DOKTOR ILMU HUKUM

WELLCOME TO CAFEL



MENCERDASKAN GENERASI

MENCERAHKAN ELEMEN BANGSA

MEMBUKA JENDELA DUNIA







Sunday, April 05, 2009

Situ Gintung : Bencana Alam atau Kecelakaan

Banjir yang melanda perumahan-perumahan di Ciputat akibat Situ Gintung sering disebut sebagai Tsunami Lokal. Istilah Tsunami Lokal dilahirkan karena pengalaman waktu kejadian yang mendadak dan relatif singkat tapi menelan banyak korban. Air bah yang melanda rumah dengan ketinggian 3-6 meter dan kecepatan yang spektakuler telah menyebabkan korban meninggal sudah 103 orang dan pencarian masih terus dilakukan. Dari sisi regu penolong (rescue), diketahui bahwa tim SAR yang melakukan pencarian korban adalah tim yang turun pada saat Tsunami akhir tahun 2004 di NAD.


Sepertinya ada benang merah yang mentautkan kejadian tsunami di NAD dengan peristiwa Situ Gintung. Namun mendengar kesaksian dari warga dan perkembangan informasi media massa, ada perbedaan yang signifikan. Yang pasti, Situ Gintung terjadi karena ambruknya pertahanan tanggul ( bangunan waduk). Konon waduk yang buatan manusia pada masa kekuasaan penjajahan Belanda itu tidak pernah dilakukan renovasi atau revitalisasi konstruksi. Jadi wajar, bangunan yang sudah di atas 50 tahun beroperasi terus menerus tanpa pemeliharaan yang terus menerus pula akan menghadapi panggilan usia, rapuh.


Korban yang relatif besar tersebut tidak akan terjadi apabila para pedagang properti tidak memaksakan (mungkin pakai pelumas) untuk mendapatkan izin dari pemerintah untuk membangun perumahan asri dan mahal di kasawan aliran saluran Situ yang letaknya lebih rendah dari Situ itu sendiri. Kondisi perumahan yang lebih rendah dari Situ rapuh tersebut, lolos dari perhatian para konsumen ketika menerima iklan dan penawaran dari pengembang. Rumah asri yang ditawarkan seolah menjawab mimpi konsumen yang mengidamkan rumah bagus, besar, mewah. Pemenuhan ambisi dan mimpi sering menjadi selubung yang menutup mata hati untuk lebih melakukan kaji (baca: zikir). Apalagi beberapa artis dan pejabat sudah terlebih dahulu menyatakan akan menghuni property itu. Sehingga akhirnya tanpa sadar bahaya maka jualan properti di kawasan itu menjadi laris manis seperti sawo manis.


Setelah semua properti terjual, mulai ramailah suasana di perumahan-perumahan itu, maka dipilihlah perwakilan RT dan RW sehingga semakin yakinlah bahwa secara administratif, daerah itu resmi menjadi kawasan pemukiman. Para Pamong juga seakan menutup mata bahwa perumahan itu berada diposisi bencana. Para pamong bukan mengingatkan (menegur) penghuni itu, sebaliknya semakin gencar menarik pajak dan retribusi seiring kondisi perekonomian warga yang semakin bersemi.


Selepas kejadian Situ Gintung, TUHAN menjadi sasaran pertama kritik dan komplain atas kejadian itu. TUHAN adalah pencipta alam semesta. Jadi bukan pembangun Situ Gintung dan Perumahan di aliran situ itu, sehingga kritikan dan bahkan mengarah kepada hujatan itu salah alamat.


Penyebab tsunami di NAD adalah alamiah pergerakan alam semesta (lembeng bumi bergeser). Wajar kalau tidak ada satupun manusia yang memastikan masa dan waktu serta dasyatnya tsunami. Sementara banjir Situ Gintung dapat diketahui dari pengamatan terhadap kondisi konstruksi.


Dari informasi tersebut di atas, dapat disimpulkan banjir Situ Gintung bukan merupakan bencana alam, tapi lebih merupakan kecelakaan. Jadi kita tidak perlu melantunkan lagu mas Ebiet G Ade (EGA)..

Wednesday, March 25, 2009

LOWONGAN


Dalam waktu yang singkat, Bank Sentral memerlukan tenaga tranlater alumni SMA
selengkapnya dapat dilihat pada brosur di bawah ini.

