DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Saturday, June 13, 2009

MENCAPAI KARIR MENATAP RESIKO

 

Sebagai profesional, seseorang dituntut menyelesaikan tugas yang diemban. Tugas lebih sering datang dari atasan atau dari instansi majikan. Sebagai bawahan atau mitra kerja, melaksanakan tugas yang diminta tidak sulit. Permasalahan utama adalah apakah kita mau melakukan perintah yang diminta atasan atau siapapun  dengan mengorbankan pilihan-pilihan yang  selama ini kita bangun (baca : karir)?.

Seorang  manajer level menengah misalnya, pastilah sudah menghitung hari dan beban yang akan dijalani untuk mencapai   tangga karir yang lebih baik, puncak manajer. Tentu saja untuk mencapai  cita-cita tersebut, sang manajer tidak  cukup dengan belajar dan bekerja keras. Persoalan utamanya adalah apakah dia akan tergelincir pada saat meniti  jalan yang ada di depan?  Masalah ini juga dihadapi seorang perwira menengah yang  bercita-cita untuk menjadi Panglima. Secara potensi baik manajer maupun perwira memiliki  modal yang lebih dari cukup untuk sampai ke puncak karir mereka. Tapi faktanya, banyak yang tidak sampai bahkan melorot ke bawah jabatan semula. Apa penyebabnya?

Dalam dunia karir, seseorang yang ambisi untuk mencapai puncak tentu saja sudah mengedepankan faktor-faktor  yang menunjang keberhasilan. Baik manajer maupun perwira  faktor yang paling utama adalah atasan mereka. Di belahan dunia manapun dan di sektor apapun, atasan merupakan kunci keberhasilan bawahan.  Barangkali semua mengamini kata bijak lama "Jangan melupakan  mentormu". Setiap manajer akan berusaha jatuh bangun untuk mewujudkan keinginan atasan. Sang perwira   juga akan memasang badan demi memenangkan hati komandan.

Keinginan atasan  manajer sering disebut perintah. Untuk memastikan mitra kerja maupun bawahan, manajer tidak jarang mencatut bahwa  proyek ini  merupakan perintah bos. Bagi perwira juga  akan melakukan jurus yang sama, ini perintah komandan.  Meskipun menggunakan perintah sebagai  kata kunci, namun penerapan dan implikasinya bisa berbeda bagi si manajer dan perwira. Untuk membedakan maksud perintah, selanjutnya perintah dipakai untuk dunia manajer, sedangkan order dipakai untuk dunia perwira.

Apabila  manajer menerima perintah, manajer  harus mencari rujukan dan rekomendasi untuk meyakinkan bawahannya bahwa  mereka sedang berjalan pada arah yang benar. Bahkan manajer  merasa perlu untuk mengulang-ulang bahwa perintah  tersebut merupakan instruksi dari atasan mereka. Dalam menjalankan perintah itupun, sang manajer harus menguasai  teknik berkomunikasi, negosiasi untuk menghadapi komentar bahkan kritik bawahannya.  Sementara, seorang perwira yang menerima  order dari atasan, cukup sekali mengatakan bahwa ini order komandan. Anak buah perwira tentu serempak menjawab siap laksanakan.

Hasilnya, pekerjaan manajer dapat dicapai dengan negosiasi, perdebatan sedangkan perwira menyelesaikannya tanpa hal-hal yang  kontraproduktif dari bawahan. Dari indikator tersebut, hampir dipastikan bahwa  perwira akan lebih baik menyelesaikan order karena lebih cepat. Jika demikian adanya, mengapa manajer tidak mengadopsi  gaya  order perwira untuk menyelesaikan  perintah tersebut?  Selain lebih cepat, tentu akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan.

