DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Thursday, March 11, 2010

POKOK DOA PASKAH BI 2010 - SKEDUL

Thema : YESUS BANGKIT, DIA ADALAH TUHAN DAN PENOLONG KITA

PANITIA PASTOR - PENDETA MC DAN SINGER PEMUSIK PS PIPEBI PENGISI BI PPBI BANGSA

11-Mar-10

12-Mar-10

13-Mar-10

14-Mar-10

15-Mar-10

16-Mar-10

17-Mar-10

18-Mar-10

19-Mar-10

20-Mar-10

21-Mar-10

22-Mar-10

23-Mar-10

24-Mar-10

25-Mar-10

26-Mar-10

27-Mar-10

28-Mar-10

29-Mar-10

30-Mar-10

31-Mar-10

1-Apr-10

2-Apr-10

3-Apr-10

4-Apr-10

5-Apr-10

6-Apr-10

7-Apr-10

8-Apr-10

Thursday, February 04, 2010

MORNING FELLOWSHIP WITH MY SONs W1 FEB 10

1 Feb - " I BELIEVED MY SUCCESS WILL COME BY WORKING HARD"
2 Feb - " I KNOW THERE ARE MANY PROBLEMS, MANY DANGERS, MANY ENEMIES IN THIS LIFE BUT I STILL OBEYED AND BELIEVED IN JESUS MY LORD"
3 Feb - " I AM WEAK, BUT MY LORD POWERFUL; I BELIEVED MY WEAKNESS WILL BE FULFILL WITH THE GREATEST POWER OF JESUS
4 Feb - "I will go on to VISION AND REVELATION of my LORD"

MORNING FELLOWSHIP WITH MY SONs JAN 10

26 Jan - "OUR LIFE IS FOR LOVING AND HELPING EACH OTHER. "
27 Jan - "OH LORD PROTECTED US OF FALSE AND DECEITFUL WORKMAN"
28 Jan - "WE LOWEST OUR LIFE IN JESUS CHRIST, WE BECOME WISE WE BOAST OUR LIFE, WE BECOME FOOL"
29 Jan - Inspirasi pagi : BIJAKSANA- sabar jika diperhamba; sabar jika dihina; sabar jika dikuasai; sabar jika direndahkan ; sabar jika ditampar.
30 Jan - Inspirasi pagi: Kita selalu kagum pada mahakarya seseorang, tapi ironisnya kita tidak selalu bersedia belajar dari sang maestro.
31 Jan - Inspirasi Malam : "SIKSAAN YANG PALING MENGERIKAN ADALAH MEMILIKI KEINGINAN YANG BESAR TETAPI TIDAK MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK MEMENUHINYA"


sumber 2 Corinth 11

Monday, December 28, 2009

Busway dan Umpatan

Berbeda dari biasanya yang menggunakan mobil bareng isteri, pagi ini saya memutuskan menggunakan bus way menuju kantor. Pilihan itu didasari kepraktisan dan kelegaan. Praktis karena tidak menyetir sendiri. Lega karena tidak stress menghindari motor yang lebih agresif dari angkutan umum. Selain itu, karena sudah memasuki akhir tahun, harapan bahwa penumpang dan pengguna kendaraan sudah berkurang karena sudah banyak yang memasuki libur akhir tahun.
Harapan saya terkabul adanya. Saya masuk halte pertanian dan membeli tiket. Selang beberapa menit saya sudah berada dalam busway meluncur ke arah dukuh atas. Posisi di dalam busway berdiri tapi tidak penuh sesak seperti sebelumnya kalau sekali kali saya memilih transportasi ini. Jalur busway lumayan lancar sehingg waktu tempuh relatif singkat. Hemat saya kelancaran ini karena motor sebagai komplemen pengguna transjakarta relatif berkuang.
Tiba di halte Bank Indonesia, aku turun dan menyusuri tangga untuk keluar dari wilayah busway.
Pada waktu berada di jembatan penyebarangan, saya kaget melihar dan mendengar seorang ibu yang sedang mengumpat orang yang lewat.
sayup terdengar," ya allah, orang kantor pelit amat, tidak memberi amal".
saya tidak berkomentar kepada keluhan ibu itu. Namun sambil melangkah, pikiranku reflek memberi reaksi.
Apakah orang kantor memang pelit? Apakah ibu itu harus mengumpat, sementara dia memposisikan diri untuk dikasihani?
apakah belas kasihan yang kadang-kadang diterjemahkan sebagai amal adalah perbuatan yang memberi selembar ribuan kepada mereka yang ada di jalanan?
Siapa yang memutuskan mereka untuk berkeliaran di jalanan? Siapa yang memilih posisi mereka di atas jembatan dan bukan di atas lahan?
Apakah memang mereka juga sudah terjebak dengan instant mindset, dimana seseorang memberikan mereka sekeping logam limaratus selisih tiket busway merupakah bentuk amal?

