Thursday, April 30, 2009
Wednesday, April 29, 2009
KESEMPATAN (CHANCE)
Tuesday, April 28, 2009
Saturday, April 11, 2009
ASAL ATAU TUJUAN
Dalam hdup manusia bergerak dari satu titik menuju titik lain. Titik pertama disebut dengan asal sedangkan titik kedua dinamai tujuan. Asal dan tujuan menjadi penting dalam hidup karena sangat menentukan hampir semua aspek kehidupan. Sulit menetapkan apakah asal lebih penting atau tujuan lebih penting. Persoalan yang dihadapi seseorang adalah apabila dia telah mencapai tujuan dia tidak bisa berhenti pada titik itu. Dia harus bergerak lagi mencapai titik lain, sedangkan tujuan yang telah dicapai otomatis berubah menjadi titik asal.
Pertanyaan selanjutnya apakah yang menjadi tujuan dalam hidup itu? Bisakah manusia memiliki satu tujuan? Dimanakah letak cita-cita atau visi dan misi seseorang atau perusahaan? Benarkah pernyataan bahwa tidak ada yang kekal kecuali perubahan?
Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, diberikan ilustrasi. Seandainya seseorang explorer berjalan dari Jakarta, menuju satu titik persinggahan, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju titik lain, pada akhirnya explorer tersebut hanya berhenti apabila telah kembali di Jakarta. Jadi dari Jakarta tiba di Jakarta, baru bisa berhenti. Ilustrasi tersebut membantu pikiran dan harapan bahwa ada satu tujuan yang bisa membuat seseorang tidak akan mencapai tujuan yang lain yaitu ketika dia sudah tiba pada asalnya. dengan demikian yang semula asal akan menjadi tujuan akhir.
Untuk membebaskan seseorang dari perangkap dimensi yang membatasi ruang geraknya maka perlu diketahui bahwa ada asal yang menjadi tujuan yang satu saat pasti dihadapi seseorang yaitu pangkuan TUHAN.
Sunday, April 05, 2009
Situ Gintung : Bencana Alam atau Kecelakaan
Banjir yang melanda perumahan-perumahan di Ciputat akibat Situ Gintung sering disebut sebagai Tsunami Lokal. Istilah Tsunami Lokal dilahirkan karena pengalaman waktu kejadian yang mendadak dan relatif singkat tapi menelan banyak korban. Air bah yang melanda rumah dengan ketinggian 3-6 meter dan kecepatan yang spektakuler telah menyebabkan korban meninggal sudah 103 orang dan pencarian masih terus dilakukan. Dari sisi regu penolong (rescue), diketahui bahwa tim SAR yang melakukan pencarian korban adalah tim yang turun pada saat Tsunami akhir tahun 2004 di NAD.
Sepertinya ada benang merah yang mentautkan kejadian tsunami di NAD dengan peristiwa Situ Gintung. Namun mendengar kesaksian dari warga dan perkembangan informasi media massa, ada perbedaan yang signifikan. Yang pasti, Situ Gintung terjadi karena ambruknya pertahanan tanggul ( bangunan waduk). Konon waduk yang buatan manusia pada masa kekuasaan penjajahan Belanda itu tidak pernah dilakukan renovasi atau revitalisasi konstruksi. Jadi wajar, bangunan yang sudah di atas 50 tahun beroperasi terus menerus tanpa pemeliharaan yang terus menerus pula akan menghadapi panggilan usia, rapuh.
Korban yang relatif besar tersebut tidak akan terjadi apabila para pedagang properti tidak memaksakan (mungkin pakai pelumas) untuk mendapatkan izin dari pemerintah untuk membangun perumahan asri dan mahal di kasawan aliran saluran Situ yang letaknya lebih rendah dari Situ itu sendiri. Kondisi perumahan yang lebih rendah dari Situ rapuh tersebut, lolos dari perhatian para konsumen ketika menerima iklan dan penawaran dari pengembang. Rumah asri yang ditawarkan seolah menjawab mimpi konsumen yang mengidamkan rumah bagus, besar, mewah. Pemenuhan ambisi dan mimpi sering menjadi selubung yang menutup mata hati untuk lebih melakukan kaji (baca: zikir). Apalagi beberapa artis dan pejabat sudah terlebih dahulu menyatakan akan menghuni property itu. Sehingga akhirnya tanpa sadar bahaya maka jualan properti di kawasan itu menjadi laris manis seperti sawo manis.
