DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Wednesday, July 06, 2011

MASIH ADAKAH ORANG-ORANG TERANIAYA

Nasihat kuno mengingatkan "jika Pemimpin liar (baca : have no vision), maka hancurlah bangsa". Pemimpin bangsa merupakan pengampu mandat Tuhan dan rakyat. Berbahagialah bangsa yang memiliki visi pemimpin yang berpihak pada Tuhan dan rakyat. Selain terhindar dari kehancuran, bangsa tersebut akan berjalan dalam arah dan tujuan yang terang dan pasti.

Indonesia memiliki Pemimpin bangsa yang disebut Presiden. Sampai saat ini, Presiden Indonesia merupakan orang ke - 6, setelah Soekarno, Soeharto, BJ.Habibie, Abdul Rahman Wahid, Megawati.
Presiden memiliki visi atau tidak, tergantung pada seberapa besar program kerja yang dicanangkan dicurahkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dari yang tidak makan menjadi makan, dari yang tidak sehat menjadi sehat, dari yang buta huruf menjadi melek huruf, dari yang lugu menjadi berpengetahuan, dari yang miskin menjadi berada.
Tolak ukur tersebut otomatis menjadi refleksi seberapa besar relasi Presiden dengan Tuhan.

Fakta yang dimiliki bangsa Indonesia sampai saat ini, bangsa semakin susah mencari kerja dan semakin banyak yang jatuh di bawah garis kemiskinan. Sekolah harus dibayar lebih mahal, ilmu pengetahuan semakin mahal. Bahkan tidak jarang, di daerah tertentu terjadi kelaparan (bangsa tidak makan). Untuk kasus bangsa tidak makan ini, sulit diterima akal jernih dan sehat. Dulu ketika Bangsa Indonesia merdeka "66" tahun lalu, penduduk yang memiliki pengetahuan Sarjana - S1, sangat langka. Wajar kalau pada masa itu masih ada bangsa yang tidak makan. Kurang pengetahuan.
Tetapi ironis, setelah 66 tahun merdeka, beratus bahkan berpuluh ribu anak bangsa yang sudah memegang gelar S1 dan sudah banyak pula yang sudah memegang gelar S2, S3 sebagai ukuran tingkat pengetahuan paling tinggi, masih ada bangsa yang kelaparan karena tidak makan. Apakah ilmu pengetahuan yang sudah mentok itu masih kalah dibandingkan dengan orang dulu yang tidak mengecap bangku universitas??? Mustahil.

Dalam perjalan bangsa demikian, harapan masih ada kala bangsa ini masih bersanding dengan Tuhan sebagai pemberi mandat. Tetapi jika diamati belakangan ini, rakyat sudah mulai bergerak dari posisinya dan jalan sendiri meninggalkan Tuhan.

Kalau dulu rakyat di zhalimi, dianiaya, ditekan, Tuhan mendengarkan jeritan rakyat dan membebaskan mereka lewat putera-puteri bangsa yang dilahirkan dan dibangkitkan. Jeritan yang merupakan doa masih didengar Tuhan karena Tuhan dan rakyat masih bersanding.

Kondisi saat ini Tuhan tidak lagi mendengar jeritan rakyat yang teraniaya. Pasalnya, rakyat sudah masuk perangkap serakah dan kekuasaan penguasa (Pemimpin). Sadar atau tidak, pemilihan langsung menjadi contoh. Hampir semua daerah melakukan pemilihan kepala daerah. Pada saat "pesta rakyat" tersebut, rakyat dimabukkan pesta itu sehingga turut menjadi bagian dari perebutan kekuasaan. Rakyat mendapat berbagai macam 'rezeki" berbentuk amplop atau atribut seperti pembangunan rumah ibadah dan prasarana. Biaya pemilihan kepala daerah tidak ada yang murah atau bebas pulsa. Miliaran bilangannya. Kalau ada 33 Propinsi dan ratusan Kabupaten dan Kota, berarti triliunan uang hambur-hambur dalam kemabukan pesta rakyat.
Hasilnya, tidak perlu kaget dan heran, menaikkan pemimpin yang bisa hanya menghibur rakyat sesaat saja. Tidak ubahnya seperti jajan di "tempat pinggiran".