Hal tersebut sangat tergantung pada implikasi. Seorang manajer berusaha untuk meyakinkan bawahan dan mitra kerja dengan alasan bahwa selain membagikan tanggungjawab, dia juga sedang membagikan resiko yang dimiliki tugas tersebut. Sedangkan perwira tidak perlu "berbusa-busa" untuk berbagi  resiko karena dalam dunia perwira tanpa ada tugas pun mereka sudah menanggung resiko. Hal lain,  resiko selalu berada pada pemberi perintah - sang komandan. Meskipun dalam faktanya sang komanda ada yang menghianati  dirinya sendiri dengan membantah  bahwa dia pernah mengeluarkan sebuah order.

Bagi manajer akan melakukan perintah yang diberikan padanya dalam bentuk tertulis. Sehingga begitu perintah itu diberikan maka  atasan  secara  faktuil sudah menyatakan bahwa resiko berada pada atasan sepanjang perintah dilakukan tidak menyimpang. Namun bagi perwira, order tidak lazim dituangkan dalam tulisan karena kebiasaan di lapangan dimana tidak memungkinkan mengeluarkan  order dengan tulisan sedangkan resiko yang dihadapi sudah di depan hidung. Sebagaimana dikemukakan seorang "para komando" bagi seorang perwira hanya ada 2 (dua) sikap menerima order; pertama, siap laksanakan, atau kedua mundur dari jabatan.

Dari uraian tersebut di atas, seolah-olah  perwira akan diuntungkan dalam proses pelaksanaan, sedangkan  sang manajer akan lebih aman dari sisi implikasi atau  resiko yang dihadapi.

Apabila terjadi dampak dari order yang tidak sejalan dengan kepentingan publik maka perwira akan menghadapi sendiri resiko karena tidak bisa menunjukkan bahwa  dia mendapat order dari komandan. Order dalam dunia perwira  sudah identik dengan   fatwa atau bahkan sabda. Artinya, seorang prajurit tidak mungkin melakukan tindakan (operasi) tanpa order dari atasannya. Anehnya, dalam persidangan sebuah kasus, seorang prajurit sering dituduh melakukan tindakan (operasi) sendiri dan harus bertanggungjawab sendiri.

Berbeda halnya dengan manajer yang menghadapi tuduhan dalam persidangan. Apabila manajer mampu menunjukkan bahwa ada perintah dari atasan dan manajer dan mitra kerjanya tidak menyimpang dari perintah itu maka dia tidak bisa dituduh bertanggungjawab sendiri. 

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa persidangan manajer lebih banyak terjadi disebabkan karena dia menjalankan tugas dan tidak  bisa membuktikan bahwa atasan memberikan perintah. Dengan kata lain, manajer akan berhadapan dengan persidangan jika dia mengadopsi  gaya order perwira. Mengapa bisa terjadi? Faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mencapai puncak adalah akselerasi atau kecepatan perjalanan karir. Untuk lebih cepat mencapai puncak, manajer  terlena dengan kecepatan yang dikendalikannya tanpa sadar bahwa dia masih memiliki atasan. Artinya secepat apapun dia mengemudikan karirnya mash ada atasan yang menentukan arah perjalanan. Tantangan terberat manajer adalah menuruti atasan tapi tidak menyimpang dari arah (visi). Jika diperhadapkan pada dua pilihan, atasan atau arah maka seorang manajer harus memikirkan resiko yang akan dihadapi. Kalau memilih atasan, jalan menuju puncak lebih cepat, tapi resikonya tidak lama bertahan di tahta. Sedangkan kalau memilih arah, maka  tahta mungkin tidak tercapai tapi reputasi yang selama ini dibangun masih bisa dipertahankan bahkan menjadi  modal untuk perjalan selanjutnya. Bagi manajer yang sudah hampir mencapai puncak, menghitung resiko tersebut sudah lazim dibuat, bahkan hitungan itulah yang menyelamatkan dan menghantar dia sampai ke ambang puncak. Tapi di ujung perjalanan sering kali  tidak introspeksi karena  tidak selamanya  formula  yang dilakukan selama ini manjur untuk segala jaman. Waktu yang sudah cukup lama bersama dengan atasan dan realitas di belakang selalu menjadi  rekomendasi manajer untuk maju sekaligus juga tergelincir. Sulit sekali membedakan pilihan yang benar antara atasan atau arah.