Monday, March 16, 2009

USAHA RUMAH (UR) KARTIKA

Alexo   membuat sebuah keputusan yang radikal pada awal Maret 2009. Ia mengingat mimpinya yang sudah lama terkubur  memiliki bisnis, seperti sepupunya. Bisnis  yang dipilihnya adalah  menjadi pengecer  gas isi ulang  ukuran kecil.  Penghasilan yang diperolehnya sebagai  karyawan di sebuah perusahaan swasta tidak menjamin  tersedianya  kebutuhan  isteri dan ketiga anaknya. Apalagi  Nining  puteri sulungnya sudah akan menginjak  bangku  SD tahun ini. Dari  bisik-bisik menjelang tidur dengan isteri tersayang  Kartika, Alexo  kaget  mengetahui  uang pertama masuk  sekolah masa sekarang mencapai  puluhan juta.  

Keputusan radikal itulah yang membuat Alexo  kelihatan  lebih  pendiam dan sibuk akhir-akhir ini. Pergulatan dalam fikirannya  menghanyutkan Alexo pada berbagai masalah. Alexo seolah-olah terhisap oleh kuatnya suara  yang mendengung-dengung.  Bisnis itu susah. Bagaimana kalau gagal. Barang dagangan tidak laku. Saingan banyak dan modalnya lebih kuat. Namun yang paling  membebat  hati dan fikiran Alexo adalah dari mana modal usaha. Bisnis butuh modal…usaha perlu biaya dan pengorbanan.  Kartika  tak kuasa  membendung  kegalauan fikiran  Alexo karena Kartika sendiri  sangat mendukung mimpi Alexo untuk memulai  bisnis, tapi Kartika belum  punya jalan keluar untuk mencari modal. Sekali pernah Kartika  menyarankan Alexo untuk pinjam modal dari teman. Tapi siapa?  Teman Alexo  hampir semua mempunyai masalah yang sama.

Meskipun dilanda  kebuntuan  modal usaha, Alexo tetap  bertekad  untuk  memvisualisasikan  impiannya berbisnis. Walaupun belum punya modal dia  mencari informasi  harga tabung gas ukuran kecil. Dimana lokasi  usaha yang akan dijalankan. Alexo juga sudah memiliki  komunikasi dengan agen  gas. Selain itu, Alexo sudah menghitung  tetangganya yang akan jadi pelanggan. Dia sangat  meyakini bahwa semua  warga masyarakat  di sekitarnya sudah  menggunakan gas  mengikuti  program  konversi minyak tanah ke gas yang dicanangkan pemerintah sejak tahun lalu. Secara kasar Alexo memerlukan dana sekitar  Rp.9 jt yang akan dipergunakan untuk :

  1. membeli tabung kosong  50 @Rp.150.000
  2. membeli isi gas  25 tabung @Rp.14.000
  3. membuat iklan 500 lbr  @Rp.100
  4. sewa kios sebulan Rp.500.000
  5. biaya operasional Rp.500.000

Alexo memperhitungkan  jumlah keluarga di dalam  wilayah usahanya yang menggunakan gas ukuran 3kg sekitar  600 kepala keluarga. Dengan rata-rata  pemakaian 1 tabung  dua minggu, Alexo mempunyai  target  akan menjual 20 tabung sehari.  Kartika mengusulkan agar dibuat iklan untuk pemberitahuan kepada warga. Mulanya Alexo kurang sependapat dengan Kartika mengenai iklan karena alasan  pemborosan biaya. Tapi Kartika  berhasil  menghilangkan keraguan Alexo dengan menjelaskan bahwa  banyak warga yang tidak tahu menahu  perkembangan warga di sekitarnya. Biasalah penyakit umumnya warga Jakarta, cuek alias autis. Selain menyetujui  pemasangan iklan, Kartika kebagian tugas untuk membuat  iklannya. Selain untuk menghargai  Kartika, Alexo menyetujui iklan karena dia kurang paham  komunikasi massa. Terlebih lagi, yang menjadi perhatian utamanya adalah modal. Dari mana cari modal?

Alexo pernah berfikir untuk meminjam ke bank, mengingat dia memiliki rekening di salah satu bank besar. Rekening itu merupakan  penampungan  penghasilan Alexo dari perusahaan. Niat ke bank urung dilanjutkan karena Alexo pernah mendengar dari kawan dekatnya betapa susahnya mengajukan  pinjaman ke bank. Meskipun saat ini sedang digalakkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) tapi tetap saja bank mempersyaratkan  jaminan. Bahkan Alexo hampir tidak percaya mendengar untuk mencairkan  pinjaman yang disetujui  tidak gratis. Harus mengeluarkan biaya survey, amplop pelumas bahkan  jasa para  pejabat bank. Masih menurut  teman Alexo, tetangganya yang berhasil mendapat pinjaman bank Rp. 25 jt  harus  disunat  sekitar  Rp.1 jt. Tapi  tetangganya  tidak berdaya dan suka tidak suka terpaksa rela. Memasuki minggu ke empat bulan Maret 2009, Alexo masih belum menemukan jalan lurus untuk mendapat modal usaha yang sudah ditimang-timangnya setiap saat. Bahkan Kartika sering mengingatkan agar Alexo  makan  dan istirahat yang akhir-akhir ini mulai dilupakan Alexo.