Setelah semua properti terjual, mulai ramailah suasana di perumahan-perumahan itu, maka dipilihlah perwakilan RT dan RW sehingga semakin yakinlah bahwa secara administratif, daerah itu resmi menjadi kawasan pemukiman. Para Pamong juga seakan menutup mata bahwa perumahan itu berada diposisi bencana. Para pamong bukan mengingatkan (menegur) penghuni itu, sebaliknya semakin gencar menarik pajak dan retribusi seiring kondisi perekonomian warga yang semakin bersemi.
Selepas kejadian Situ Gintung, TUHAN menjadi sasaran pertama kritik dan komplain atas kejadian itu. TUHAN adalah pencipta alam semesta. Jadi bukan pembangun Situ Gintung dan Perumahan di aliran situ itu, sehingga kritikan dan bahkan mengarah kepada hujatan itu salah alamat.
Penyebab tsunami di NAD adalah alamiah pergerakan alam semesta (lembeng bumi bergeser). Wajar kalau tidak ada satupun manusia yang memastikan masa dan waktu serta dasyatnya tsunami. Sementara banjir Situ Gintung dapat diketahui dari pengamatan terhadap kondisi konstruksi.
Dari informasi tersebut di atas, dapat disimpulkan banjir Situ Gintung bukan merupakan bencana alam, tapi lebih merupakan kecelakaan. Jadi kita tidak perlu melantunkan lagu mas Ebiet G Ade (EGA)..
Wednesday, March 25, 2009
LOWONGAN
Monday, March 16, 2009
USAHA RUMAH (UR) KARTIKA
Alexo membuat sebuah keputusan yang radikal pada awal Maret 2009. Ia mengingat mimpinya yang sudah lama terkubur memiliki bisnis, seperti sepupunya. Bisnis yang dipilihnya adalah menjadi pengecer gas isi ulang ukuran kecil. Penghasilan yang diperolehnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta tidak menjamin tersedianya kebutuhan isteri dan ketiga anaknya. Apalagi Nining puteri sulungnya sudah akan menginjak bangku SD tahun ini. Dari bisik-bisik menjelang tidur dengan isteri tersayang Kartika, Alexo kaget mengetahui uang pertama masuk sekolah masa sekarang mencapai puluhan juta.
Keputusan radikal itulah yang membuat Alexo kelihatan lebih pendiam dan sibuk akhir-akhir ini. Pergulatan dalam fikirannya menghanyutkan Alexo pada berbagai masalah. Alexo seolah-olah terhisap oleh kuatnya suara yang mendengung-dengung. Bisnis itu susah. Bagaimana kalau gagal. Barang dagangan tidak laku. Saingan banyak dan modalnya lebih kuat. Namun yang paling membebat hati dan fikiran Alexo adalah dari mana modal usaha. Bisnis butuh modal…usaha perlu biaya dan pengorbanan. Kartika tak kuasa membendung kegalauan fikiran Alexo karena Kartika sendiri sangat mendukung mimpi Alexo untuk memulai bisnis, tapi Kartika belum punya jalan keluar untuk mencari modal. Sekali pernah Kartika menyarankan Alexo untuk pinjam modal dari teman. Tapi siapa? Teman Alexo hampir semua mempunyai masalah yang sama.
Meskipun dilanda kebuntuan modal usaha, Alexo tetap bertekad untuk memvisualisasikan impiannya berbisnis. Walaupun belum punya modal dia mencari informasi harga tabung gas ukuran kecil. Dimana lokasi usaha yang akan dijalankan. Alexo juga sudah memiliki komunikasi dengan agen gas. Selain itu, Alexo sudah menghitung tetangganya yang akan jadi pelanggan. Dia sangat meyakini bahwa semua warga masyarakat di sekitarnya sudah menggunakan gas mengikuti program konversi minyak tanah ke gas yang dicanangkan pemerintah sejak tahun lalu. Secara kasar Alexo memerlukan dana sekitar Rp.9 jt yang akan dipergunakan untuk :
- membeli tabung kosong 50 @Rp.150.000
- membeli isi gas 25 tabung @Rp.14.000
- membuat iklan 500 lbr @Rp.100
- sewa kios sebulan Rp.500.000
- biaya operasional Rp.500.000
Alexo memperhitungkan jumlah keluarga di dalam wilayah usahanya yang menggunakan gas ukuran 3kg sekitar 600 kepala keluarga. Dengan rata-rata pemakaian 1 tabung dua minggu, Alexo mempunyai target akan menjual 20 tabung sehari. Kartika mengusulkan agar dibuat iklan untuk pemberitahuan kepada warga. Mulanya Alexo kurang sependapat dengan Kartika mengenai iklan karena alasan pemborosan biaya. Tapi Kartika berhasil menghilangkan keraguan Alexo dengan menjelaskan bahwa banyak warga yang tidak tahu menahu perkembangan warga di sekitarnya. Biasalah penyakit umumnya warga Jakarta, cuek alias autis. Selain menyetujui pemasangan iklan, Kartika kebagian tugas untuk membuat iklannya. Selain untuk menghargai Kartika, Alexo menyetujui iklan karena dia kurang paham komunikasi massa. Terlebih lagi, yang menjadi perhatian utamanya adalah modal. Dari mana cari modal?
