan proses globalisasi tersebut, kita dibawa pada suasana sejarah abad 18.
Kebanyakan negara-negara di Eropa melakukan pencarian terhadap tanah baru demi meluaskan areal pertanian dan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat di negaranya. Proses pencarian daerah baru disebut kolonisasi yang dalam pelajaran kewarganegaraan menjadi penjajahan.
Apabila diperbandingkan motif dari pencarian tanah dan pengalihan biaya, maka tidak jauh beda bahwa globalisasi adalah penjajahan.
Penjajahan terhadap sumberdaya di negara miskin dan sedang berkembang untuk diekploitasi dan dibawa ke negara besar asal. Selanjutnya nilai tambah dari proses globalisai itu hanya akan memberikan tambahan energi untuk melakukan globalisasi yang lebih besar.
Adakaha negara bawah yang mampu bertahan? Seperti gelinding bola salju, mungkin tidak ada yang dapat menahan secara permanen gelinding globalisasi. Namund tidak menutup kemungkinan melakukan penahanan dalam jangka waktu yang lebih lama sampai energi dorongan globalisasi mereda bahkan sirna.
Dalam strategi permainan khususnya permainan perang seperti pertandingan bola, strategi bertahan adalah sikap bunuh diri. Satu-satunya strategi yang lebih bertahan adalah menyerang. Mungkinkan negara bawah menyerang negara atas? Secara terminologi sangat dimungkinkan dengan cara memunculkan istilah reglobalisasi. Hal yang perlu dilakukan adalah mendemonstrasikan hal-hal yang bersifat natural yang menjadi kekayaan negara bawah kepada globalisasi negara besar. Naturalisai ini akan menggulung energi global karena kekuatan naturalisasi lebih besar.
Pengalaman Mahatma Gandhi menjadi contoh yang nyata.
Oleh karena itu, globalisasi harus diperangi dengan kearifan lokal yang dimiliki setiap negara.

Thursday, June 25, 2009

JARGON CALON PRESIDEN

Semaraknya pemilihan calon presiden Indonesia 2009 mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan. Kalau dilihat dari penggunaan kata dalam debat, iklan maupun komentar baik melalui media cetak, televisi bahkan online, maka kata "rakyat" menjadi primadona.Mengapa?
Semua calon mau mengambil simpati dan empati dari rakyat. Harapannya rakyat mau memilih sang calon menjadi bosnya lima tahun ke depan. Aneh juga, rakyat yang selama ini selalu di bawah, seolah-olah menjadi majikan dari calon majikan. Proses majikanisasi ini berulang ulang setiap pemilihan presiden di mana pun.
Sayangnya secara jujur, dalam transaksi pihak calon dan rakyat untuk mendapatkan posisi majikan ini, sudah dapat ditebak pihak rakyat sangat lemah.
Rakyat memberikan seluruh kepercayaannya yang bahkan sama dengan kepercayaan kepada Tuhannya kepada calon. Penyerahan total. Tetapi marikita lihat, apakah yang diberikan calon? Hanya jargon titik.
Oleh karena itu, setelah calon dipilih menjadi majikan, maka jargon tinggal kenangan, kehidupan rakyat berlanjut dan berlalu menunggu datangya lima tahun lagi untuk menerima jargon baru.
Dari tiga calon presiden 2009, ada 2 jargon yang sering muncul walaupun tidak menggunakan kata rakyat. Mungkin takut kualat atau terjerat janji.
Ada jargon "lanjutkan". Sementara ada lagi "lebih cepat lebih baik".
Entah disengaja atau tidak, jargon tersebut menjadi pertentangan yang menarik dalam kelakar masyarakat.
Seorang teman roker alias langganan kereta mengajak supaya mendukung program lanjutkan. Tapi dikomentari oleh roker lain, apakah masih bisa dilanjutkan kalau tidak cepat dan lebih baik? Komentar tersebut menjadi menarik karena dua teman saling mempertahankan dan mengajukan jargon yang dipegang.
Padahal kalau berbalik ke fakta sejarah, hampir mustahil ada untungnya atau manfaatnya memperjuangkan jargon dan pencetus jargon. Semua berlalu seiring lewatnya sang waktu.
Aku sendiri merenungkan komentar teman-teman tersebut dalam perjalanan di kereta. Apa sebetulnya yang dapat dipegang dari jargon itu? Kalau mau hitungan kasar, lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya bagi rakyat. Mengapat tidak? Yang pasti jargo lebih sebagai ajang adu mulut bahkan adu otot, dibandingkan memberi kekuatan fisik dan rohani kepada rakyat. Belum lagi niat dari jargon bukan untuk dijadikan pegangan bagi pemilik maupun penerima sekaligus pemegang jargon itu.
Lalu untuk apa memori rakyat direcoki jargon itu? Apakah perlu dilanjutkan jargon itu meskipun lebih cepat dan lebih baik? Apakah calon tanpa jargon lebih berguna?