Suatu hari, Alexo menghadiri  rapat  karyawan yang diselenggarkan divisi untuk perkenalan dengan  bos baru. Seperti biasa, Alexo kurang semangat mengikuti rapat karena selama ini tidak ada artinya bagi Alexo dan teman-teman. Bahkan Alexo sering tidak hadir  dengan mengemukakan ada tugas pada saat yang bersamaan dengan rapat.  Tapi karena perkenalan dengan bos baru, Alexo menghadiri rapat itu. Alexo akhirnya tahu bos baru masih muda, bernama  Andila  dari Sulawesi.

Setiap hari Jumat sore,  teman sekerja  Alexo  melakukan olah raga tenis  di belakang  kantor. Alexo tidak rutin berlatih. Jumat kali ini Alexo  berada di lapangan tennis niatnya  bukan untuk latihan tapi mau curhat kepada  seorang temannya mengenai  mimpinya yang menjadi “hantu” akhir-akhir ini. Isteri temannya ini bekerja di Departemen Keuangan. Melalui temannya ini, Alexo mau pinjam uang untuk modal.

Karena Alexo bukan petenis sejati, maka dia memberikan kesempatan kepada rekan lain untuk bermain tennis meskipun dia berhak main terlebih dulu  karena dia datang lebih awal. Sambil duduk memperhatikan pukulan temannya, secara tidak sadar, Alexo menggeleng-gelengkan kepala mengikuti  bola yang  bergerak  ke arah lawan. Sesekali Alexo histeris  berteriak  ketika  regu di kanannya  gagal memanfaatkan bola yang matang untuk di smash. Larut dalam  serunya permainan rekannya  Alexo seakan melupakan sejenak beban fikirannya  bahkan tujuan utamanya hadir di lapangan tenis sore itu. Bukan hanya rekannya yang asyik berusaha memindahkan bola, Alexo sendiri  tidak menyadari kehadiran seorang lain di lapangan itu. Alexo dan rekannya  fokus pada gerakan bola tennis. Tiba-tiba terdengar suara datar, “ Bagus juga permainannya”. Suara itu sontak mengejutkan Alexo. Sambil menoleh ke arah pemilik suara, spontan Alexo berucap “ Ehhh pak Andila, maaf pak  tidak tahu Bapak datang. Oh tidak apa-apa  jawab pak Andil sambil menatap permainan  dilapangan.

Pak Andila mengambil posisi duduk di samping Alexo. Alexo sedikit  canggung, karena tidak biasa bersentuhan dengan bos selama ini. Kecanggunang Alexo  tidak bertahan lama  karena Pak Andila  membuka  percakapan yang  mengesankan keramahan. Alexo sendiri mulai mengimbangi percakapan dengan pak Andila bahkan dia mencetuskan niatnya untuk berbisni kecil-kecilan. Beruntung,  pak Andila  memberikan dukungan moral kepada Alexo untuk segera  berusaha. Selain itu, pak Andila berjanji akan mengunjungi  rumah Alexo hari Sabtu esoknya.

Seakan mimpi di siang bolong, Alexo  seperti  mau pingsan ketika  hapenya berbunyi  dan suara disebelah dikenalnya pak Andila. Lebih menegangkan lagi, pak Andila sudah parkir di depan rumah Alexo. Wah, pak Andila silahkan,  repot-repot  mengunjungi gubuk kami… basa basi keluarg dari mulut Alexo. Sembari berjalan ke pintu masuk, Alexo memanggil Kartika  dan memperkenalkan  pak Andila.

Belum lama duduk, pak Andila  menyampaikan bahwa dia tertarik pada perbincangan kemarin mengenai  rencana Alexo berbisnis.  Kedatangan pak Andila  selain silaturahim, juga mau mendalami  usaha Alexo. Bahkan setelah memperhatikan  wilayah sekitar, pak Andila menawarkan kerjasama. Saya bersedia  memberikan modal, asalkan  pak Alexo dan ibu Kartika  sehati dan serius  untuk berusaha. Apakah  usahanya dijalankan di rumah ini atau ada tempat lain? lanjut pertanyaan pak Andila. Kartika menjawab sebaiknya di rumah ini dulu pak Andila, sambil melihat perkembangannya nanti. OK, itu baik sekali. bagaimana  pak Alexo kapan mulai bisnis ini? Sudah ada kesepakatan dengan agen gas itu? Dengan agak ragu Alexo menjawab, sudah pak, bahkan mereka sudah beberapa kali menanyakan kapa dikirim barangnya. Nah, kalau begitu  silahkan dimulai saja. Hari senin, uangnya saya serahkan. tapi janji lho, kita mitra  dan aku bukan kreditor. Baik pak serentak Alexo dan Kartika menjawab. Baiklah pak Alexo dan ibu, saya mohon pamit.