Alexo pernah berfikir untuk meminjam ke bank, mengingat dia memiliki rekening di salah satu bank besar. Rekening itu merupakan penampungan penghasilan Alexo dari perusahaan. Niat ke bank urung dilanjutkan karena Alexo pernah mendengar dari kawan dekatnya betapa susahnya mengajukan pinjaman ke bank. Meskipun saat ini sedang digalakkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) tapi tetap saja bank mempersyaratkan jaminan. Bahkan Alexo hampir tidak percaya mendengar untuk mencairkan pinjaman yang disetujui tidak gratis. Harus mengeluarkan biaya survey, amplop pelumas bahkan jasa para pejabat bank. Masih menurut teman Alexo, tetangganya yang berhasil mendapat pinjaman bank Rp. 25 jt harus disunat sekitar Rp.1 jt. Tapi tetangganya tidak berdaya dan suka tidak suka terpaksa rela. Memasuki minggu ke empat bulan Maret 2009, Alexo masih belum menemukan jalan lurus untuk mendapat modal usaha yang sudah ditimang-timangnya setiap saat. Bahkan Kartika sering mengingatkan agar Alexo makan dan istirahat yang akhir-akhir ini mulai dilupakan Alexo.
Suatu hari, Alexo menghadiri rapat karyawan yang diselenggarkan divisi untuk perkenalan dengan bos baru. Seperti biasa, Alexo kurang semangat mengikuti rapat karena selama ini tidak ada artinya bagi Alexo dan teman-teman. Bahkan Alexo sering tidak hadir dengan mengemukakan ada tugas pada saat yang bersamaan dengan rapat. Tapi karena perkenalan dengan bos baru, Alexo menghadiri rapat itu. Alexo akhirnya tahu bos baru masih muda, bernama Andila dari Sulawesi.
Setiap hari Jumat sore, teman sekerja Alexo melakukan olah raga tenis di belakang kantor. Alexo tidak rutin berlatih. Jumat kali ini Alexo berada di lapangan tennis niatnya bukan untuk latihan tapi mau curhat kepada seorang temannya mengenai mimpinya yang menjadi “hantu” akhir-akhir ini. Isteri temannya ini bekerja di Departemen Keuangan. Melalui temannya ini, Alexo mau pinjam uang untuk modal.
Karena Alexo bukan petenis sejati, maka dia memberikan kesempatan kepada rekan lain untuk bermain tennis meskipun dia berhak main terlebih dulu karena dia datang lebih awal. Sambil duduk memperhatikan pukulan temannya, secara tidak sadar, Alexo menggeleng-gelengkan kepala mengikuti bola yang bergerak ke arah lawan. Sesekali Alexo histeris berteriak ketika regu di kanannya gagal memanfaatkan bola yang matang untuk di smash. Larut dalam serunya permainan rekannya Alexo seakan melupakan sejenak beban fikirannya bahkan tujuan utamanya hadir di lapangan tenis sore itu. Bukan hanya rekannya yang asyik berusaha memindahkan bola, Alexo sendiri tidak menyadari kehadiran seorang lain di lapangan itu. Alexo dan rekannya fokus pada gerakan bola tennis. Tiba-tiba terdengar suara datar, “ Bagus juga permainannya”. Suara itu sontak mengejutkan Alexo. Sambil menoleh ke arah pemilik suara, spontan Alexo berucap “ Ehhh pak Andila, maaf pak tidak tahu Bapak datang. Oh tidak apa-apa jawab pak Andil sambil menatap permainan dilapangan.