Rakyat sendiri lupa bahwa mandat yang diberikannya kepada Pemimpin bukan an sich prerogatif rakyat sendiri. Sejatinya, rakyat memiliki amanah dari Tuhan. Selanjutnya rakyat memberikan mandat kepada Pemimpin. Dengan demikian mandat itu milik Tuhan.
Ketika rakyat lupa terhadap Tuhan sebagai partner pemilik mandat, maka rakyat sulit untuk mengekspresikan jeritan hatinya. Tuhan tidak tuli, tapi rakyat yang tidak memiliki frekuensi dan resonansi yang cukup sebagai orang-orang yang teraniaya.
Doa mereka bukan lagi sebagai orang-orang yang teraniaya, tetapi jeritan mereka sebagai orang yang frustrasi karena tidak bisa memuaskan hatinya.

Sangat mengerikan, membayangkan perjalanan bangsa Indonesia ke depan dimana Tuhan dan rakyat memiliki jarak yang semakin lebar, selebar koyakan hati yang frustasi.
Pemimpin tidak memiliki apa-apa kecuali nikmat kekuasaan. Rakyat tidak mendapat petunjuk dari Tuhan.
Akibatnya adalah meningkatnya kesengsaraan, kepedihan, penganiayaan, kemiskinan, tapi paradoks, orang-orang teraniaya sebagai partner Tuhan juga semakin hilang.

Monday, July 04, 2011

KANDIDAT PRESIDEN DAN DUA PEREMPUAN

Angka 2014 merupakan tahun penting dan harapan bagi rakyat Nusantara. Tahun itu, untuk sekian kali rakyat menorehkan harapan untuk sebuah perubahan dan perbaikan. Titik sinar yang menjadi tumpuan adalah Pemilihan Presiden.
Kalau tidak ada tsunami politik, dipastikan SBY yang sekarang menjadi Presiden tidak memiliki hak untuk mencalonkan diri karena dibatasi konstitusi.
Entah kenapa, rakyat terlalu berharap besar terjadi perubahan pada saat penggantian presiden. Memang tidak bisa dipungkiri, perubahan datang dari orang yang berbeda. Seorang yang sedang menjabat tidak bisa diharapkan melakukan perubahan hanya melanjutkan.
Bisa tidaknya perubahan ditumpukan pada pemilihan presiden tergantung siapa calon presiden.
Mari sejenak kita buat daftar calon presiden yang mungkin naik podium.
  1. Ani Yudhoyono
  2. Aburizal Bakrie
  3. Boediono
  4. Hatta Rajasa
  5. Djoko Suyanto
  6. Prabowo
  7. Pramono
  8. Sultan Hamengkubuwono
  9. Surya Paloh
  10. Wiranto
Tokoh-tokoh tersebut mewakili incumbent, partai, dan tokoh masyarakat.
Sesuai aturan main yang ditetapkan undang-undang, calon hanya bisa maju kalau didukung 25 % suara partai baik tunggal maupun koalisi.
Konsekuensi dari electoral threshol tersebut, maka calon yang dimungkinkan diajukan partai adalah maksimal 4 (itupun kalau ada keajaiban suara bisa dibagi 4 rata).
Yang paling mungkin adalah 3 calon.
Dari daftar tersebut yang paling mungkin adalah :
  1. Aburizal Bakrie dari Partai besar
  2. Prabowo tokoh masyarakat
  3. Pramono, black horse
Sultan Hamengkubuwono agak sulit maju karena masih dibawah bayang-bayang Partai Golkar dan Partai Nasional Demokrat. Kalau mengandalkan Nasdem, tentu harus melewati pendiri Nasional Demokrat dulu yaitu Surya Paloh.
Surya Paloh masih ragu-ragu mendeklarasikan Nasional Demokrat sebagai Partai. Selain itu, sebagai kader Golkar, tentu Surya Paloh masih kalah dibandingkan dengan Aburizal.

