DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Tuesday, June 30, 2009

PENJAJAHAN DALAM BUNGKUS GLOBALISASI

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi)
Masih mengekor pada situs tersebut di atas, globalisasi belum memiliki arti definisi yang mapan.
Istilah globalisasi semakin tersiar mengikuti peristiwa kegagalan ekonomi Amerika Serikat. Tersiar luas karena sudah disebut globalisasi. Jadi tidak perlu didefinisikan lagi batasan wilayah siarannya. Global berarti seluruh wilayah globe (baca: dunia). Istilah global awalnya diperkenalkan sebagai hal-hal yang positif terutama menyangkut perkembangan teknologi. Belakangan hal ini tidak dapat dibatasi karena istilah global dikawinkan pula pada hal-hal yang negatif seperti krisis global.
Setelah mengamati dan merenungkan proses penggelindingan globe dalam istilah yang dipakai dalam semua aspek, muncul kecurigaan terhadap globalisasi ini. Bayangkan globe menggelinding tanpa batasan ruang dan waktu. Hal itu mengisyaratkan globe bebas bergerak ke mana saja dan kapan saja. Kalau globe membawa kabar baik bagi pewaris bumi globalisasi menjadi harapan besar. Namun faktanya, globalisasi juga mengelindingkan ancaman dalam bentuk kerugian dan atau kemerosotan bumi. Pokoknya seram.
Globalisasi menjadi menarik karena dari asalnya, globalisasi hampir tidak pernah bergulir dari negara yang miskin atau sedang berkembang ke negara kaya atau raksasa. Kecenderungannya adalah dari yang besar kepada yang kecil. Analoginya adalah ibarat bola salju yang dibentuk dari atas puncak, menggelinding ke bawah dan semakin rendah wilayah yang akan dituju, maka makin deraslah arus bola ke wilayah itu. Kecepatan bola akan menghasilkan energi gerak yang mampu menghacurkan benda di wilayah yang lebih rendah. Yang lebih tragis lagi, globalisasi ke bawah tidak bisa dibendung sedangkan aliran bola ke atas tidak dimungkinkan.
Jika globalisasi membawa kabar baik, maka dampaknya ke negara bawah tidak terlalu signifikan. Namun jika globalisasi berisi hal-hal yang buruk, dampak buruknya akan berakselerasi bahkan berkembang biak ke negara bawah.
Dari sisi konten, globalisasi tidak pernah mengandung hal-hal yang natural. Kecendrungan isinya pada kemajuan teknologi.
Negara-negara besar melakukan banyak hal seiring dengan kemajuan teknologi. Selain untuk dinikmati sendiri, dampak dari kemajuan teknologi dan kebutuhan berinovasi berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan untuk itu. Apabila biaya hanya ditanggung negara tersebut, maka dapat dipastikan bahwa ke depan beban negara tersebut akan meningkat dan semakin lama semakin besar sesuai dengan kemajuan teknologi. Hal itu akan terjadi karena sumber daya dan ruang yang dimiliki negara itu akan semakin kecil diperhadapkan terhadap semua kemajuan yang dialami.
Untuk menghindari beban berat di masa yang akan datang, maka negara-negara besar merencanakan pembagian biaya kepada negara-negara lain terutama negara yang memiliki sumber daya dan ruang. Tentu saja, sasaran pengalihan biaya itu adalah negara miskin dan berkembang yang belum mengeksploitasi sumber daya dan ruang. Pengalihan biaya itu sering muncul dalam bentuk kerjasama antar negara yang berbendara investasi.
Merenungkan proses globalisasi tersebut, kita dibawa pada suasana sejarah abad 18.
Kebanyakan negara-negara di Eropa melakukan pencarian terhadap tanah baru demi meluaskan areal pertanian dan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat di negaranya. Proses pencarian daerah baru disebut kolonisasi yang dalam pelajaran kewarganegaraan menjadi penjajahan.
Apabila diperbandingkan motif dari pencarian tanah dan pengalihan biaya, maka tidak jauh beda bahwa globalisasi adalah penjajahan.
Penjajahan terhadap sumberdaya di negara miskin dan sedang berkembang untuk diekploitasi dan dibawa ke negara besar asal. Selanjutnya nilai tambah dari proses globalisai itu hanya akan memberikan tambahan energi untuk melakukan globalisasi yang lebih besar.
Adakaha negara bawah yang mampu bertahan? Seperti gelinding bola salju, mungkin tidak ada yang dapat menahan secara permanen gelinding globalisasi. Namund tidak menutup kemungkinan melakukan penahanan dalam jangka waktu yang lebih lama sampai energi dorongan globalisasi mereda bahkan sirna.
Dalam strategi permainan khususnya permainan perang seperti pertandingan bola, strategi bertahan adalah sikap bunuh diri. Satu-satunya strategi yang lebih bertahan adalah menyerang. Mungkinkan negara bawah menyerang negara atas? Secara terminologi sangat dimungkinkan dengan cara memunculkan istilah reglobalisasi. Hal yang perlu dilakukan adalah mendemonstrasikan hal-hal yang bersifat natural yang menjadi kekayaan negara bawah kepada globalisasi negara besar. Naturalisai ini akan menggulung energi global karena kekuatan naturalisasi lebih besar.
Pengalaman Mahatma Gandhi menjadi contoh yang nyata.
Oleh karena itu, globalisasi harus diperangi dengan kearifan lokal yang dimiliki setiap negara.