Pak Andila mengambil posisi duduk di samping Alexo. Alexo sedikit canggung, karena tidak biasa bersentuhan dengan bos selama ini. Kecanggunang Alexo tidak bertahan lama karena Pak Andila membuka percakapan yang mengesankan keramahan. Alexo sendiri mulai mengimbangi percakapan dengan pak Andila bahkan dia mencetuskan niatnya untuk berbisni kecil-kecilan. Beruntung, pak Andila memberikan dukungan moral kepada Alexo untuk segera berusaha. Selain itu, pak Andila berjanji akan mengunjungi rumah Alexo hari Sabtu esoknya.
Seakan mimpi di siang bolong, Alexo seperti mau pingsan ketika hapenya berbunyi dan suara disebelah dikenalnya pak Andila. Lebih menegangkan lagi, pak Andila sudah parkir di depan rumah Alexo. Wah, pak Andila silahkan, repot-repot mengunjungi gubuk kami… basa basi keluarg dari mulut Alexo. Sembari berjalan ke pintu masuk, Alexo memanggil Kartika dan memperkenalkan pak Andila.
Belum lama duduk, pak Andila menyampaikan bahwa dia tertarik pada perbincangan kemarin mengenai rencana Alexo berbisnis. Kedatangan pak Andila selain silaturahim, juga mau mendalami usaha Alexo. Bahkan setelah memperhatikan wilayah sekitar, pak Andila menawarkan kerjasama. Saya bersedia memberikan modal, asalkan pak Alexo dan ibu Kartika sehati dan serius untuk berusaha. Apakah usahanya dijalankan di rumah ini atau ada tempat lain? lanjut pertanyaan pak Andila. Kartika menjawab sebaiknya di rumah ini dulu pak Andila, sambil melihat perkembangannya nanti. OK, itu baik sekali. bagaimana pak Alexo kapan mulai bisnis ini? Sudah ada kesepakatan dengan agen gas itu? Dengan agak ragu Alexo menjawab, sudah pak, bahkan mereka sudah beberapa kali menanyakan kapa dikirim barangnya. Nah, kalau begitu silahkan dimulai saja. Hari senin, uangnya saya serahkan. tapi janji lho, kita mitra dan aku bukan kreditor. Baik pak serentak Alexo dan Kartika menjawab. Baiklah pak Alexo dan ibu, saya mohon pamit.
Setelah mengantar kepulangan pak Andila, Alexo setengah berlari masuk ke rumah dan langsung merangktul Kartika. Sambil berjingkrak-jingkrak, Alexo berteriak, ma kita jadi usaha….kita jadi usaha….Terlalu asyik berjingkrak dan berteriak riang, Alexo lupa bahwa dirumah itu ada Nining dan adik-adiknya yang kebingungan melihat tingkah laku ayah dan bunda mereka. Kartika akhirnya memberikan kerdipan mata memberi isyarat kepada Alexo. Alexo tersadar dan dengan agak malu menyapa Nining dan dua bocah lainnya. Sambil duduk di sofa tua, Alexo seperti terbebani fikiran baru. Hal ini dirasakan oleh Kartika. Ada apa bang, tanya Kartika. Aku teringat iklah yang kau usulkan. Masalahnya kalau ada iklan tentu baiknya ada nama usaha itu. Aku belum punya nama usaha itu kata Alexo. Kartika menjawab kita bikin namanya Kartika saja bang. Kan walaupun ini usaha mitra bersama, tapi kan aku yang menjalankan. Lagian, ini kan masih usaha kecil-kecilan jadi kita bikin saja Usaha Rumah atau UR Kartika. Ehh, pintar juga kau rupanya ya..boleh juga nama itu, jawab Alexo. Tapi Kartika itu bukan berarti namaku saja bang, tapi itu juga berarti Kartini dan Kawan-kawan. Maksudmu potong Alexo. Kartini kan pejuang perempuan. Jadi ini usaha Kartini masa ini dan mengembangkan Kartini lainnya. Wah, sudah jauh rupanya pemikiranmu, jadi tolong buat saja iklannya aku mau menghubungi agen gas itu. Terima kasIh TUHAN serentak mereka berlima spontan bersuara.