Boediono, Ani, Hatta Rajasa, Djoko Suyanto, Pramono nantinya pasti tergantung pada Demokrat.
Tentu saja melihat posisi Demokrat saat ini, Ani dan Pramono diuntungkan karena masih trah dari sejarah dan Ketua Dewan Pembina Demokrat yang sekarang masih menjabat Presiden.
Kalau membandingkan Ani dan Pramono, tentu saja Ani sebagai trah Sarwo Edi, akan memberikan kesempatan kepada itonya untuk maju demi memberikan apresiasi kepada almarhum ayahandanya yang telah berjasa menyelamatkan negara ini dari ulah Untung Cs. Namun sampai akhir hayatnya, Sarwo belum mendapat penghargaan yang layak.
kalau ayahnya belum diberikan kesempatan, maka harapan itu saat ini muncul lewat anak, Pramono.
Untuk menjamin langkah Pramono, yang bersangkutan sangat tergantung pada dua perempuan, yaitu Ani sebagai mbakyu dan Mega sebagai Komandan.
Untuk mbakyu, sudah jelas karena hubungan sedarah.
Untuk Komandan, ketika Mega sebagai Presiden, Pramono dipercaya sebagai ajudan Presiden. Sekarang ini, sang Komandan menjadi penentu dalam Partai PDIP yang menjadi oposisi terhadap Pemerintah (Demokrat).
Apabila Pramono mampu dan lolos mendapatkan kepercayaan Komandan, tentu langkahnya menuju kursi RI 1 tidak terlalu panas.
Komandan sendiri saat ini masih memerlukan waktu untuk menunjuk kadernya menjadi kontestan. Kalau melihat sejarah, di luar Pramono, hanya Prabowo dari 10 daftar tersebut yang mungkin ditunjuk Komandan.
Kalaupun Komandan menunjuk Prabowo, kuda hitam masih punya dukungan dari mbakyu, yang menurut perhitungan masih unggul.
Pramono penting berjuang untuk mendapatkan hati Komandan karena selain untuk sukses ke kursi RI 1, hal tersebut sangat memuluskan perjalanan eksekutif nantinya.
Keberhasilan Pramono terhadap Komandan akan menorehkan sejarah baru dalam panggun politik, dimana kubu Demokrat dan PDIP dapat bergandengan tangan yang selama ini merupakan barang langka.
Kuda hitam masih memerlukan langkah yang mau tidak mau harus lepas dari jeratan ranjau. Sebagai KSAD baru, masih banyak ranjau yang melintang karena sebagai prajurit, sejogjanya dia harus menduduki jabatan prestisius Panglima TNI untuk layak sebagai calon RI 1.
Tentu hal ini masih bisa diraih karena Panglima sekarang dari Laut, akan lengser tahun 2011 ini. Tentu penggantinya dari Udara yang mungkin menjabat sampai 2012 atau awal 2013. Selanjutnya kuda hitam akan masuk sebagai Panglima dari Darat. Hal ini tentu sangat memerlukan dukungan mbakyu yang masih berkuasa sampai 2014.
Berhasilkah, kuda hitam menapakkan langkah tanpa terinjak ranjau??

Thursday, May 26, 2011

TRICKLE DOWN EFFECT?

Saat masih kuliah di semester awal Fakultas Ekonomi, seorang dosen dengan cerdas menginspirasi mahasiswa kelas Ekonomi Pembangunan bahwa pembangunan yang dicanangkan dalam Repelita cukup berhasil. Indikator utamanya adalah pertumbuhan yang up line.


Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dipercaya memberikan siraman percik (fountain) kepada masyarakat sehingga berfungsi sebagai distribusi.

Semakin besar tenaga (GDP) yang dimiliki, semakin tinggi titik pancaran (modal), semakin deras dan luas jangkauan (distribusi) pendapatan (income).

Dosen tersebut sedang menjelaskan topik Trickle Down Effect (TDE).

Berpuluh tahun setelah memasuki pasar ekonomi baik pasar produksi maupun pasar konsumen, saya masih bertanya-tanya kapan hujan triple down effect terjadi?

Sebelum menikmati realitas teori TDE tersebut, seorang begawan ekonom di negara ini mengikhtiarkan bahwa anggaran nasional mengalami kebocoran 30 %. Meskipun yang bersabda seorang begawan, namun opininya ditentang bahkan dibantah. Tidak jarang diantara pembantah itu adalah murid-muridnya sendiri. Kog bisa, melawan guru?

Murid pada saat itu sedang memiliki tanggung jawab untuk mensukseskan program Pelita melalui jabatan di kementrian. Katanya kementrian ini bukan jalur karir, tapi masuk golongan jalur politik. Nah, dalam ranah politik konon tidak bisa dibedakan siapa kawan, siapa lawan. Pantes saja guru pun tidak bisa dikenal. Dalam ranah politik, tidak menjadi keheranan, murid membangkang kepada sang guru.