Thursday, June 25, 2009

JARGON CALON PRESIDEN

Semaraknya pemilihan calon presiden Indonesia 2009 mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan. Kalau dilihat dari penggunaan kata dalam debat, iklan maupun komentar baik melalui media cetak, televisi bahkan online, maka kata "rakyat" menjadi primadona.Mengapa?
Semua calon mau mengambil simpati dan empati dari rakyat. Harapannya rakyat mau memilih sang calon menjadi bosnya lima tahun ke depan. Aneh juga, rakyat yang selama ini selalu di bawah, seolah-olah menjadi majikan dari calon majikan. Proses majikanisasi ini berulang ulang setiap pemilihan presiden di mana pun.
Sayangnya secara jujur, dalam transaksi pihak calon dan rakyat untuk mendapatkan posisi majikan ini, sudah dapat ditebak pihak rakyat sangat lemah.
Rakyat memberikan seluruh kepercayaannya yang bahkan sama dengan kepercayaan kepada Tuhannya kepada calon. Penyerahan total. Tetapi marikita lihat, apakah yang diberikan calon? Hanya jargon titik.
Oleh karena itu, setelah calon dipilih menjadi majikan, maka jargon tinggal kenangan, kehidupan rakyat berlanjut dan berlalu menunggu datangya lima tahun lagi untuk menerima jargon baru.
Dari tiga calon presiden 2009, ada 2 jargon yang sering muncul walaupun tidak menggunakan kata rakyat. Mungkin takut kualat atau terjerat janji.
Ada jargon "lanjutkan". Sementara ada lagi "lebih cepat lebih baik".
Entah disengaja atau tidak, jargon tersebut menjadi pertentangan yang menarik dalam kelakar masyarakat.
Seorang teman roker alias langganan kereta mengajak supaya mendukung program lanjutkan. Tapi dikomentari oleh roker lain, apakah masih bisa dilanjutkan kalau tidak cepat dan lebih baik? Komentar tersebut menjadi menarik karena dua teman saling mempertahankan dan mengajukan jargon yang dipegang.
Padahal kalau berbalik ke fakta sejarah, hampir mustahil ada untungnya atau manfaatnya memperjuangkan jargon dan pencetus jargon. Semua berlalu seiring lewatnya sang waktu.
Aku sendiri merenungkan komentar teman-teman tersebut dalam perjalanan di kereta. Apa sebetulnya yang dapat dipegang dari jargon itu? Kalau mau hitungan kasar, lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya bagi rakyat. Mengapat tidak? Yang pasti jargo lebih sebagai ajang adu mulut bahkan adu otot, dibandingkan memberi kekuatan fisik dan rohani kepada rakyat. Belum lagi niat dari jargon bukan untuk dijadikan pegangan bagi pemilik maupun penerima sekaligus pemegang jargon itu.
Lalu untuk apa memori rakyat direcoki jargon itu? Apakah perlu dilanjutkan jargon itu meskipun lebih cepat dan lebih baik? Apakah calon tanpa jargon lebih berguna?

