DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Wednesday, February 18, 2009

INTERNATIONAL

HOREEE, BIBI SAM  DATANG

Kemarin paman datang, pamanku dari desa. Dibawakannya rambutan,pisang Dan sayur mayur segala rupa Bercrita paman tentang ternaknya Berkembang biak semua ...la.la.la.la.la.la

Penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Tasya mencerminkan kegembiraan seorang anak ketika Paman datang dari  desa. Keceriaan yang menghidupkan  suasana keluarga itu murni dan tulus bukan dengan paksaan atau karena pemberian Paman. Paman datang paling membawa  pisang, singkong  atau hasil kebun lainnya yang nilainya  bersahaja saja. Tapi kegembiraan yang dilantunkan  merupakan  sambutan kedatangan Paman.

Togar yang tinggal dibalik Dolok Tolong Tapanuli Utara juga memancarkan sukacita yang sama dengan Tasya tatkala Pamannya datang  dari  Medan apalagi dari Jakarta. Sebelum  Paman Togar berkunjung, para tetangga memandang sebelah mata kepada keluarganya. Maklum, Togar hanya seorang  remaja yang tinggal dengan ibunya tanpa  berlimpah harta.

Kesukaan  besar  yang disenandungkan  anak-anak  ketika Paman atau kerabat  datang, bukan monopoli Tasya dan Togar. Hal itu sudah menjadi  warna dari anak bangsa di mana pun asalnya.

Kedatangan  Bibi Sam (baca Hillary R.C) di Jakarta minggu ini sudah seharusnya menjadikan anak bangsa bergembira ria. Kita merasakan bersama betapa gembira kita di Indonesia  menyambut kemenangan Obama sebagai Presiden  Amerika ke 44. Nah kedatangan Bibi Sam kali ini tidak lepas dari rencana kunjungan Obama pada masa yang akan datang. Kegembiraan  apakah yang dapat kita ekspresikan tatkala Bibi Sam  datang ke Jakarta (baca Indonesia)?

Menurut  akal sehat saya, ada minimal 5  hal yang membuat anak bangsa  bersukaria atas kunjungan Bibi Sam yaitu :

1. Harapan

Kunjungan Bibi yang tidak disertai Paman, akan memberikan  harapan baru bagi kita untuk menunjukkan bahwa bangsa kita  memiliki keistimewaan diantara bangsa di dunia

2. Jaringan

Kedatangan Bibi akan menjalin kerjasama dengan negara tetangga di sekitar karena kelazimannya, sebelum ke Indonesia Bibi akan singgah dulu di negara tetangga lain. Tentu saja kunjungan-kunjungan itu sudah dimengerti protokoler  antar negara sehingga mempererat  jaringan yang sudah terjalin.

3. Kepercayaan

Kita tahu selama ini  Indonesia  dipandang sebagai negara yang  kritis untuk dikunjungi. Negara-negara di Eropa, Amerika, Australia menerbitkan fatwa kepada warganya untuk tidak melakukan kunjungan ke Indonesia. Tahun wisata Indonesia 2008 serasa kurang semarak karena dampak  larangan tersebut. Kunjungan Bibi kali ini akan menghapus image minus yang selama ini diberitakan.

4. Persahabatan

sebagai suatu rangkaian  titian muhibah, kehadiran Bibi akan menentukan langkah selanjutnya kesepakatan kerjasama antar negara yang memberi nilai tambah bagi Indonesia. 

5. Keuangan

Aliran kembali pariwisata mancanegara, jalinan kerjasama antara Indonesia dan Amerika akan berdampak positif bagi ekonomi dan keuangan bangsa kita.

Sekarang bola di tangan kita. Apakah kita bisa  menunjukkan budaya yang luhur  menerima kedatangan Bibi Sam atau kita menunjukkan wajah mutung bahkan seram. Sebagai  bangsa yang sudah memiliki pengalaman  dalam dunia international dan sebagai cerminan anak bangsa yang berbudaya luhur, sudah patut kita sambut  Pama, Bibi, kerabat lain ke rumah kita.