Selang sepuluh purnama kemudian, si murid menerima realita sabda sang guru, Indonesia mengalami krisis moneter yang menjadi multi krisis. Para sakti-sakti ekonomi kala itu tidak bisa menjawab penyebab terjadinya krisis dengan informasi fondasi ekonomi yang kokoh antara lain pertumbuhan dan surplus neraca pembayaran yang baik.

Sayang, sang guru sudah tidak punya kesempatan lagi untuk membimbing dan meluruskan para muridnya karena faktor usia dan retensi berbagai pihak. Sementara, pendapat sang guru masih bisa menjadi pegangan, TDE yang didengungkan selama ini ternyata merupakan kebocoran.



Selanjutnya politik berubah. Sistem tata negara dan konstitusi berubah. Elemen-elemen pemerintahan berubah. Bahkan hampir semua lapisan masyarakat ditulari spirit perubahan. Perubahan dari semua unsur masyarakat merupakan energi yang luar biasa sehingga tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menahannya sehingga menimbulkan tsunami politik. Semua orang bebas melakukan apapun yang menurutnya mengenakkan diri, kelompok atau keluarganya.

Hukum pun tidak bisa menahan energi yang begitu dahsyat, sehingga perubahan besar yang dibungkus dengan kata reformasi hanya menghasilkan korupsi.


Aku kembali bertanya, apakah di masa reformasi akan terjadi TDE? Harapan ini muncul karena era perdebatan sang guru dan murid yang disebut orde baru, kebocoran itu ternyata bentuk lain dari korupsi. Tapi sulit membuktikan siapa yang korupsi.

Di era reformasi, kelihatannya koruptor menjadi sasaran tembak utama hukum dan keadilan. Para petinggi negara dan daerah, banyak yang sudah masuk jeratan pasal-pasal korupsi. Hal ini mengindikasikan bahwa akan berkuranglah kalau tidak bisa habis, para koruptor yang menyabot TDE.


Pencarianku pada TDE masih berlanjut, karena GDP dan pertumbuhan masih menjadi fokus para elite. Harapanku makin surut manakala terjadi paradoks dalam kehidupan bernegara. Para koruptor tidak semakin berkurang sebaliknya semakin ramai bukan hanya di eksekutif, tapi menyebar ke judikatif dan legislatif. Kalau sudah begini artinya kran untuk TDE sudah terkunci rapat.


Hati semakin ciut, manakala membaca media yang membeberkan kebocoran menjadi 35 %. Tidak tega untuk membacakannya, baik saya sampaikan petikan media tersebut di bawah ini :


Kendati sulit dibuktikan, kebocoran anggaran publik terus berlanjut dan merugikan negara. Kebocoran anggaran itu mengakibatkan proyek infrastruktur yang dibangun dengan anggaran pemerintah lebih cepat rusak dibandingkan dengan umur rencananya. Direktur Eksekutif Indonesia Procurement Watch Budihardjo Hardjowiyono mengemukakan itu disela-sela workshop mekanisme pelayanan sanggah dan pengaduan yang diselenggarakan Lembaga Kajian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Indonesia Strengtening Public Procurement Program Kemitraan Australia Indonesia di Makassar, Senin (13/4). Budihardjo menyatakan kebocoran anggaran belanja modal ditaksir mencapai 35 % dari nilai pengadaan. Sumber : KOMPAS, Selasa, 14 April 2009.


Ternyata, lembaga KPK yang konon sangat tegas memberantas korupsi, tidak mampu juga mengurangi kebocoran pada saluran distribusi, sehingga pancaran air pembangunan tidak memiliki daya. TDE masih menjadi angan-angan seperti ketika menerima ceramah kuliah di kampus.


Jangan-jangan, TDE yang diinspirasikan dosen dulu ternyata Kebocoran yang berubah wujud sebagai korupsi.






Thursday, November 25, 2010

PENUMPANG YANG TERHORMAT

Boeing 737 900ER
Lionair kembali menjadi sayapku untuk tugas kecil di Medan. Untuk kesekian kali aku memilih Lion. Boeing 737 900ER yang menjadi kebanggaan maskapai ini bukan isapan jempol. Kabin yang ditawarkan cukup menyaingi armada milik perusahaan negara. Pertama kali aku menikmati Boeing 737 900ER ini tahun 2008, perjalanan ke Medan.