Saturday, June 13, 2009

MENCAPAI KARIR MENATAP RESIKO

 

Sebagai profesional, seseorang dituntut menyelesaikan tugas yang diemban. Tugas lebih sering datang dari atasan atau dari instansi majikan. Sebagai bawahan atau mitra kerja, melaksanakan tugas yang diminta tidak sulit. Permasalahan utama adalah apakah kita mau melakukan perintah yang diminta atasan atau siapapun  dengan mengorbankan pilihan-pilihan yang  selama ini kita bangun (baca : karir)?.

Seorang  manajer level menengah misalnya, pastilah sudah menghitung hari dan beban yang akan dijalani untuk mencapai   tangga karir yang lebih baik, puncak manajer. Tentu saja untuk mencapai  cita-cita tersebut, sang manajer tidak  cukup dengan belajar dan bekerja keras. Persoalan utamanya adalah apakah dia akan tergelincir pada saat meniti  jalan yang ada di depan?  Masalah ini juga dihadapi seorang perwira menengah yang  bercita-cita untuk menjadi Panglima. Secara potensi baik manajer maupun perwira memiliki  modal yang lebih dari cukup untuk sampai ke puncak karir mereka. Tapi faktanya, banyak yang tidak sampai bahkan melorot ke bawah jabatan semula. Apa penyebabnya?

Dalam dunia karir, seseorang yang ambisi untuk mencapai puncak tentu saja sudah mengedepankan faktor-faktor  yang menunjang keberhasilan. Baik manajer maupun perwira  faktor yang paling utama adalah atasan mereka. Di belahan dunia manapun dan di sektor apapun, atasan merupakan kunci keberhasilan bawahan.  Barangkali semua mengamini kata bijak lama "Jangan melupakan  mentormu". Setiap manajer akan berusaha jatuh bangun untuk mewujudkan keinginan atasan. Sang perwira   juga akan memasang badan demi memenangkan hati komandan.

Keinginan atasan  manajer sering disebut perintah. Untuk memastikan mitra kerja maupun bawahan, manajer tidak jarang mencatut bahwa  proyek ini  merupakan perintah bos. Bagi perwira juga  akan melakukan jurus yang sama, ini perintah komandan.  Meskipun menggunakan perintah sebagai  kata kunci, namun penerapan dan implikasinya bisa berbeda bagi si manajer dan perwira. Untuk membedakan maksud perintah, selanjutnya perintah dipakai untuk dunia manajer, sedangkan order dipakai untuk dunia perwira.

Apabila  manajer menerima perintah, manajer  harus mencari rujukan dan rekomendasi untuk meyakinkan bawahannya bahwa  mereka sedang berjalan pada arah yang benar. Bahkan manajer  merasa perlu untuk mengulang-ulang bahwa perintah  tersebut merupakan instruksi dari atasan mereka. Dalam menjalankan perintah itupun, sang manajer harus menguasai  teknik berkomunikasi, negosiasi untuk menghadapi komentar bahkan kritik bawahannya.  Sementara, seorang perwira yang menerima  order dari atasan, cukup sekali mengatakan bahwa ini order komandan. Anak buah perwira tentu serempak menjawab siap laksanakan.

Hasilnya, pekerjaan manajer dapat dicapai dengan negosiasi, perdebatan sedangkan perwira menyelesaikannya tanpa hal-hal yang  kontraproduktif dari bawahan. Dari indikator tersebut, hampir dipastikan bahwa  perwira akan lebih baik menyelesaikan order karena lebih cepat. Jika demikian adanya, mengapa manajer tidak mengadopsi  gaya  order perwira untuk menyelesaikan  perintah tersebut?  Selain lebih cepat, tentu akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan.

Hal tersebut sangat tergantung pada implikasi. Seorang manajer berusaha untuk meyakinkan bawahan dan mitra kerja dengan alasan bahwa selain membagikan tanggungjawab, dia juga sedang membagikan resiko yang dimiliki tugas tersebut. Sedangkan perwira tidak perlu "berbusa-busa" untuk berbagi  resiko karena dalam dunia perwira tanpa ada tugas pun mereka sudah menanggung resiko. Hal lain,  resiko selalu berada pada pemberi perintah - sang komandan. Meskipun dalam faktanya sang komanda ada yang menghianati  dirinya sendiri dengan membantah  bahwa dia pernah mengeluarkan sebuah order.