Horee, akhirnya Bibi Sam datang juga. 

BEGIN IN LOVE END IN MARRIED (LSD) – Bag 3

 

clip_image014

clip_image015

clip_image016

clip_image017

clip_image018

clip_image019

HABIS…

Tuesday, February 17, 2009

Monday, February 16, 2009

Wednesday, February 04, 2009

BEDA LEADER DAN MANAGER

Dalam kelas kepemimpinan yang baru saya ikuti, diinormasikan bahwa leadership dan manager tidak sama. Narasumber saat itu membentangkan daftar panjang beda leader dan manager.

Saya sendiri tidak dapat mengikuti secara seksama detail daftar tersebut selain panjang juga bahasanya import jadi agak sulit masuk ke memory. Dalam tanya jawab, narasumber menunjuk saya untuk memberikan pendapat sendiri perbedaan tersebut.



Memory saya berhenti sejenak tapi akal saya melakukan sigi terhadap substansi perbedaan. Seketika saya menjawab:

Manager memiliki bentuk segitiga.
Semakin ke atas, semakin sedikit bilangan manager, bahkan top manager di puncak hanya satu.

Leader berbeda, bentuknya seperti pusaran beliung berbentuk kerucut. Semakin ke atas, semakin banyak leader dan semakin kencang pusaran kerucut semakin terbuka kemungkinan untuk melebarkan ke kiri dan ke kanan.Pusaran itu adalah dinamika dalam organisasi itu sendiri.

Jadi manager, dibatasi oleh kursi yang tersedia, sementara leader menciptakan kursi jabatannya.