Setelah mengantar kepulangan pak Andila, Alexo setengah berlari masuk ke rumah dan langsung merangktul  Kartika. Sambil berjingkrak-jingkrak, Alexo berteriak, ma kita jadi usaha….kita jadi usaha….Terlalu asyik berjingkrak dan berteriak riang, Alexo lupa  bahwa  dirumah itu ada Nining dan adik-adiknya yang kebingungan melihat  tingkah laku  ayah dan bunda mereka. Kartika akhirnya memberikan  kerdipan mata memberi isyarat kepada Alexo. Alexo tersadar dan dengan agak malu menyapa  Nining dan dua  bocah lainnya. Sambil duduk di sofa tua, Alexo  seperti terbebani fikiran baru. Hal ini dirasakan oleh Kartika. Ada apa  bang, tanya  Kartika. Aku teringat  iklah yang kau usulkan. Masalahnya kalau ada iklan tentu baiknya ada nama usaha itu. Aku belum punya nama usaha itu  kata Alexo.  Kartika  menjawab  kita bikin namanya  Kartika saja bang. Kan walaupun ini usaha mitra bersama, tapi kan aku yang menjalankan. Lagian, ini kan masih usaha kecil-kecilan jadi kita bikin saja Usaha Rumah  atau UR  Kartika.  Ehh, pintar juga kau rupanya ya..boleh juga  nama itu, jawab  Alexo. Tapi  Kartika itu bukan berarti namaku saja bang, tapi itu  juga berarti  Kartini dan Kawan-kawan. Maksudmu potong  Alexo. Kartini kan pejuang perempuan. Jadi ini usaha Kartini masa ini dan mengembangkan  Kartini lainnya.  Wah, sudah jauh rupanya pemikiranmu, jadi tolong buat saja iklannya  aku mau menghubungi  agen gas itu. Terima kasIh TUHAN  serentak mereka berlima spontan bersuara.

Wednesday, March 11, 2009

PARADOKS IMAN

 

Iman adalah suatu  tranfer  spirit dan pemikiran seseorang kepada  objek imannya yang sering disebut TUHAN. Relasi yang intim antara  seseorang dengan Tuhan menjadi ukuran  kadar iman orang itu.  Semakin  dalam  intimasi  relasi  dimaksud, maka semakin  baik dan berkualitas iman seseorang meskipun  satu-satunya yang paling pas  mengukur iman itu adalah Tuhan.

Akhir-akhir ini relatif  sering   lahir  proses  eratisasi  relasi   tersebut di atas dengan cara  mengurangi apresiasi  terhadap  orang atau kelompok yang  tidak sehaluan dengan  orang itu. Media yang dipakai  semakin  bervariasi  mulai dari   surat maya (email), penerbitan buku, bahkan bioskop (cinema). Perkembangan terkini  merefleksikan  kecendrungan untuk  saling menjelekkan.  Pertanyaan yang relevan untuk direnungkan, apakah dengan menjelekkan orang atau kelompok lain  akan meningkatkan  intimasi relasi  iman kita?

Pertanyaan tersebut agak sukar dijawab karena  memiliki unsur  pembenaran terhadap keyakinan sendiri. Selain itu, sangat sedikit  survey atau diskusi ilmiah yang mendalami hal itu.

Dalam sebuah perjalanan, saya merenungkan dan mengingat-ingat  beberapa kisah menarik dari  rekan sekerja yang menunjukkan bahwa  ia memiliki iman yang berbeda dengan yang dia pegang sekarang. Sebut saja Upik, yang dulunya  berkiblat ke Mekkah, sekarang  berkiblat ke Yerusalem dan atau  Vatikan Roma. Masih sedikit  informasi  mengenai  alih iman si Upik, namun  hal yang menarik adalah  pernikahnya merupakan salah satu pemicu.

Pendalaman iman Upik yang sekarang mengalami  tantangan  dimana  sanak saudara dan handai tolan Upik  mencaci maki, menasihati, bahkan mengancam Upik karena meninggalkan kiblat Mekkah. Hujatan yang bertubi-tubi  akhirnya  berhasil membobol  pertahanan kesabaran Upik. Reaksi Upik terhadap sanak saudara dan handai taulan itu  adalah memojokkan  iman saudara saudaranya. Bahkan  Upik semakin  intensif  mencari kelemahan dan kekurangan doktrin dan dogma   imannya yang lama

Tanpa disadari, Upik  memberikan hatinya untuk dieksploitasi sehingga semakin lama semakin kuat kemauannya mencari  kejelekan   iman yang lama. Akibatnya  Upik  semakin lama semakin  bias  dari  objek imannya yang baru.