Bagi manajer akan melakukan perintah yang diberikan padanya dalam bentuk tertulis. Sehingga begitu perintah itu diberikan maka  atasan  secara  faktuil sudah menyatakan bahwa resiko berada pada atasan sepanjang perintah dilakukan tidak menyimpang. Namun bagi perwira, order tidak lazim dituangkan dalam tulisan karena kebiasaan di lapangan dimana tidak memungkinkan mengeluarkan  order dengan tulisan sedangkan resiko yang dihadapi sudah di depan hidung. Sebagaimana dikemukakan seorang "para komando" bagi seorang perwira hanya ada 2 (dua) sikap menerima order; pertama, siap laksanakan, atau kedua mundur dari jabatan.

Dari uraian tersebut di atas, seolah-olah  perwira akan diuntungkan dalam proses pelaksanaan, sedangkan  sang manajer akan lebih aman dari sisi implikasi atau  resiko yang dihadapi.

Apabila terjadi dampak dari order yang tidak sejalan dengan kepentingan publik maka perwira akan menghadapi sendiri resiko karena tidak bisa menunjukkan bahwa  dia mendapat order dari komandan. Order dalam dunia perwira  sudah identik dengan   fatwa atau bahkan sabda. Artinya, seorang prajurit tidak mungkin melakukan tindakan (operasi) tanpa order dari atasannya. Anehnya, dalam persidangan sebuah kasus, seorang prajurit sering dituduh melakukan tindakan (operasi) sendiri dan harus bertanggungjawab sendiri.

Berbeda halnya dengan manajer yang menghadapi tuduhan dalam persidangan. Apabila manajer mampu menunjukkan bahwa ada perintah dari atasan dan manajer dan mitra kerjanya tidak menyimpang dari perintah itu maka dia tidak bisa dituduh bertanggungjawab sendiri. 

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa persidangan manajer lebih banyak terjadi disebabkan karena dia menjalankan tugas dan tidak  bisa membuktikan bahwa atasan memberikan perintah. Dengan kata lain, manajer akan berhadapan dengan persidangan jika dia mengadopsi  gaya order perwira. Mengapa bisa terjadi? Faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mencapai puncak adalah akselerasi atau kecepatan perjalanan karir. Untuk lebih cepat mencapai puncak, manajer  terlena dengan kecepatan yang dikendalikannya tanpa sadar bahwa dia masih memiliki atasan. Artinya secepat apapun dia mengemudikan karirnya mash ada atasan yang menentukan arah perjalanan. Tantangan terberat manajer adalah menuruti atasan tapi tidak menyimpang dari arah (visi). Jika diperhadapkan pada dua pilihan, atasan atau arah maka seorang manajer harus memikirkan resiko yang akan dihadapi. Kalau memilih atasan, jalan menuju puncak lebih cepat, tapi resikonya tidak lama bertahan di tahta. Sedangkan kalau memilih arah, maka  tahta mungkin tidak tercapai tapi reputasi yang selama ini dibangun masih bisa dipertahankan bahkan menjadi  modal untuk perjalan selanjutnya. Bagi manajer yang sudah hampir mencapai puncak, menghitung resiko tersebut sudah lazim dibuat, bahkan hitungan itulah yang menyelamatkan dan menghantar dia sampai ke ambang puncak. Tapi di ujung perjalanan sering kali  tidak introspeksi karena  tidak selamanya  formula  yang dilakukan selama ini manjur untuk segala jaman. Waktu yang sudah cukup lama bersama dengan atasan dan realitas di belakang selalu menjadi  rekomendasi manajer untuk maju sekaligus juga tergelincir. Sulit sekali membedakan pilihan yang benar antara atasan atau arah.

Tips

Sebelum terlanjur bergantung pada faktor luar saja, manajer atau perwira harus memiliki hati nurani yang murni. Memiliki tidak cukup. Perlu melatih dan mengasah  dengan mendengarnya. Persidangan yang sesungguhnya terjadi setiap saat ketika manajer atau perwira mendengar nuraninya. Kemurnian hati nurani akan menentukan ketajaman nurani itu sendiri. Memurnikan hati nurani  adalah perjalan panjang sejak lahir. Hati nurani  yang murni hanya muncul dari sebuah  pengudusan dari duniawi (dosa).  Dosa hanya dapat disucikan dengan darah Anak Domba Allah. Masalah yang  tidak pernah disadari adalah  manajer dan perwira tidak percaya pada Anak Domba pemberi Jalan Lurus.