Tips

Sebelum terlanjur bergantung pada faktor luar saja, manajer atau perwira harus memiliki hati nurani yang murni. Memiliki tidak cukup. Perlu melatih dan mengasah  dengan mendengarnya. Persidangan yang sesungguhnya terjadi setiap saat ketika manajer atau perwira mendengar nuraninya. Kemurnian hati nurani akan menentukan ketajaman nurani itu sendiri. Memurnikan hati nurani  adalah perjalan panjang sejak lahir. Hati nurani  yang murni hanya muncul dari sebuah  pengudusan dari duniawi (dosa).  Dosa hanya dapat disucikan dengan darah Anak Domba Allah. Masalah yang  tidak pernah disadari adalah  manajer dan perwira tidak percaya pada Anak Domba pemberi Jalan Lurus.

 

Monday, June 08, 2009

Generasi Entertain

Entertain merupakan kata yang paling digemari kalangan remaja dan pemuda. Tanpa melihat latar belakang ekonomi, semua remaja keranjingan untuk masuk dalam komunitas entertain. Pengaruh entertain bagi generasi muda tidak sekedar jargon atau prokem alias bahasa gaul. Entertain sudah menjadi gaya hidup bahkan tujuan hidup. Mari kita tanyakan anak-anak remaja di sekitar kita. Mereka pasti lebih memilih membeli gadget dibandingkan membeli buku sekolah. Gadget yang disebut HaPe, tidak cukup dengan kapasitas fungsi utama sebagai alat komunikasi. HaPe remaja kini minimal memiliki alat foto, pemutar musik bahkan memiliki kemampuan internet.

Menjadi pertanyaan, apakah yang dicari dari kecanggihan gadget tersebut? Jawabnya adalah tren dan tidak lebih dari entertain. Musik favorit menjadi ringtone. Artis idola menjadi penghuni folder masing-masing. Segala petuah kuno yang mengajak mereka hidup dengan akar keagamaan yang kuat mulai digeser dengan pesan singkat teman. Orang tua banyak yang frustasi karena anak-anaknya lebih percaya iklan daripada kasihnya.
Yang tidak kalah seru, generasi ini ingin menjadi seperti idolanya. Sayang yang paling jawara sebagai idola adalah para artis. Lebih sayang lagi, para artis tersebut lebih banyak yang dililit persoalan daripada yang menang dalam persoalan. Paling disayangkan, persoalan para idola dipercayakan pada duni hitam atau dunia gemerlap.

Belajar masih dilakoni, tetapi brain memori sudah semakin diisi fantasi dan informasi enterteiner sehingga porsi memori untuk merenungkan dan melakukan ilmu alam semakin berkurang. Spirit generasi ini sudah bergeser dari tunas melati bangsa menjadi reinkarnasi showbiz dan advertise. Jangan tanya siapa nama menteri yang bertanggung jawab untuk usaha mikro. Jangan juga ditanya menteri yang mengurusi Nusantara Timur. Konon, mereka sendiri tidak pernah tahu lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Lalu bagaimana nasib kelanjutan bangsa dan negara ini? Belajarlah entertain. Buatlah entertain menjadi jembatan komunikasi yang menghantar generasi kepada keluhuran hidup masa depan.

Friday, May 29, 2009

Noel - Majesty

Majesty...Majesty unto Jesus

Wednesday, May 27, 2009

DUA LEBIH BAIK DARI SATU

Two are better than one,     because they have a good return for their work:   If one falls down,     his friend can help him up.     But pity the man who falls nd has no one to help him up!

Kalimat bijak tersebut merupakan pedoman  hidup yang sudah teruji dari  masa ke masa. Contoh yang paling klasik adalah rumah tangga-keluarga. Keluarga dibangun dari  dua orang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan.  Bahkan dalam diri manusia itu sendiri  banyak anggota tubuh yang terdiri dari 2 elemen. Sebut saja otak, mata, telinga, hidung, tangan, paru-paru, payudara, kaki. Fungsi sepasang organ-orang tersebut akan lebih baik dibandingkan dengan jika salah satu terganggu.