Dalam perjalanan kali ini aku tersentak atas sebuah drama yang terjadi dalam kabin.
Betul-betul menggelisahkan.
Bayangkan saja, selepas pesawat mendarat mulus di Bandara Soekarno Hata (Suta), tidak lama berselang dua orang ibu setengah baya berdiri dan membuka kabin lalu mengambil tasnya. Seorang ibu di sebelah kiri saya langsung mengaktifkan telepon. Seorang pria yang tampangnya cukup berwibawa berdiri dari kursinya persis di belakang saya dan maju tiga baris ke depan. Bapak inipun mau mengambil tasnya.
Melihat adegan yang demikian, spontan pramugari berlarian ke arah mereka sambil meminta agar mereka tetap duduk dan menonaktifkan ponsel. Pramugari menjelaskan bahwa posisi pesawat masih jauh dari terminal.

Pemandangan tersebut di atas semakin lazin saya saksikan. Khususnya jika menggunakan maskapai non pemerintah. Penyebabnya apa, aku belum tahu persis,namun beberapa dugaan muncul dalam benak.
Pertama, sejakan 2008 sampai sekarang, maskapai kurang melakukan edukasi kepada pelanggannya (penumpang). Saya katakan kurang, karena sudah ada upaya yang dibuat antara lain pengumuman pada saat akan berangkat (take off), tulisan kecil di jok dengan mengutip perundangan yang melarang penggunaan ponsel selama dalam pesawat.
Tanpa adanya suatu upaya ekstra maka peringatan tersebut akan diabaikan. Peringatan yang sudah mengandung sanksi dan dendan bagi kebanyakan masyarakat dianggap angin lalu saja. Apalagi peringatan tersebut sulit diterapkan. Mana mungkin di tengah persaingan saat ini ada masakapai yang melakukan sanksi terhadap pelanggannya. Bisa kabur itu pelanggan.
Kedua, para kru terkesan enggan menegur penumpang yang masing berhalo-halo ketika masuk pesawat.

Alternatif lain yang perlu dicoba adalah edukasi bukan juridikasi. Edukasi praktis adalah memberikan informasi kepada pelanggan selama dalam pesawat hal-hal yang merugikan penumpang jika melakukan aksi terutama mengaktifkan ponsel.
Pinjamkan replika ponsel sebagai ganti pemanis (sweetener) yang berisi info kerugian ponsel di pesawat.
Jelaskan dan berikan contoh nyata akibat dari kecerobohan kecil yang membahayakan isi pesawat.
Tentu saja pada saat mengeluarkan informasi tersebut, selalu diselingi dengan senjata ampuh para pramugari, senyum maut.

Apabila edukasi ini ditunda bahkan diabaikan, suatu saat bukan maskapai saja, tetapi penumpang yang sudah memahami resiko dan mematuhi aturan main dalam pesawat seperti saya akan tiba pada kerugian.
Kalau hal ini kejadian, jangan kita lagi berkata aduh betapa beratnya musibah ini. Ini bukan musibah tapi kerugian yang kita tunggu-tunggu.

Semoga maskapai di nusantara semakin berjaya.

Jakarta, 25 Nopember 2010

EDUKASI PELANGGAN PESAWAT

Lionair kembali menjadi kudaku untuk tugas kecil di Medan. Untuk kesekian kali aku memilih Lion. Boeing 737 900ER yang menjadi kebanggaan maskapai ini bukan isapan jempol. Kabin yang ditawarkan cukup menyaingi armada milik perusahaan negara.
Pertama kali aku menikmati Boeing 737 900ER ini tahun 2008, perjalan ke Medan.