Saturday, January 31, 2009

PRESIDENTIAL CHARISMATIC LEADERSHIP

Presidential charismatic leadership: Exploring the
rhetoric of social change
Viviane Seyranian, Michelle C. Bligh ⁎
School of Behavioral and Organizational Sciences, Claremont Graduate University, 123 East Eighth Street, Claremont, CA 91711, USA
Abstract
Fiol, Harris and House [(1999). Charismatic leadership: Strategies for effecting social change. Leadership Quarterly, 10, 449–
482] provide support for the theory that charismatic leaders introduce social change by employing communication targeted at
changing followers' values in a temporal sequence: frame-breaking (phase 1), frame-moving (phase 2), and frame-realigning
(phase 3). Using computerized content analysis, the current study extended these findings by testing additional communication
tactics in temporal sequence on a larger sample of US presidential speeches with an expanded presidential charisma measure.
Compared to non-charismatic leaders, charismatic leaders emphasized their similarity to followers in phase 1 and used negation in
phase 2. Both leadership types used increasingly active and tangible language as they moved from phase 1 to 2 to 3. Across phases,
charismatic leaders communicated with imagery and stressed inclusion, while referring less to conceptual thoughts and inspiration.
A theoretical model of social identity framing is introduced to provide additional insight into how leaders communicate for social
change.
© 2007 Elsevier Inc. All rights reserved.
Keywords: Charisma; Leadership; Social change; Communication; Rhetoric; American presidents; Social identity; Framing
1. Introduction
Social change broadly relates to modifying the existing social order, convention, or status quo in some way. For
example, social change may pertain to solving an existing social problem in an innovative way (Fiol, Harris, & House,
1999), changing group norms, or changing relations between groups (Tajfel, 1981). Charismatic leadership theory (Weber,
1946) postulates that charismatic leaders institute social change and alter the status quo in some fundamental way (see Fiol
et al., 1999). Charismatic leaders achieve this end by presenting people with a powerful vision that inspires and motivates
them towards social change. Specifically, these leaders articulate a vision that appeals to people's emotions and boosts self
worth (Emrich, Brower, Feldman,&Garland, 2001; House, Spangler,&Woyke, 1991).As a consequence, followers form
strong emotional attachments and have a high sense of trust and confidence in the charismatic leader (House et al., 1991).
Additionally, these leaders seem to have an almost “magical ability” (Weber, 1946) to evoke in their followers an intrinsic
motivation to make personal sacrifices in implementing the leader's vision (House et al., 1991; see also De Cremer, 2002;
Available online at www.sciencedirect.com
The Leadership Quarterly 19 (2008) 54–76
www.elsevier.com/locate/leaqua
⁎ Corresponding author. Tel.: +1 909 607 3715; fax: +1 909 621 8905.
E-mail address: michelle.bligh@cgu.edu (M.C. Bligh).
1048-9843/$ - see front matter © 2007 Elsevier Inc. All rights reserved.
doi:10.1016/j.leaqua.2007.12.005
McClelland, 1985). The performance and effectiveness of charismatic leaders is theorized to lay, at least in part, in their
ability to inspire followers to work towards a vision rather than motivating followers with rewards and punishments. In
particular, charismatic leaders tend to use specific communication strategies to inspire followers and implement social
change (Bligh, Kohles, & Meindl, 2004a; Emrich et al., 2001; Fiol et al., 1999; Shamir, Arthur, & House, 1994). The
current study replicates and extends previous research by examining additional rhetorical strategies used by charismatic
leaders when persuading followers to adopt their vision of social change.
Drawing on Lewin's (1951) field theory, Fiol et al. (1999) suggest that charismatic leaders affect social change by
employing specific rhetorical strategies targeted at changing followers' personal and social values. These strategies are
theorized to follow a temporal sequence whereby leaders manipulate different aspects of followers' personal
motivations (desires and fears) and social values (convention and innovation) during separate and temporally distinct
stages. In the first phase (phase 1), charismatic leaders employ frame-breaking strategies by attempting to reduce the
value people place on the current social convention. Specifically, these leaders derogate social convention by either:
(a) negating people's desire to maintain the status quo; or, (b) negating their fear of change or innovation. In the second
phase (phase 2), charismatic leaders engage in frame-moving strategies by attempting to move people's neutral state of
either non-support for convention or non-fear of change to support for change. They accomplish this by either:
(a) encouraging people's desire for non-convention; or, (b) encouraging people to fear not changing the old convention.
In the final phase (phase 3), charismatic leaders use frame-realigning to convince followers to support their new vision
by either: (a) substituting a desire for non-convention to a desire for change or innovation; or, (b) substituting the fear of
not changing the old convention to a desire for innovation. It is during this final phase that charismatic leaders mobilize
their support from followers and encourage them towards action.
To test this model, Fiol et al. (1999) coded 42 20th century presidential speeches for language that denoted negation
(i.e., use of “not”), inclusion, and high levels of abstraction in order to include and engage followers in a change process
that defies current social convention. Three speeches were selected for each president: one from the beginning of the
presidency (frame-breaking), one from the middle (frame-moving), and one from the end (frame-realigning). Thus,
these three speeches represented the three temporal phases of social change over the course of each president's first
term in office. While the social phases may have been operationalized around specific issues (e.g., Cuban missile crisis)
that leaders aimed to change, the researchers' rationale for this operationalization was centered on the argument that
presidents have broad agendas of change that may take years to accomplish (Fiol et al., 1999, pp. 464–5). Overall,
results from their study indicated that charismatic leaders were more likely to use negation, inclusion, and abstract
rhetoric than were non-charismatic leaders. Additionally, results showed that charismatic leaders used these techniques
most frequently during the frame-moving stage (phase 2).
Although Fiol et al. (1999) provide support for their model of social change, several limitations to their study should
be noted. First, the study of Fiol et al. (1999) was limited by sample size, as only one speech per phase was analyzed for
each leader. To help ensure that the speeches are typical of the leader's communication (Shamir et al., 1994) during
each phase, we utilize at least two speeches per phase to address this limitation, resulting in an average sample size of
six speeches for each president. We also extend the sample to include more recent U.S. presidents. Second, the current
study utilizes computerized content analysis rather than human coding. Computerized content analysis minimizes
human coding biases and provides a reliable way of uncovering and counting features of language that may otherwise
be undetectable (see Bligh, Kohles, & Meindl, 2004b for a review of content analysis in leadership; see also Bligh et al.,
2004a; Insch, Moore, & Murphy, 1997; Morris, 1994). Finally, the study of Fiol et al. tested three rhetorical devices
(negation, abstraction, and inclusion) in temporal sequence that charismatic leaders may use to institute change, but
additional communication strategies may also be important. Theory and research on charismatic leadership theory
suggests that charismatic leaders use a multitude of rhetorical devices in crafting their visionary messages (e.g. ,Bligh
et al., 2004a; Conger, 1991; Emrich et al., 2001; Holladay & Coombs, 1993, 1994; Shamir et al., 1994; Shamir, House,
& Arthur, 1993), which have not been tested in relation to the social change process of frame-breaking, frame-moving,
and frame-realigning (Fiol et al., 1999). Therefore, additional rhetorical techniques derived from the study of Bligh
et al. (2004a) (similarity to followers, inspiration, action-oriented language, and tangibility) are also included to explore
a wider range of techniques that charismatic leaders may employ during social change. According to Fiol et al. (1999),
each social change phase requires specific communication tactics to achieve the specified goals of that phase. Hence,
each additional communication tactic explored in this study was specifically selected to correspond to how leaders may
achieve the targeted goals of a particular social change phase. We now turn to detailing the theoretical rationale and
hypotheses concerning each of these rhetorical strategies.
V. Seyranian, M.C. Bligh / The Leadership Quarterly 19 (2008) 54–76 55