Saturday, October 03, 2009

PARADOKS BENCANA

Gempa...gempaa..gempaaa...
Jerit histeris dan kepanikan kembali mewarnai anak manusia di bumi Minangkabau khususnya Padang dan Paris (Pariaman Sekitarnya). Gelombang getar berkekuatan 7,6 SR penghujung September 2009 membungkam semarak pesta dan melahirkan isak tangis.
Hotel ambruk, perkantoran bertekuk, toko-toko sujud, rumah-rumah berserakan dan jiwa melayang dan jasad bertindihan. Dada penuh sesak, bibir tak juga mampu berucap. Airmata satu-satunya alur mencurahkan kepedihan dan kesesakan.
Media bergema meneriakkan gempa dan bencana ke seantero nusantara bahkan ke seluruh belahan dunia. Dalam sekejab, semua mata memandang sambil mengalirkan air. Kantong dibuka menadahkan belas kasihan. Dompet dibuka memberikan sumbangan tanda empati. Pasukan digiring menyisihkan puing-puing. Relawan berbondong-bondong mengulurkan tangan. Amerika, Jepang, Eropa berdatangan, semua mendemonstarikan kemanusiaan.
Sekali lagi, muncul pertanyaan : Apakah kedamaian tidak bisa melahirkan kasih sayang? Mengapa ketika ada bencana dan tangisan baru muncul kata kemanusiaan? Mengapa dikala semua memiliki kesempatan yang sama untuk bereksistensi sebagai manusia justeru kasih kemanusiaan dikubur dalam-dalam? Apakah hanya ketika bencana terjadi maka penonjolan suku, ras, agama, antar kelompok, negara berhasil dipadamkan?

Tapi tunggu dulu, jangan terlanjur tersanjung. Lihat kerumunan orang di Bandara Soekarno Hatta. Mereka berjuang untuk mendapatkan sehelai kertas tanda terbang. Kalau banyaknya kerumunan tidak menjadi keheranan karena itu biasa apalagi belum sebulan berlalu lebaran. Tapi perjuangan mereka lebih dikonsentrasikan untuk mencukupi anggaran pengadaan tiket. Bayangkan, kalau untuk lebaran yang setiap tahun dilakukan harga tiket paling mahal dua kali harga normal. Kalau normal tiket ke Bandara Minangkabau memerlukan dua ikat uang duaribuan. Dalam keadaan lebaran harga tiket menjadi empat ikat. Namun, ampun TUHAN, baru kali ini kejadian, harga tiket memerlukan 20 ikat.
Lebih tidak masuk akal lagi, sampai di Padang, diperlukan sepuluh ribu untuk membeli satu liter bensin. Itupun belum tentu dapat jatah.
Pertanyaan lagi...Apakah betul ada pemimpin di masa kini? Apakah pemimpin sudah diganti dengan penguasa saja?
Apakah diperlukan bencana lagi untuk memakmurkan negeri ini melalui peningkatan PDB lewat harga-harga yang naik seperti badai?
Ampun TUHAN jangan tambahkan kejahatan ini di atas timbunan jasad dan puing-puing yang berserakan.

Monday, September 07, 2009

KEJUJURAN

Manusia berusaha untuk memperkenalkan dirinya sebagai orang jujur. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan membeberkan fakta dan data. Diharapkan timbul opini yang positif dari masyarakat setelah membaca fakta dan data tersebut.
Namun pembuktian diri dengan cara alibi belum cukup. Kuantifikasi proses pembuktian tersebut relatif menyesatkan karena seolah-olah hidup manusia ditentukan oleh angka-angka. Paradok dari kegiatan pembuktian adalah mudahnya mengatur angka-angka sesuai pesanan.
Pembuktian tersebut hanya bisa dilakukan untuk membuktikan kejujuran seseorang kepada orang lain.

Oleh karena itu, ada dua lagi cara untuk mengukur kejujuran seseorang yakni persidangan kepada Tuhan dan evaluasi kepada diri sendiri.
Proses kedua dan ketiga hampir sama, yaitu seseorang mau mengakui dirinya di hadapan Tuhannya dan dihadapan dirinya sendiri. Pengakuan ini dapat dilakukan bersamaan kepada Tuhan dan diri sendiri, atau dapat juga dipisahkan.
Pengukuran dengan pengakuan diri yang juga sering disebut dengan refleksi diri dianggap lebih valid dari cara pertama.
Untuk mengukur kejujuran seseorang harus meliputi 3 indikator utama yaitu jujur kepada Tuhaan, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain.
Proses yang dilakukan sangat menentukan hasil atau kesimpulan dari tingkat kejujuran seseorang.
Apakah Anda sudah jujur total?

Monday, August 31, 2009

Sebutan Gubernur Bank Sentral

Gubernur dalam ranah perbankan merupakan pimpinan bank sentral. Gubernur Bank Indonesia dipegang satu orang. Gubernur sebagai ketua Dewan Gubernur. Dewan Gubernur adalah kumpulan anggota dewan gubernur. sebutan untuk anggota dewan disebut deputy gubernur.
Apabila dilihat sepintas, sebutan tersebut biasa alias ttidak ada masalah. Namun, perlu dikaji lagi.
Sejatinya pimpinan bank indonesia adalah dewan gubernur. Jadi dewan gubernur seharusnya kumpulan dari beberapa gubernur sebagai anggota. Faktanya anggota dewan disebut deputy., kalau mempertahankan istilah deputi tentu mereka harus dipimpin ketua.
Solusi masalah ada pada sebutan gubernur yang tidak mencantumkan kata ketua. Seandainya disebut Ketua Gubernur akan leih menggambarkan fungsi dan kewenangannya. Keputusan gubernur tidak bisa lebih kuat karena keputusan tertinggi ada pada Peraturan Dewan Gubernur sebagai hasil dari Rapat Dewan Gubernur bukan Rapat Deputi Gubernur.