Dalam perjalanan kali ini aku tersentak atas sebuah drama yang terjadi dalam kabin.
Betul-betul menggelisahkan.
Bayangkan saja, selepas pesawat mendarat mulus di Bandara Soekarno Hata (Suta), tidak lama berselang dua orang ibu setengah baya berdiri dan membuka kabin lalu mengambil tasnya. Seorang ibu di sebelah kiri saya langsung mengaktifkan telepon. Seorang pria yang tampangnya cukup berwibawa berdiri dari kursinya persis di belakang saya dan maju tiga baris ke depan. Bapak inipun mau mengambil tasnya.
Melihat adegan yang demikian, spontan pramugari berlarian ke arah mereka sambil meminta agar mereka tetap duduk dan menonaktifkan ponsel. Pramugari menjelaskan bahwa posisi pesawat masih jauh dari terminal.

Pemandangan tersebut di atas semakin lazin saya saksikan. Khususnya jika menggunakan maskapai non pemerintah. Penyebabnya apa, aku belum tahu persis,namun beberapa dugaan muncul dalam benak.
Pertama, sejakan 2008 sampai sekarang, maskapai kurang melakukan edukasi kepada pelanggannya (penumpang). Saya katakan kurang, karena sudah ada upaya yang dibuat antara lain pengumuman pada saat akan berangkat (take off), tulisan kecil di jok dengan mengutip perundangan yang melarang penggunaan ponsel selama dalam pesawat.
Tanpa adanya suatu upaya ekstra maka peringatan tersebut akan diabaikan. Peringatan yang sudah mengandung sanksi dan dendan bagi kebanyakan masyarakat dianggap angin lalu saja. Apalagi peringatan tersebut sulit diterapkan. Mana mungkin di tengah persaingan saat ini ada masakapai yang melakukan sanksi terhadap pelanggannya. Bisa kabur itu pelanggan.
Kedua, para kru terkesan enggan menegur penumpang yang masing berhalo-halo ketika masuk pesawat.

Alternatif lain yang perlu dicoba adalah edukasi bukan juridikasi. Edukasi praktis adalah memberikan informasi kepada pelanggan selama dalam pesawat hal-hal yang merugikan penumpang jika melakukan aksi terutama mengaktifkan ponsel.
Pinjamkan replika ponsel sebagai ganti pemanis (sweetener) yang berisi info kerugian ponsel di pesawat.
Jelaskan dan berikan contoh nyata akibat dari kecerobohan kecil yang membahayakan isi pesawat.
Tentu saja pada saat mengeluarkan informasi tersebut, selalu diselingi dengan senjata ampuh para pramugari, senyum maut.

Apabila edukasi ini ditunda bahkan diabaikan, suatu saat bukan maskapai saja, tetapi penumpang yang sudah memahami resiko dan mematuhi aturan main dalam pesawat seperti saya akan tiba pada kerugian.
Kalau hal ini kejadian, jangan kita lagi berkata aduh betapa beratnya musibah ini. Ini bukan musibah tapi kerugian yang kita tunggu-tunggu.

Semoga maskapai di nusantara semakin berjaya.

Jakarta, 25 Nopember 2010

Monday, November 22, 2010

PATUTKAH????

Perilaku Gayus yang katanya korup itu sebetulnya tidak milik pribadi Gayus semata. Hampir semua orang di negeri ini perilakunya tidak beda. Orang tidak berbuat seperti Gayus hanya karena kesempatan yang berbeda.
Mau bukti...?
Tidak sulit mencari buktinya. Lihat saja setiap akhir pekan. Jumlah manusia di pusat belanja di kota besar tidak pernah surut. Mereka ke sana pasti bawa uang baik uang asli maupun uang plastik. Sudah menjadi buah bibir, jangan sampai ada barang baru di toko, pasti masyarakat kita langsung berduyun-duyun bak demonstran untuk menjadi pembeli perdana.

Bukti lain, mari kita pergi ke acara pesta. Biasanya dilakukan di sekitar Gatot Subroto untuk kawasan Jakarta.
Kalau anda menjadi relawan tukang parkir, anda pasti terkagum. Bayangkan, seorang pegawai negeri membuat hajatan di Balai Sudirman.
Pertanyaan pertama, dari mana dia bisa mengongkosi perhelatan yang memakan uang ratus juta itu? Okelah, mungkin sudah diperhitungkan hasil arisan dan uang pengganti kado dari para undangan. Jadi tidak perlu nombok.
Tetapi, manakala sebagai tukang parkir anda mengamati, bahwa tamu yang hadir mayoritas datang dengan mobil mewah. Darimana uangnya untuk mobil mewah tersebut. Kalau dijelaskan dari tabungannya, berapa lama dia menabung? Apakah selama ini dia tidak mengeluarkan uang untuk makan, pendidikan anak? Belum lagi dia sudah punya rumah yang cukup besar?
Kalau bersih dari penghasilan gaji pengawai negeri, seorang rekan yang akuntan di salah satu instansi pemerintah menjelaksan bahwa untuk seorang pegawai golongan III c, hanya bisa hidup di Bogor dengan rumah tipe 45.
Nah, darimana mobil dan aksesoris lainnya?