Selain Upik, terdapat  beberapa  yang  berpindah iman seperti  Monica dari Menado, Fransiska  dari Papua, Sitowati dari Semarang bahkan  kalangan artis juga  banyak yang meniru Upik  maupun Monica.

Pengalaman Upik, Monica dan rekan-rekan mereka  merupaka sesuatu yang fenomenal. Mereka mengaku memiliki kebahagiaan  dalam iman yang baru, tapi perilaku yang dipancarkan dari kebahagiaan itu adalah membentuk  pendapat umum (opini publik) yang  buruk terhadap  imannya yang lama. Paradoks.

Iman yang dianut  atau dirangkul  seseorang  seharusnya  dikiblatkan untuk meningkatkan intimasi antara fikiran, emosi, spirit (mind, heart, soul) kepada  objek imannya. Dalam dogma yang dimiliki Upik saat ini  cinta  merupakan  warna  spesifik. Cinta  harus  ditularkan, dibagikan  bahkan dikorbankan bukan hanya kepada  sanak keluarga  atau kerabat  terlebih lagi kepada  orang yang tidak cinta  alias  musuh.

Sebagai  aliran yang gigih mendeklarasikan cinta, maka Upik harus  membuktikan bahwa  imannya  sekarang betul-betul meningkatkan  relasi yang intim baik vertikal maupun horizontal. Tidak mungkin seorang Upik dalam iman yang baru  melahirkan  buah yang jelek  apalagi menjelek-jelekkan orang lain. Mengapa?

Dalam  kehidupan, terdapat  dua  sifat  yang diberikan yaitu  baik (simbol +) dan buruk  (simbol –). Dalam kehidupan ini pula  sadar atau tidak sadar  kata  cinta hanya  disandingkan  dengan sifat +. Hampir  tidak pernah  kata cinta dipasangkan dengan sifat –.  Pengamatan sederhana ini yang memastikan bahwa  seorang Upik dan jemaatnya  yang  memiliki  inti  doktrin cinta  dapat melakukan sifat –. Jika demikian, masih dipertanyakan  refleksi kebahagiaan  Upik  dalam zona imannya yang baru.

Apapun yang diucapkan  orang lain  kepada Upiktentang imannya yang baru, Upik seharusnya berkomitmen untuk mengatakan cinta kepada mereka sebagai refleksi  imannya. Kejelekan orang lain  tentu tidak akan menambah kebaikan diri Upik. Bahkan jika hal itupun terjadi bukanlah merupakan buah iman, melainkan dorongan  kedirian (ego). Lebih dari itu, hal itu merupakan depresiasi iman karena  hal itu mencerminkan bahwa iman Upik masih dipengaruhi oleh hal-hal lain tidak murni karena  cinta yang murni dan sejati kepada  Tuhan. Jika dianalogikan, iman Upik belum berlabuh secara kokoh karena  memberi peluang seandainya ada yang lebih baik dari imannya sekarang kemungkinan Upik juga akan berpindah ke lain cinta.

GRATIFIKASI

Dalam  Undang-undang No .20 tahun 2001, gratifikasi   dipersamakan dengan korupsi. Gratifikasi sendiri bermakna   pemberian  berupa  barang dan bentuk  lainnya kepada penyelenggara negara atau pegawai negeri sipil disebabkan oleh karena jabatannya.  Makna tersebut  memiliki  cakupan yang luas  yang mengundang  pembaca untuk mengomentari atau mengkritik. Persoalannya adalah bagaimana memisahkan  seseorang  misalnya   Lambok  yang sehari-hari  memiliki jabatan pada instansi  yang membangun infrastuktur dengan Lambok sebagai warga sipil yang memiliki tanggungjawab sosial.

Di komunitas  sosialnya Lambok  berjabatan sebagia  Ketua Pembangunan Gereja jemaat dimana  Lambok  menemukan  makna terdalam  dari  hidup. Untuk menyelesaikan  pembangunan gedung gereja tersebut  kompetensi  Lambok  sangat pas dengan latar belakang  pendidikan alumni salah satu   Universitas terbaik   di Eropa. Untuk membangun gereja tersebut  Lambok dan pekerja Gereja  menghimbau agar seluruh  jemaat  mendukung  dan berkontribusi secara finacial. Kemegahan rancang bangun gedung   tersebut  dipastikan memerlukan  biaya  di atas  Rp 1 milar. Lambok memiliki   satu putera yang sedang  kuliah di Bandung  dan seorang puteri yang manis yang masih  belajar di SMA 8 Jakarta. Mereka  tinggal  di rumah dinas instansi  Lambok di kawasan Pasar Minggu. Isterinya yang berasal dari  Tegal   sudah tidak  bekerja karena tersita waktu  melayani  suami dan anak-anaknya.