Dalam peradaban yang lebih modern, pedoman tersebut di atas semakin luas dan lebar merambat memasuki hampir seluruh  aspek dalam masyarakat, bangsa bahkan negara. Dalam tatanan masyarakat selalu  ditampilkan pimpinan masyarakat yang terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua. Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemimpin seperti Presiden selalu diduakan oleh Wakil Presiden.

 

 

Saturday, May 23, 2009

CALON PRESIDEN 2009

Pendaftaran kandidat Presiden-Wakil Presiden telah selesai. Dari beberapa figur yang direlease partai-partai, tingga 3 pasang yang resmi sebagai kandidat. Mereka adalah 1)JK-Wiranto: 2)SBY-Boediono; 3)Mega-Prabowo. Tugas pertama yang telah dilakukan para kandidat adalah menyampaikan vis-misi pasangan dalam memimpin nusantara 5 tahun kedepan.Lewat kanal televisi, pemaparan visi-misi berlangsung maraton tiga hari berturut-turut yang dimulai pada hari Rabu 20 Mei 2009. Peserta awal adalah pasangan JK-Win, namun audisi tersebut tidak mengikutsertakan Wiranto. Hari kedua, yang bersamaan dengan hari libur nasional merupakan giliran SBY. Hari ketiga, yang jatuh pada hari Jumat, giliran Mega. Berbeda dengan 2 kandidat, Mega memakai kesempatan audisi untuk memperkenalkan calon Presiden Prabowo.
Penentuan hari dan giliran kandidat masih misteri, terlebih jika dikaitkan dengan sejarah dibalik hari-hari yang ditetapkan. Untuk peserta pertama tentu memiliki keunggulan tersendiri karena jatuh pada tanggal 20 Mei. Bagi bangsa Indonesia, tanggal 20 Mei memiliki arti yang keramat, sehingga ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peserta kedua, dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2009, yang merupakan hari libur internasional, umat Kristiani merayakan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Peserta ketiga, yang jatuh pada hari Jumat, yang merupakan hari yang sakral bagi umat Islam.

Seandainya peserta audisi dan pemirsa yang turut mengikuti acara tersebut yang diberikan mandat untuk menentukan pemenang seperti pelaksanaan Indonesian Idol, maka dapat dipastikan kandidat pertama akan menjadi pemenang. Selain ditopang momentum peringatan kebangkitan nasional, kandidat bisa membuktikan bahwa dia seorang yang melakukan sesuai perkataan. Kandidat hadir dalam penampilan yang sederhana dan bahasa yang lugas.
Sayang, kontes tersebut bukan Indonesian Indol atau American Idol atau sejenisnya yang lebih merupakan domain hiburan. Kontes tersebut belum menentukan siapa pemenangnya. Pemenang sesungguhnya ditentukan pada hasil contrengan yang paling banyak diraih kandidat pada tanggal 8 Juli 2009.
Patut disayangkan, pemaparan vis-misi kandidat pemimpin bangsa ke depan itu disamakan dengan acara hiburan. Lebih disayangkan lagi, acara itu merupakan siaran ulang dan penuh dengan interupsi pihak lain (advertising). Apakah hal ini juga sudah menjadi hal biasa atau karena terpaksa, tergantung kocek? Dugaan kuat, alasan utama karena kocek alias dana. Ironis, visi-misi kandidat pimpinan nasional yang akan menentukan nasib bangsa ke depan sudah dilumuri mashab kocekis - kapitalis.