Thursday, January 29, 2009

BEKERJA

Bekerja adalah satu kata yang paling digemari  sekaligus dihindari manusia. Paradoks memang, tapi suatu  fakta yang tidak bisa dipungkiri. Kalau kita amati di sekitar kita, paradoks itu jelas  kelihatan di jalan raya atau perduaan, pertigaan,  perempatan jalan di kota Jakarta dan kota lainnya. Menjamur  dan menyebar, tidak  tahu dari  mana datangnya, setiap hari  mereka mengulurkan tangan  sambil membisu.  Tidak sungkan menggedor kaca pintu mobil atau sekedar  ikut menumpang di bus kota. Mereka laki-laki dan perempuan, golongan  anak-anak, remaja, dewasa  sampai pada yang  tua  juga tidak mau ketinggalan. Rupa mereka memancar  ceria  aslinya, tapi  demi  alibi, mereka  melesukan wajah dan sorot mata, meminta  belas kasihan. Sakitkah mereka? Tidak mungkin karena mereka bisa berada di lokasi  selama  seharian. Miskinkah mereka? Pasti  jika  yang dimaksud arti  miskin seutuhnya. Lalu mengapa mereka di sana? Tidak adakah tempat yang layak atau yang  kurang layak bagi mereka untuk mengais  rejeki?

Merenungkan nasib  mereka tergoda pula untuk merenungkan  nasib  kita. Kala bertemu dengan isteri-isteri kolega mereka mengeluh  tidak punya pekerja  yang bisa  membantu mereka di rumah. Survey  membuktikan bahwa banyak keluarga  muda  kesulitan mencari pekerja. Nah ini seharusnya berita  baik  buat mereka yang dipersimpangan itu. Bekerja di rumah tuan atau seorang nyonya  lebih  aman dan nyaman daripada  berada  di jalanan. Tetapi mereka tetap saja bertahan  dan tidak mau bergerak (change)? Ada kabar menyebar, mereka dipersimpangan  itu bukan pilihan mereka tapi dipaksakan  kelompok  pengelola. Mereka  sebagai  mesin saja ditempatkan di jalanan pagi hari, siang atau petang hari dijemput untuk dikalkulasikan biaya dan perolehannya. Kejam! Apakah polisi atau pak Lurah tidak bisa  meretas? Ada sumber gosip membisikkan siapa tahu mereka pula cukongnya. Ah mustahil.