 

Monday, June 08, 2009

Generasi Entertain

Entertain merupakan kata yang paling digemari kalangan remaja dan pemuda. Tanpa melihat latar belakang ekonomi, semua remaja keranjingan untuk masuk dalam komunitas entertain. Pengaruh entertain bagi generasi muda tidak sekedar jargon atau prokem alias bahasa gaul. Entertain sudah menjadi gaya hidup bahkan tujuan hidup. Mari kita tanyakan anak-anak remaja di sekitar kita. Mereka pasti lebih memilih membeli gadget dibandingkan membeli buku sekolah. Gadget yang disebut HaPe, tidak cukup dengan kapasitas fungsi utama sebagai alat komunikasi. HaPe remaja kini minimal memiliki alat foto, pemutar musik bahkan memiliki kemampuan internet.

Menjadi pertanyaan, apakah yang dicari dari kecanggihan gadget tersebut? Jawabnya adalah tren dan tidak lebih dari entertain. Musik favorit menjadi ringtone. Artis idola menjadi penghuni folder masing-masing. Segala petuah kuno yang mengajak mereka hidup dengan akar keagamaan yang kuat mulai digeser dengan pesan singkat teman. Orang tua banyak yang frustasi karena anak-anaknya lebih percaya iklan daripada kasihnya.
Yang tidak kalah seru, generasi ini ingin menjadi seperti idolanya. Sayang yang paling jawara sebagai idola adalah para artis. Lebih sayang lagi, para artis tersebut lebih banyak yang dililit persoalan daripada yang menang dalam persoalan. Paling disayangkan, persoalan para idola dipercayakan pada duni hitam atau dunia gemerlap.

Belajar masih dilakoni, tetapi brain memori sudah semakin diisi fantasi dan informasi enterteiner sehingga porsi memori untuk merenungkan dan melakukan ilmu alam semakin berkurang. Spirit generasi ini sudah bergeser dari tunas melati bangsa menjadi reinkarnasi showbiz dan advertise. Jangan tanya siapa nama menteri yang bertanggung jawab untuk usaha mikro. Jangan juga ditanya menteri yang mengurusi Nusantara Timur. Konon, mereka sendiri tidak pernah tahu lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Lalu bagaimana nasib kelanjutan bangsa dan negara ini? Belajarlah entertain. Buatlah entertain menjadi jembatan komunikasi yang menghantar generasi kepada keluhuran hidup masa depan.

Friday, May 29, 2009

Noel - Majesty

Majesty...Majesty unto Jesus

Wednesday, May 27, 2009

DUA LEBIH BAIK DARI SATU

Two are better than one,     because they have a good return for their work:   If one falls down,     his friend can help him up.     But pity the man who falls nd has no one to help him up!

Kalimat bijak tersebut merupakan pedoman  hidup yang sudah teruji dari  masa ke masa. Contoh yang paling klasik adalah rumah tangga-keluarga. Keluarga dibangun dari  dua orang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan.  Bahkan dalam diri manusia itu sendiri  banyak anggota tubuh yang terdiri dari 2 elemen. Sebut saja otak, mata, telinga, hidung, tangan, paru-paru, payudara, kaki. Fungsi sepasang organ-orang tersebut akan lebih baik dibandingkan dengan jika salah satu terganggu.

Dalam peradaban yang lebih modern, pedoman tersebut di atas semakin luas dan lebar merambat memasuki hampir seluruh  aspek dalam masyarakat, bangsa bahkan negara. Dalam tatanan masyarakat selalu  ditampilkan pimpinan masyarakat yang terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua. Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemimpin seperti Presiden selalu diduakan oleh Wakil Presiden.