Di kawasan  kompleks  tersebut, selain  rumah instansi  terdapat  banyak rumah  baru  yang cukup  mewah. Sebagian  dari penghuni  rumah baru itu adalah  pengusaha  konstruksi yang sering ikut  dan menang tender di instansi  Lambok. Pada hari Minggu  1 Februari 2009, gereja  Lambok melakukan  acara khusus  berupa  pagelaran  gondang  dan tortor sebagai wadah untuk memberikan kesempatan bagi jemaat dan masyarakat  lain untuk memberikan kontribusi  dalam pembangunan gereja tersebut.

Dalam pelaksanaan acara  gondang dan tortor  tersebut, beberapa  tetangga  Lambok  yang  pengusaha konstruksi  memberikan  persembahan  uang  sebesar Rp.500 juta dan diserahkan langsung kepada Lambok. Mereka menjelaskan bahwa uang yang didonasikan  itu merupakan  pemberian dari  beberapa  rekan sekolega  mereka untuk menunjukkan bahwa  mereka sebagai  jemaat gereja  turut  mendukung  Lambok untuk menyelesaikan pembangunan gereja tersebut. Diharapkan  perayaan Natal 2009 nanti  gereja tersebut telah dapat merayakan Natal di gereja yang baru itu.

Pemberian  donasi tersebut  menimbulkan  kekuatiran dalam didri Lambok mengingat bahwa minggu lalu Lambok baru mendapat penjelasan  dari KPK mengenai bahaya  gratifikasi. Pertanyaan yang pertama muncul dalam benaknya  apakah  donasi tersebut masuk  gratifikasi atau  tidak. Yang jelas  donasi diberikan  mengingat  Lambok sebagai ketua pembangunan gereja. Donasi  tersebut  sejujurnya  tidak diberikan sebesar itu kalau Lambok  bukan ketua pembangunan.  

Monday, February 23, 2009

DOA ANAK BANGSA

OH TUHAN, AMPUNILAH KAMI,

SUCIKANLAH  PIKIRAN, HATI DAN JIWA KAMI

KAISKANLAH KESOMBONGAN

SAPULAH  EGO DARI DIRI KAMI,

SINGKAPLAH SELUBUNG DARI MATA KAMI

 

BUKALAH MATA HATI DAN ROHANI KAMI

TAYANGKANLAH  JEJAKMU DALAM VISI KAMI

PANCARKANLAH TERANGMU SEKELILING KAMI

ALIRKANLAH KUASAMU BERLABUH DI DALAM KAMI

 

MAMPUKAN KAMI BERCAHAYA BAGI KEGELAPAN

MAMPUKAN KAMI BERGUNA BAGI KEPUTUSASAAN

MAMPUKAN KAMI MENJADI ROTI YANG TERBAGI

MENGENYANGKAN  DAN MEMUASKAN KELAPARAN

EKONOMI RAKYAT : SATU RIBU (ONE THOUSAND)

Dalam ilmu ekonomi dasar, kebutuhan manusia (baca- raktyat) terdiri dari  kebutuhan pangan, sandang, pangan, jaminan hari tua. Kebutuhan tersebut digolongkan pada kebutuhan primer.  Secara strata, di atas kebutuhan primer masih ada  kebutuhan sekunder bahkan tertier. Namun untuk rakyat, memenuhi  kebutuhan lengkap juga sudah merupakan suatu prestasi. Di atas  60 % penduduk  Indonesia  umumnya  berada  pada  kelas rakyat. Dari jumlah itu, sebagian kecil saja rakyat yang  memiliki  kemampuan untuk memenuhi  unsur  pangan, sandang, papan, jaminan hari tua secara lengkap. Ada kelompok yang  hanya mampu memenuhi  pangan saja itu pun relatif banyak yang hanya sekedar  makan saja. Makanan yang   bergizi lengkap yang sering dikumandangkan lewat iklan televisi dan radio semakin jauh dari jangkauan. Kelompok lain semakin banyak yang kehilangan  papan (baca-rumah) akibat  semakin maraknya  bencana  alam atau  buatan manusia. Bahkan mereka yang dulunya memiliki rumah super sederhana  sekarang  tinggal di bawah tenda. Usaha untuk membangun rumah super sederhana tersebut  tidaklah dapat disamakan dengan cerita  loro jongrang yang membangun candi dalam satu malam. Mereka telah mengumpulkan  lembar demi lembar  uang ribuan bahkan recehan yang lebih kecil selama berpuluh tahun untuk mendirikan  sebuah pondok yang  setara dengan gubuk di pedesaan. Jerih payah  selama berpuluh tahun sirna diterpa  badai tsunami, banjir air, banjir lumpur bahkan kebakaran. Ironisnya, banyak  yang menamakan dirinya  tokoh rakyat memberi janji untuk  mengganti kerugian tapi  waktu sudah menghitung pergantian  siang ke malam; dari malam ke siang beribu kali, tetap saja  janji tinggal janji. Hati semakin teriris  mengetahui   mereka  kehilangan pangan juga, buah dari  kehilangan mata pencaharian mengikuti kehilangan papan.  Keadaan rakyat semakin bertambah parah ketika  mereka juga mulai kehilangan harapan terhadap masa depan.