Sembari  lewat di tengah sesaknya  mobil lain, mata terhela pada topik utama  harian ibu kota. Berita  ditangkapnya penyelenggara aparatur negara  semakin hari semakin tak terbilang banyaknya. Kasusnya  sama korupsi.  Bukankah mereka sudah bekerja dan mendapatkan kenikmatan yang jauh  lebih baik dan lebih banyak  bahkah lebih terhormat dari mereka  yang mengkaryakan diri di jalanan itu? Alunan berita  radio gayung bersambut dengan warta koran, para koruptor  bermastautin di real estate yang masih di kawasan metropolitan. Wah mereka  pasti  golongan “the have”. Tapi pertanyaan di kepala muncul sama dengan pertanyaan kepada penggiat di jalanan itu. Mengapa mereka  mau melakukan curi  (korupsi)? Bukankah tugas mereka lebih aman dan nyaman  dengan mencegah  korupsi? Mengapa  orang  yang divonis tidak memutus  antrian  di pengadilan tipikor? Issue mendengungkan  vonis itu hanya  sandiwara karena  mereka tidak 100 % di prodeokan. Ponakan tetangga  pernah memergoki  seorang yang divonis sedang  lenggang kangkung  di plaza senayan. Lho kog bisa.

Memasuki sebuah gedung perkantoran dikawasan seputar Monas, aku melihat  waktu sudah  berlalu dari pukul delapan. Sebelum langkahku lenyap di antara himpitan gedung, aku menangkap basah  beberapa  pekerja masih rokokan di warung tenda disebelah pagar  gedung. Setahuku, kantor di daerah itu  sudah on pukul delapan kecuali  kantorku yang memberikan  waktu flexi  tiga puluh menit. Ketika istirahat usai pukul 13, aku masih melihat banyak orang  ngantukan di bawah tenda sambil  bergurau dan masih relax. Teman debat sekantorku memberi bocoran, perokok dan  pengantuk itu, pegawai bumn dan pemerintah daerah. Mereka sudah biasa  seperti itu  dan menunggu  waktu saja. Maksudmu waktu pensiun potongku. Oh tidak, mereka masih produktif, tambahnya. Mereka di situ  karena proyek sudah berkurang. Banyak proyek yang distop takut  masuk KPK. Lho mereka kan bisa melaksanakan proyek tanpa berurusan dengan aparat hukum, kritik ku? Ya, tapi  mereka  tidak mungkin bebas, karena selama ini mereka sudah biasa membelokkan  aturan baik  jumlah proyek maupun  biayanya.

Sampai di ruangan, aku membaca  koran bekas  majikan yang sudah selesai di baca dan  dilongsorkan kepada kami. Koran bertiras  top itu menampilkan  pemandangan  ribuan   lulusan sarjana sedang  antri bahkan diberitakan ada beberapa yang pingsang mendaftar di bursa kerja. Skeptis  benakku berkata, apakah mereka mau bekerja atau sekedar  mencari status bekerja? Kalau mereka masuk kerja, mereka akan seperti  pendahulunya yang mana? Koruptor yang  antri di pengadilan atau koruptor yang belum masuk ke meja hijau? Ataukah mereka  sedang bersolek saja  dengan make up ijajah supaya tidak dicap  pengangguran apalagi pengemis jalanan?

Semua  mendemonstrasikan sebagai pekerja dengan status bekerja kepada mertua, calon isteri, anak-anak atau om dan tante.   Semboyannya sama pokoknya bekerja dan pokoknya uang tebal. Seolah  tertular  narsis, mereka  upaya  melupakan  arti bekerja  sebenarnya.

Para  teman dari  seminari  berkata, bekerja  adalah ibadah. Pun menurut tetangga  yang  rajin ke mesjid setali tiga uang saja, menurut  ceramah om ustad yang didengarnya jumat minggu lalu  bekerja adalah amanah.