Saturday, June 13, 2009

MENCAPAI KARIR MENATAP RESIKO

 

Sebagai profesional, seseorang dituntut menyelesaikan tugas yang diemban. Tugas lebih sering datang dari atasan atau dari instansi majikan. Sebagai bawahan atau mitra kerja, melaksanakan tugas yang diminta tidak sulit. Permasalahan utama adalah apakah kita mau melakukan perintah yang diminta atasan atau siapapun  dengan mengorbankan pilihan-pilihan yang  selama ini kita bangun (baca : karir)?.

Seorang  manajer level menengah misalnya, pastilah sudah menghitung hari dan beban yang akan dijalani untuk mencapai   tangga karir yang lebih baik, puncak manajer. Tentu saja untuk mencapai  cita-cita tersebut, sang manajer tidak  cukup dengan belajar dan bekerja keras. Persoalan utamanya adalah apakah dia akan tergelincir pada saat meniti  jalan yang ada di depan?  Masalah ini juga dihadapi seorang perwira menengah yang  bercita-cita untuk menjadi Panglima. Secara potensi baik manajer maupun perwira memiliki  modal yang lebih dari cukup untuk sampai ke puncak karir mereka. Tapi faktanya, banyak yang tidak sampai bahkan melorot ke bawah jabatan semula. Apa penyebabnya?

Dalam dunia karir, seseorang yang ambisi untuk mencapai puncak tentu saja sudah mengedepankan faktor-faktor  yang menunjang keberhasilan. Baik manajer maupun perwira  faktor yang paling utama adalah atasan mereka. Di belahan dunia manapun dan di sektor apapun, atasan merupakan kunci keberhasilan bawahan.  Barangkali semua mengamini kata bijak lama "Jangan melupakan  mentormu". Setiap manajer akan berusaha jatuh bangun untuk mewujudkan keinginan atasan. Sang perwira   juga akan memasang badan demi memenangkan hati komandan.

Keinginan atasan  manajer sering disebut perintah. Untuk memastikan mitra kerja maupun bawahan, manajer tidak jarang mencatut bahwa  proyek ini  merupakan perintah bos. Bagi perwira juga  akan melakukan jurus yang sama, ini perintah komandan.  Meskipun menggunakan perintah sebagai  kata kunci, namun penerapan dan implikasinya bisa berbeda bagi si manajer dan perwira. Untuk membedakan maksud perintah, selanjutnya perintah dipakai untuk dunia manajer, sedangkan order dipakai untuk dunia perwira.

Apabila  manajer menerima perintah, manajer  harus mencari rujukan dan rekomendasi untuk meyakinkan bawahannya bahwa  mereka sedang berjalan pada arah yang benar. Bahkan manajer  merasa perlu untuk mengulang-ulang bahwa perintah  tersebut merupakan instruksi dari atasan mereka. Dalam menjalankan perintah itupun, sang manajer harus menguasai  teknik berkomunikasi, negosiasi untuk menghadapi komentar bahkan kritik bawahannya.  Sementara, seorang perwira yang menerima  order dari atasan, cukup sekali mengatakan bahwa ini order komandan. Anak buah perwira tentu serempak menjawab siap laksanakan.

Hasilnya, pekerjaan manajer dapat dicapai dengan negosiasi, perdebatan sedangkan perwira menyelesaikannya tanpa hal-hal yang  kontraproduktif dari bawahan. Dari indikator tersebut, hampir dipastikan bahwa  perwira akan lebih baik menyelesaikan order karena lebih cepat. Jika demikian adanya, mengapa manajer tidak mengadopsi  gaya  order perwira untuk menyelesaikan  perintah tersebut?  Selain lebih cepat, tentu akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan.

Hal tersebut sangat tergantung pada implikasi. Seorang manajer berusaha untuk meyakinkan bawahan dan mitra kerja dengan alasan bahwa selain membagikan tanggungjawab, dia juga sedang membagikan resiko yang dimiliki tugas tersebut. Sedangkan perwira tidak perlu "berbusa-busa" untuk berbagi  resiko karena dalam dunia perwira tanpa ada tugas pun mereka sudah menanggung resiko. Hal lain,  resiko selalu berada pada pemberi perintah - sang komandan. Meskipun dalam faktanya sang komanda ada yang menghianati  dirinya sendiri dengan membantah  bahwa dia pernah mengeluarkan sebuah order.