GAYUS TAMBUNAN DAN VINCENT

Pemberitaan dan diskusi tentang korupsi Indonesia semakin menular ke elemen masyarakat yang paling tidak ada kaitannya dengan pemberantasan korupsi. Beberapa pejabat negara yang dituduh melakukan tindakan pidana korupsi kurang mendapat perhatian. Entah karena sudah ditangani pejabat yang berwenang, atau karena mereka memiliki perasaan yang sudah hambar, biasanya itu di negara ini.

Penyebaran berita yang paling menarik dari Gayus disinyalir bukan uangnya yang ratusan miliar semata, tetapi lebih dikarenakan pemberitaan Gayus ada di Bali. Pemberitaan ini menarik hampir seluruh elemen masyarakat manakala status Gayus saat itu adalah tahanan terkait kasus makelar kasus. Semua kaget, melihat wajah yang mirip Gayus sedang asyik masyik menikmati pertandingan tennis internasional di pulau dewata itu.
Lebih menggemparkan lagi, muncul polemik mengenai orang yang mirip Gayus itu. Beberapa pihak termasuk pemilih wajah asli sempat menyangkal bahwa yang menonton itu Gayus. Tekanan mulai terasa terutama kepada seorang wartawan yang mengabadikan momen itu.
Penulis berada pada pihak yang meyakini foto itu tidak asing dari aslinya. Keyakinan ini menjadi kuat ketika mengamati mata. Penulis pernah berkata kepada orang terdekat bahwa kita tidak bisa ditipu lagi, karena masyarakat sudah pernah diajari mengenal wajah lewat acara "sekilas wajah" bagian dari Berpacu Dalam Melodi bung Koes Hendratmo.
Syukurlah, pekan ketiga Nopember, Gayus asli mengaku bahwa foto itu memang dirinya sendiri. Pengakuan ini otomatis menutup celah pihak yang mencoba untuk merekayasa pemberitaan.

Kasus Gayus ini sendiri tidak lebih besar dari kasus pajak yang ditiupkan Vincent, seorang mantan pejabat di perusahaan swasta. Dari kacamata korupsi, kasus Vincent jauh lebih besar karena sudah menggunakan angka triliun. Namun, sorotan publik relatif sepi.
Dari perkara tersebut, penulis hampir yakin bahwa pokok persoalan bukanlah besarnya kerugian negara. Hal ini juga diperkuat perdebatan mengenai makna kerugian negara itu sendiri.
Persoalan yang disoroti adalah perilaku seorang tersangka dari sebuah kasus. Gayus dan Vincent sama-sama tersangka yang terkait dengan pajak, namun perilaku Gayus menunjukkan masih di atas angin alias arogan, sementar Vincent bertapa di balik pilar-pilar besi.

Tetapi apabila kita renungkan, Gayus dan Vincent bukanlah orang-orang yang aneh. Perilaku menyimpang dari rel yang digariskan sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Kebanyakan orang akan lebih memilih menggunakan kuasa uang dibandingkan dengan kerja keras untuk mencapai keinginannya.
Mereka yang tidak punya uang yang cenderung menyuarakan agar berjalan dalam rel-rel jujur, adil, berjuang untuk mencapai tujuan. Sementara yang punya uang, akan berkata untuk apa bersusah-susah, berikan uang saja masalahnya selesai.
Pendewaan uang menjadi solusi inilah barangkali yang perlu dikikis dan dicabut dari elemen masyarakat secara komprehensif. Mulai dari dunia pendidikan, sosial, pekerjaan dan jabatan. Apabila masyarakat mengakar pada kerja keras dan kejujuran, dipastikan bahwa korupsi akan menipis. Kalau tidak, Vincent, Gayus dalam bentuk dan cara serta tampilan yang berbeda akan selalu muncul dan gentayangan.