 

 

Saturday, May 23, 2009

CALON PRESIDEN 2009

Pendaftaran kandidat Presiden-Wakil Presiden telah selesai. Dari beberapa figur yang direlease partai-partai, tingga 3 pasang yang resmi sebagai kandidat. Mereka adalah 1)JK-Wiranto: 2)SBY-Boediono; 3)Mega-Prabowo. Tugas pertama yang telah dilakukan para kandidat adalah menyampaikan vis-misi pasangan dalam memimpin nusantara 5 tahun kedepan.Lewat kanal televisi, pemaparan visi-misi berlangsung maraton tiga hari berturut-turut yang dimulai pada hari Rabu 20 Mei 2009. Peserta awal adalah pasangan JK-Win, namun audisi tersebut tidak mengikutsertakan Wiranto. Hari kedua, yang bersamaan dengan hari libur nasional merupakan giliran SBY. Hari ketiga, yang jatuh pada hari Jumat, giliran Mega. Berbeda dengan 2 kandidat, Mega memakai kesempatan audisi untuk memperkenalkan calon Presiden Prabowo.
Penentuan hari dan giliran kandidat masih misteri, terlebih jika dikaitkan dengan sejarah dibalik hari-hari yang ditetapkan. Untuk peserta pertama tentu memiliki keunggulan tersendiri karena jatuh pada tanggal 20 Mei. Bagi bangsa Indonesia, tanggal 20 Mei memiliki arti yang keramat, sehingga ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peserta kedua, dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2009, yang merupakan hari libur internasional, umat Kristiani merayakan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Peserta ketiga, yang jatuh pada hari Jumat, yang merupakan hari yang sakral bagi umat Islam.

Seandainya peserta audisi dan pemirsa yang turut mengikuti acara tersebut yang diberikan mandat untuk menentukan pemenang seperti pelaksanaan Indonesian Idol, maka dapat dipastikan kandidat pertama akan menjadi pemenang. Selain ditopang momentum peringatan kebangkitan nasional, kandidat bisa membuktikan bahwa dia seorang yang melakukan sesuai perkataan. Kandidat hadir dalam penampilan yang sederhana dan bahasa yang lugas.
Sayang, kontes tersebut bukan Indonesian Indol atau American Idol atau sejenisnya yang lebih merupakan domain hiburan. Kontes tersebut belum menentukan siapa pemenangnya. Pemenang sesungguhnya ditentukan pada hasil contrengan yang paling banyak diraih kandidat pada tanggal 8 Juli 2009.
Patut disayangkan, pemaparan vis-misi kandidat pemimpin bangsa ke depan itu disamakan dengan acara hiburan. Lebih disayangkan lagi, acara itu merupakan siaran ulang dan penuh dengan interupsi pihak lain (advertising). Apakah hal ini juga sudah menjadi hal biasa atau karena terpaksa, tergantung kocek? Dugaan kuat, alasan utama karena kocek alias dana. Ironis, visi-misi kandidat pimpinan nasional yang akan menentukan nasib bangsa ke depan sudah dilumuri mashab kocekis - kapitalis.

Dari pemaparan semua kandidat, bobot ekonomi sangat mendominasi. Kandidat pertama dan ketiga kental dengan konsep ekonomi mandiri. Ekonomi diberdayakan dari kekuatan, potensi, dan keterampilan bangsa ini. Mimpi? Bukan. Mereka membeberkan beribu macam bukti bukan janji kemandirian anak-anak bangsa. Bahkan satu kandidat dengan yakin meuturkan, kemandirian itu dapat dikerjakan oleh rakyat kalangan wong cilik bukan hanya kaum entepreneur.
Pemaparan dua kandidat sekaligus menjawab perdebatan yang sedang terjadi di bilik lain, neoliberalisme lawan kerakyatan.

Seorang berpendapat bahwa dia tidak setuju ekonomi kerakyatan karena tidak pernah ada dalam teori. Awalnya, opini doktor ekonomi tersebut dapat dimaklumi karena demikianlah adanya. Namun, patut menjadi kebanggaan karena inilah saatnya melahirkan mashap ekonomi baru yaitu ekonomi kerakyatan. Ekonomi yang tidak menolak kocekis, tapi mendahulukan energi dan sinergi rakyat. Ekonomi yang dibangun dengan memberikan kesempatan kepada rakyat sebelum menghakimi rakyat dengan sloga tidak mampu. Ekonomi yang dibangun dengan sistem perbankan yang tidak mengutamakan jaminan kredit, tapi lebih melihat kepada kesungguhan rakyat untuk memperbaiki diri.
Teori memang sudah diuji, tapi membangun sebuah negeri tidak kokoh dengan landasan teori. Terobosan salah satu kunci penting yang akan melahirkan teori baru.
Rakyat dan spirit kegotong royongan sudah terbukti berjaya menghempaskan kapitalis pada masa Indonesia merebut kemerdekaannya. Ekonomi rakyat bukan teori tapi bukti.