Bagi manajer akan melakukan perintah yang diberikan padanya dalam bentuk tertulis. Sehingga begitu perintah itu diberikan maka  atasan  secara  faktuil sudah menyatakan bahwa resiko berada pada atasan sepanjang perintah dilakukan tidak menyimpang. Namun bagi perwira, order tidak lazim dituangkan dalam tulisan karena kebiasaan di lapangan dimana tidak memungkinkan mengeluarkan  order dengan tulisan sedangkan resiko yang dihadapi sudah di depan hidung. Sebagaimana dikemukakan seorang "para komando" bagi seorang perwira hanya ada 2 (dua) sikap menerima order; pertama, siap laksanakan, atau kedua mundur dari jabatan.

Dari uraian tersebut di atas, seolah-olah  perwira akan diuntungkan dalam proses pelaksanaan, sedangkan  sang manajer akan lebih aman dari sisi implikasi atau  resiko yang dihadapi.

Apabila terjadi dampak dari order yang tidak sejalan dengan kepentingan publik maka perwira akan menghadapi sendiri resiko karena tidak bisa menunjukkan bahwa  dia mendapat order dari komandan. Order dalam dunia perwira  sudah identik dengan   fatwa atau bahkan sabda. Artinya, seorang prajurit tidak mungkin melakukan tindakan (operasi) tanpa order dari atasannya. Anehnya, dalam persidangan sebuah kasus, seorang prajurit sering dituduh melakukan tindakan (operasi) sendiri dan harus bertanggungjawab sendiri.

Berbeda halnya dengan manajer yang menghadapi tuduhan dalam persidangan. Apabila manajer mampu menunjukkan bahwa ada perintah dari atasan dan manajer dan mitra kerjanya tidak menyimpang dari perintah itu maka dia tidak bisa dituduh bertanggungjawab sendiri. 

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa persidangan manajer lebih banyak terjadi disebabkan karena dia menjalankan tugas dan tidak  bisa membuktikan bahwa atasan memberikan perintah. Dengan kata lain, manajer akan berhadapan dengan persidangan jika dia mengadopsi  gaya order perwira. Mengapa bisa terjadi? Faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mencapai puncak adalah akselerasi atau kecepatan perjalanan karir. Untuk lebih cepat mencapai puncak, manajer  terlena dengan kecepatan yang dikendalikannya tanpa sadar bahwa dia masih memiliki atasan. Artinya secepat apapun dia mengemudikan karirnya mash ada atasan yang menentukan arah perjalanan. Tantangan terberat manajer adalah menuruti atasan tapi tidak menyimpang dari arah (visi). Jika diperhadapkan pada dua pilihan, atasan atau arah maka seorang manajer harus memikirkan resiko yang akan dihadapi. Kalau memilih atasan, jalan menuju puncak lebih cepat, tapi resikonya tidak lama bertahan di tahta. Sedangkan kalau memilih arah, maka  tahta mungkin tidak tercapai tapi reputasi yang selama ini dibangun masih bisa dipertahankan bahkan menjadi  modal untuk perjalan selanjutnya. Bagi manajer yang sudah hampir mencapai puncak, menghitung resiko tersebut sudah lazim dibuat, bahkan hitungan itulah yang menyelamatkan dan menghantar dia sampai ke ambang puncak. Tapi di ujung perjalanan sering kali  tidak introspeksi karena  tidak selamanya  formula  yang dilakukan selama ini manjur untuk segala jaman. Waktu yang sudah cukup lama bersama dengan atasan dan realitas di belakang selalu menjadi  rekomendasi manajer untuk maju sekaligus juga tergelincir. Sulit sekali membedakan pilihan yang benar antara atasan atau arah.

Tips

Sebelum terlanjur bergantung pada faktor luar saja, manajer atau perwira harus memiliki hati nurani yang murni. Memiliki tidak cukup. Perlu melatih dan mengasah  dengan mendengarnya. Persidangan yang sesungguhnya terjadi setiap saat ketika manajer atau perwira mendengar nuraninya. Kemurnian hati nurani akan menentukan ketajaman nurani itu sendiri. Memurnikan hati nurani  adalah perjalan panjang sejak lahir. Hati nurani  yang murni hanya muncul dari sebuah  pengudusan dari duniawi (dosa).  Dosa hanya dapat disucikan dengan darah Anak Domba Allah. Masalah yang  tidak pernah disadari adalah  manajer dan perwira tidak percaya pada Anak Domba pemberi Jalan Lurus.