Dari pemaparan semua kandidat, bobot ekonomi sangat mendominasi. Kandidat pertama dan ketiga kental dengan konsep ekonomi mandiri. Ekonomi diberdayakan dari kekuatan, potensi, dan keterampilan bangsa ini. Mimpi? Bukan. Mereka membeberkan beribu macam bukti bukan janji kemandirian anak-anak bangsa. Bahkan satu kandidat dengan yakin meuturkan, kemandirian itu dapat dikerjakan oleh rakyat kalangan wong cilik bukan hanya kaum entepreneur.
Pemaparan dua kandidat sekaligus menjawab perdebatan yang sedang terjadi di bilik lain, neoliberalisme lawan kerakyatan.

Seorang berpendapat bahwa dia tidak setuju ekonomi kerakyatan karena tidak pernah ada dalam teori. Awalnya, opini doktor ekonomi tersebut dapat dimaklumi karena demikianlah adanya. Namun, patut menjadi kebanggaan karena inilah saatnya melahirkan mashap ekonomi baru yaitu ekonomi kerakyatan. Ekonomi yang tidak menolak kocekis, tapi mendahulukan energi dan sinergi rakyat. Ekonomi yang dibangun dengan memberikan kesempatan kepada rakyat sebelum menghakimi rakyat dengan sloga tidak mampu. Ekonomi yang dibangun dengan sistem perbankan yang tidak mengutamakan jaminan kredit, tapi lebih melihat kepada kesungguhan rakyat untuk memperbaiki diri.
Teori memang sudah diuji, tapi membangun sebuah negeri tidak kokoh dengan landasan teori. Terobosan salah satu kunci penting yang akan melahirkan teori baru.
Rakyat dan spirit kegotong royongan sudah terbukti berjaya menghempaskan kapitalis pada masa Indonesia merebut kemerdekaannya. Ekonomi rakyat bukan teori tapi bukti.

Monday, May 18, 2009

SISI LAIN KEUNIKAN (KANDIDAT) GUBERNUR BI 2009

Boediono adalah Gubernur Bank Indonesia yang relatif unik. Sejak dicalonkan Presiden, baru era Boediono terjadi penolakan DPR terhadap calon Gubernur Bank Indonesia yang diusulkan Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono - SBY). Penolakan DPR, membuat SBY harus mengeluarkan jurus pamungkas dengan memberikan Boediono sebagai calon tunggal menuju kursi Gubernur. Dalam pit dan proper test kepada Boediono, hampir semua anggota DPR di Komisi XI tersihir dengan pesona Boediono. Hampir semua anggota Dewan yang menjadi penguji, bermufakat untuk menerima calon tunggal. Jadilah Boediono mendapat mandat memimpin Bank Indonesia periode 2008 - 2013.
Resminya Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 22 Mei 2008.

SBY menggandeng Boediono sebagai pasangan dalam kontes panggung politik menuju Presiden-Wakil Presiden periode 2009 -2014. Deklarasi yang digadang Partai Demokrat dan koalisinya pada tanggal 15 Mei 2009, menjadi sejarah baru bagi Boediono untuk berkarya di luar jalur profesi yang selama ini digeluti. Untuk lebih fokus pada dunia persilatan yang baru itu, Boediono menyatakan siap bekerja sejak deklrasi Capres-Cawapres dan menyatakan mengundurkan diri dari Gubernur Bank Indonesia.
Kalau pengunduran Boediono ditandatangani sejak 17 Mei 2009, keunikan Boediono adalah mungkin satu-satunya Gubernur Bank Indonesia yang mengundurkan diri sebelum 1 tahun. Bahkan menjadi orang pertama yang menorehkan sejarah Indonesia bahkan sejarah Dunia, seorang Gubernur Bank Sentral menuju kursi Wakil Presiden.

Pengunduran Boediono memberikan lowongan di kursi yang sangat prestise, bergengsi dan panas itu. Siapakah Gubernur Bank Indonesia berikutnya, menjadi pertanyaan hampir semua orang baik kalangan rakyat, mahasiswa, elite partai bahkan anggota Dewan sendiri.
Tanpa merasa lebih tahu dari pengambil keputusan yang berwenang menetapkan Gubernur Bank Sentral berikutnya, tulisan ini mengajak untuk melihat keunikan-keunikan lain dari Gubernur Bank Indonesia.