Setiap  agama atau kebenaran selalu mengajarkan  agar umatnya memiliki harapan meskipun kondisi pahit getir. Kekuasaan yang diwakili  pemerintah juga  tidak henti-hentinya meniupkan slogan agar rakyat tetap berharap dan berharap.  Semakin kencang tiupan slogan, rakyat semakin menjauh dari  asa. Anarkis, merupakan  kata-kata yang  tidak diajarkan dalam agama  atau kearifan lokal, tapi justeru kata anarkis  semakin  genjar  bermunculan dalam perbincangan  dari pagi sampai sore, di kalangan rakyat  maupun kalangan elite. Kata anarkis seperti berkorelasi positif dan signifikan dengan tiupan slogan penguasa. Semakin  hari, tindakan anarkis bertebaran  di tengah komunitas rakyat.

Satu ribu (one thousand)

sejatinya, rakyat di Indonesia tidak perlu melakukan perbuatan anarkis atau memiliki perilaku anarkis. Indonesia dengan kekayaan alam yang super melimpah, penduduknya yang sudah berbilangan 200 juta  merupakan unsur yang cukup sebagai modal  pembangunan suatu bangsa. Selain super melimpah, kekayaan alam Indonesia juga  beraneka  ragam jenis dan sektornya. Satu hal yang patut disesalkan  adalah  hubungan antara kekayaan alam dan jumlah penduduk tidak seiring sejalan. Kekayaan alam dieksploitasi untuk memuaskan  perut  (konsumtif) saja  dan mengabaikan  kecerdasan  dan kearifan  (human investment). Pendidikan seharusnya sudah berpacu didepan slogan dan perut, tapi selama berpuluh-puluh tahun anggaran pendidikan  relatif kecil sehingga  prestasi atau mutu pendidik dan pendidikan Indonesia semakin melorot. Sayangnya, selain pemerintah tidak ada sektor lain yang  memiliki  visi untuk memajukan pendidikan.

Pendidikan menjadi kunci karena  pendidikan akan menjadi  jawaban terhadap  cara untuk meningkatkan harapan didalam diri rakyat. sudah menjadi budaya umum di Indonesia, bahwa  papan, sandang  boleh miskin, tapi  sekolah tetap jalan terus. Bahkan rakyat yang  kehilangan papan dan pangan pun tetap  berjibaku untuk mendorong pendidikan anak-anaknya. Satu hal yang menjadi  visi dan misi  keluarga  adalah agar kelak  si anak memiliki masa depan yang lebih baik dari  kehidupan sekarang. Sayangnya, nasib  tetap tidak berpihak pada rakyat. Kala rakyat sulit memenuhi papan dan pangan, beban bertambah lagi  dengan semakin  hari  biaya  pendidikan semakin mahal  bahkan seperti  pesawat yang tinggal landas, mendaki  dengan lajunya.  Sekali lagi, slogan  dan slogan disertai janji-janji  menjadi  bumbu orasi pada saat pemilihan  kepala daerah (PILKADA) dan pemilihan kepala negara (PILKANE). Pil-pil  tersebut  tidak mampu memberikan ketentraman rakyat, bahkan sebagaimana  salah makan pil, rakyat bertambah pusing.  

Rakyat yang sakit pusing, harus diterapi  secara benar. Salah terapi berakibat  langsung dan tidak langsung  pada semakin parahnya  kepusingan. Untuk terapi  yang benar  perlu diterapkan  ekonomi  rakyat  yang nyata-nyata merakyat.

Di tengah rakyat  telah  bermunculan  konsep  ekonomi rakyat  bak  jamur  di tengah hujan. Anehnya, semakin banyak konsep, relasi terhadap perbaikan nasib rakyat semakin jauh. Terakhir, dengan sedikit memaksa, pemerintah kembali menggulirkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi selain menuai kritikan program BLT ini hanya  menambah rakyat berfikir  sesaat dan tidak jarang yang sesat karena  realitanya rakyat  tetap melarat.

Meskipun telah banyak konsep ekonomi rakyat di tawarkan, namun  dengan  semangat  yang mulia,  penulis juga menawarkan sebuah konsep ekonomi rakyat  yang disebut dengan  Pendidikan atau Modal usaha   Satu Ribu yang selanjutnya disingkat Satu ribu.