Kalau dilihat dari initial nama, Gubernur Bank Indonesia sejak orde Baru dimulai dengan R. Periode berikutnya juga dimulai dengan R.
Setelah periode R selesai, Gubernur Bank Indonesia berturut-turut dipegang oleh A dan A. Sehabis periode A dan A, muncul nama yang juga berturut-turut dengan initial sama yaitu S dan S. Era S dan S dilanjutkan dengan dua initial yang sama berturut-turut yaitu B dan B.
Dari urutan initial nama tersebut, terdapat keanehan karena seperti memiliki pola yang simultan. Dimulai dari R, kemudian melompat ke A. Setelah periode A, dilanjutkan dengan S yang merupakan abjad setelah R. Demikian pula, setelah S berakhir dilanjutkan dengan initial B yaitu abjad setelah A.
Kalau mengikuti pola tersebut, periode selanjutnya adalah initial setelah S yaitu T.
Namun perlu diingat juga kelemahan pola itu ada pada periode B dimana B terakhir tidak penuh 5 tahun. Apakah hal tersebut memunculkan pola baru?

No. Nama Dari Sampai
1. Radius Prawiro 1966 1973
2. Rachmat Saleh 1973 1983
3. Arifin Siregar 1983 1988
4. Adrianus Mooy 1988 1993
5. Sudrajad Djiwandono 1993 1998
6. Syahril Sabirin 1998 2003
7. Burhanuddin Abdullah 17 Mei 2003 16 Mei 2008
8. Boediono 17 Mei 2008 17 Mei 2009
9. ?????
(Wikipedia Indonesia)

Dari kandidat yang tersedia di pasar, nama-nama calon potensi adalah A,C, D, G, H, M,R,S.
Kalau mengikuti pola tersebut, maka kandidat C,D,G,H,M, masuk nominasi sedangkan R dan S sudah pernah sebelumnya. Dalam pola tersebut belum pernah terjadi pengulangan nama setelah dua periode selanjutnya.
Lantas, bagaimana dengan nama T yang mengikuti pola tersebut? Logikanya, kalau T tidak dimungkinkan mengingat kandidat T belum ada, berarti pola tersebut tidak dapat dipertahankan. Lalu siapa yang akan menjadi kuda hitam?

Selain pola tersebut, terdapat pola lain yang sudah diterapkan pada pencalonan 2 Gubernur sebelumnya yaitu calon adalah mantan Menteri Perekonomian. Sebagaimana diketahui, Burhanuddin Abdullah dan Boediono adalah mantan Menteri Perekonomian sebelum ke kursi Gubernur Bank Indonesia.
Kalau pola ini yang dilanjutkan, maka S akan menjadi kandidat. Tapi ada sedikit halangan mengingat yang bersangkutan bukanlah murni Menteri Perekonomian karena saat ini hanya merangkap saja.

Peta lain yang dapat ditelusuri adalah dari 8 mantan Gubenur tersebut, 5 diantaranya merupakan kandidat internal Bank Indonesia. Bahkan 3 Gubernur terakhir merupakan internal Bank Indonesia. Apakah ini akan menjadi pola yang akan menjadi pertimbangan final?
Apabila pola ini yang dipilih tentu C,H,M akan menjadi dominan. Kalau dilihat dari "kesaktian" jawara tersebut, masing-masing sudah memiliki dan pakar dalam jurus monetery based. Tapi sebagai sebuah institusi bank sentral, monetary based tidak cukup. Bank sentral memerlukan jurus banking dan jurus payment dan terutama leadership. Kalau melihat kompetensi Deputi Gubernur Senior- DGS yang baru terpilih yang major pada jurus moneter, maka pemilik jurus banking dan payment akan menjadi keunggulan ekstra.
Apabila jurus non moneter dan leadership ini yang menjadi indikator terakhir maka M yang memiliki jejak rekam yang sudah diterima baik pasar eksternal maupun internal akan layak dipertimbangkan.