Konsep satu ribu, difokuskan untuk mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan.  Tujuan utamanya adalah memberikan bantuan pendidikan bagi anak bangsa yang memiliki  kemampuan untuk bersaing di tingkat international.

Siapakah mereka?

Mereka adalah tunas harapan bangsa yang terpilih secara alamiah dengan menunjukkan  bakat dan keterampilan untuk menjadi  manusia unggulan di tengah dunia  persilatan  yang  dengan  sukarela  akan mengabdikan diri dan kemampuannya untuk  mengembangkan potensi kekayaan alam  tanah air untuk meningkatkan  harkat dan martabat  bangsa ditengah  kehidupan bangsa-bangsa.

Mereka adalah putera-puteri terbaik  dari  nusantara yaitu :

1.suku Aceh, Batak, Minang, Palembang.

2. Suku Sunda, Jawa, Bali. Kalimantan,

3. Suku  Makasar, Manado, Ambon, Rote

pengelompokan 12 suku ini hanya  contoh saja, tanpa  membatasi  suku lain.

Bagaimana seleksi mereka?

Masing-masing suku memilih minimal  satu orang   yang akan dijagokan setiap tahun, sehingga  setiap tahun  terdapat minimal 12 orang yang akan didukung untuk memasuki pendidikan di dunia  luar.

Pendidikan yang akan dibantu mulai  program S1 sampai dengan S3 dengan program yang sesuai dengan potensi sumber daya yang menonjol di daerah masing-masing. Program bantuan pendidikan selama 12 tahun.

Siapa sponsor mereka?

Sponsor utama para anak bangsa tersebut adalah  rakyat itu sendiri. Caranya?

Setiap satu orang  putera bangsa yang akan diutus, didukung oleh  minimal  satu ribu  orang. Dukungan tidak dibatasi  dari suku masing-masing, dianjurkan lintas suku.

Setiap satu orang dari satu ribu, memiliki komitmen untuk mendukung putera bangsa tersebut selama 15 tahun. Komitmen dibuktikan dengan sikap hidup sehari-hari minimal setiap kali  makan, maka  wajib menyisihkan  uang satu ribu rupiah. Kalau  makan sehari 2 kali, maka  sehari dia mengumpulkan 2 ribu.

Walaupun miskin rakyat  di Indonesia  tetap saja  mampu makan. Setiap orang yang makan, berarti memiliki kemampuan untuk investasi pada pendidikan (human investment).

Apabila  kelompok satu ribu komitmen untuk memberikan satu ribu rupiah setiap makan atau dua ribu rupiah setiap hari, maka dalam sebulan sudah menyisihkan uang enampuluh ribu rupiah. Jika dikalikan dengan satu ribu orang, maka sebulan dapat mengumpulkan Rp.50 jt – Rp.60 jt.

Untuk membiayai    seorang  S1 di MIT atau Harvard atau Princeton atau Yale tidak sampai Rp.50 jt perbulan.

Kalau penduduk Indonesia yang memiliki kemampuan makan 2 kali mencapai  100 juta, maka dalam sebulan dapat mengumpulkan uang Rp.6.000.000.000.000,- ( 2.000 x 30 x 100.000.000.).

Apabila  dikelola dengan baik, maka uang itu akan berlipat ganda dan sangat cukup untuk menjadi modal bagi  keunggulan pendidikan anak-anak bangsa.

Manajemen satu ribu  tersebut tidak memerlukan biaya over head yang besar karena  jika dikelompokkan dalam kelompok satu ribu  maka  manajemennya akan lebih mudah ditangani  masing-masing kelompok.

Selain biaya pendidikan, uang kelompok satu ribu sangat cukup menjadi modal usaha bagi  anak bangsa untuk dikembangkan sesuai dengan keahliannya.

Melihat  kenyataannya  di Indonesia, dari 12 suku tersebut di atas, hampir dipastikan masing-masing suku dapat membentuk masing-masing  100 kelompok satu ribu sehingga jumlah kelompok pertama sebanyak 1.200 kelompok atau  tahun pertama  1.200 orang putera terbaik bangsa  dapat  didukung ke universitas terbaik di dunia.  Tahun berikutnya akan tumbuh  kelompok baru dan mereka akan mendukung generasi baru.

dalam kurun waktu 15 tahun maka  terdapat 100 doktor dari berbagai bidang yang memiliki keunggulan akan menjadi tunas harapan untuk membangun daerah masing-masing. Apabila menggunakan program S1 dalam negeri, maka waktu untuk menambah jumlah doktor  dapat dipersingkat dan biayanya dapat menambah jumlah anak bangsa yang akan dibiayai.

satu kata kunci, maukah kita? jawabnya simple dan tidak berbiaya  mahal. Mau.