Semoga M ataupun temannya yang akan menjadi Gubernur Bank Indonesia berjanji kepada TUHAN bahwa dia akan memberikan dedikasi hanya untuk memenuhi panggilan TUHAN bukan panggilan manusia atau partai. Be a true "leader - leadest".
Semoga.

Tuesday, May 12, 2009

MAY BLESSING (TUAH BULAN MEI)

Mei adalah satu dari 12 bulan kalender yang merupakan bulan kelima. Dari kata asing May bukan saja berarti bulan Mei, tapi juga bermakna bisa atau ekspresi sebuah harapan (blessing).

Secara umum orang sependapat tidak ada yang terlalu istimewa pada bulan Mei. Sebagian orang memberikan makna biasa saja menyikapi datangnya bulan Mei. Segelintir mahasiswa menjadikan bulan Mei sebagai peringatan untuk mengenang 11 tahun peristiwa yang menewaskan mahasiswa dalam tragedi Semanggi. Bahkan tidak satu kelompokpun yang merayakan kejatuhan rezim yang sudah bercokol di republik ini, yang terjadi bulan Mei. Kalau melihat ke belakang, betapa banyak orang maupun kelompok yang mengharapkan peristiwa kejatuhan rezim ini. Alasan sederhana, karena manusia selalu menyukai perubahan. Dan ketika itu terjadi di bulan Mei, relatif nyaris tak terdengar gaungnya. Bukankah budaya kita lazim mensyukuri terwujudnya sesuatu yang dicita-citakan? Apakah berlebihan bila Mei juga merupakan blessing bagi politik bangsa ini? Apakah para pengharap kejatuhan rezim ini berubah pikiran setelah menghadapi hari-hari selanjutnya? Misteri.

Bagi ranah perekonomian, bulan Mei merupakan satu sejarah tersendiri mengingat pada bulan Mei 10 tahun silam, bangsa ini memberikan independensi kepada lembaga bank sentral. Independensi ini menjadi buah bibir karena tidak terbatas pada organisatoris seperti lembaga lain, bank sentral merupakan lembaga independen penuh. elemen bangsa dan masyarakat sempat menuding bank sentral menjadi sebuah negara dalam negara dengan status independen tersebut. Mei kali ini merupakan blessing tersendiri bagi bangsa ini.

Beberapa kilas balik peristiwa tersebut merupakan sejarah yang telah berlalu 10 tahun lalu. Bagaimana dengan Mei tahun 2009?
Dalam ranah politik, bulan Mei tahun ini menjadi penentu siapa yang menjadi penghuni kursi-kursi parlemen. Dalam waktu yang sama, bulan Mei ini akan dikenang sebagai buruknya kontes demokrasi di republik ini. KPU akan diajukan ke mahkamah, bukan karena KPK seperti dulu, tapi karena semerawutnya pelaksanaan pemilihan legislatif. Namun dibalik itu, bulan Mei ini terjadi keanehan yang luar biasa dalam politik. Dua partai politik yang sudah resmi menjadi rival dan sudah bermusuhan selama 1 periode pemerintahan, tiba-tiba memunculkan sandiwara RUJUK dalam bahasa koalisi. tidak berlebihan juga ini disebut May blessing, karena sudah biasa dalam budaya kita, lebih suka perkoncoan daripada perdebatan. Bersatunya dua musuh.
Masih ada satu blessing yang "terulang" bagi bank sentral seperti 10 tahun lalu. Kini bukan istilah independensi. Tapi lebih dari itu, apresiasi setelah dalam bulan-bulan terakhir, bank sentral menjadi tumpuan maki. Kalau lebih 12 bulan sudah berjalan, para ex petinggi bank sentral menjadi langganan berita yang dilansir dari KPK, maka kini bank sentral sedang dan akan menjadi berita karena BI1 akan menjadi RI2. Kalau mimpi ini jadi kenyataan pasti semua sependapat bulan Mei ini menjadi tuah buat bank sentral karena akan menjadi sejarah unik dalam perjalan bangsa ke depan.